
Pagi ini Hira sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
Rio duduk di kursi meja makan menunggu Hira sang istri selesai mengambilkan nasi dan lauk di piringnya.
Sayang kok pakaiannya begini sih yang, bikin lapar yang lainnya," kata Rio pada istrinya dan tangan mulai nakal.
Hira tertawa. " Makan, Dadd! kita akan jemput Bilal, 'kan? Kalau Daddy nakal gak jadi jemput Bilal kita nanti. Bisa marah dia.
Rio terkekeh, "Kamu selalu saja menggoda daddy sayang padahal Daddy sudah rapi nih."
Mereka makan dengan saling bergurau, beberapa kali tangan Rio mulai nakal. "Sayang nanti kalau ada Bilal jangan begini loh yaa, di kamar pun jangan kalau pas hanya kita saja di kamar dan dalam keadaan terkunci.
"Iya Dad, Hira gak akan nakal, kalau ada Bilal," kata Hira sambil tertawa
Setelah sarapan Hira segera berganti pakaian dan bersiap-siap pergi ke Singapura menjemput anak sambungnya.
"Sayang sudah siap belum, nih?" tanya Rio pada istrinya.
"Maaf, ya sayang, Daddy gak bisa kasih cinta yang menggebu seperti remaja pada umumnya, karena Daddy juga punya anak yang harus dijaga, mentalnya jangan sampai ia melihat sesuatu yang belum waktunya dilihat dan di pahami. Ini lah Hira resikonya menikah dengan seorang duda seperti Daddy ini, di rumah ini kita tidak sendiri di sini, sayang," kata Rio pada Hira.
"Iya, aku paham, Dadd! Ayo, berangkat," kata Hira sambil menggandeng suaminya itu.
"Benar loh Princees," kata Rio pada istrinya itu mereka naik mobil Bandara Atang Sanjaya.
Dengan kecepatan sedang, dia mengemudikan mobilnya, perjalanan selama saja jam mereka pun ke Bandara Atang Sanjaya, setelah sampai mereka pun menitipkan mobil mereka diarea parkir bandara dengan membayar tarif inap parkir mobil untuk beberapa jam atau satu hari setelah itu merekapun masuk kedalam terminal keberangkatan lalu mereka masuk kedalam ruang pemeriksaan kemudian mereka masuk kedalam pesawat dan duduk di satu area.
Mereka memasang sabuk pengaman dan tak lama kemudian pesawat pun tinggal landas.
__ADS_1
Mereka menempuh perjalanan selama dua jam setelah itu mereka pun mendarat di bandara internasional Singapura.
Setelah mereka turun dari pesawat, mereka naik taksi menuju rumah Dantai perjalanan selama satu jam akhirnya sampai mereka berdua mengucapkan salam dan dijawab oleh Dantai dan Anta yang sedang berkumpul di ruang tamu ada Harlan, ira, Andi, Rena, Emir dan Billal
"Aku tebak yaa, Daddy sama mamud lupa ambil Billal kan sudah pulang ke Bogor dulu habis itu ke sini," kata Billal sambil menatap keduanya
Mereka terkekeh," Maaf sayang, mami yang lupa," kata Hira pada Bilal.
"Mana ada lupa cuma mami Bilal ketinggalan? Gak ada, yang ada itu kalian berdua lupa sama Bilal," kata Bilal sambil mengerucutkan
"Ya, maaf mungkin kamu di sini ada Emir jadi kamu kerasan tinggal di sini," kata Rio.
"Panggil aku Mas Emir Om," kata Emir pada Rio.
Beneran nih aku harus panggil Mas Emir?" tanya Rio pada Dantai sambil menggaruk kepalanya dan Dantai hanya mengangkat kedua bahunya.
Rio mencium punggung tangan mereka sambil menggaruk rambutnya pun menjawab,"Baik kek." Mereka pun tertawa.
Kamu juga harus panggil Nenek pada kami," kata ira dan Rena
"Baik, Nek," jawabnya sambil mencium punggung tangan mereka.
Mereka tertawa. "Kita mimpi apa yaa Mam, di panggil kakek sama Rio dan kamu Dan, gimana rasanya di panggil dengan sebutan Ayah mertua sama sahabat kamu sendiri," gurau Andi.
"Aku sendiri juga bingung nih Om panggil Om apa kakek. Begitu juga sama Dantai, panggil Ayah apa sebut nama saja karena saya cinta sama anaknya relah aja deh jadi bingung begini," kata Rio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue sebenarnya gak rela punya mantu seusia gue berhubung anak gue demen ama lo ya terpaksa gue ijinkan sama lo," kata Dantai.
__ADS_1
"Jangan begitu dong, Dan, jadi gak enak hati," kata Rio sambil berjalan lesu dan duduk di sebelah sahabatnya itu.
Dantai tertawa. "Gak enak hati apa Yo? Paling ya sudah kamu bobol kok gak enak hati itu loh."
Rio tertawa sumbang semua meledeknya, hingga membuatnya tak berdaya.
"Si Hira juga begitu cinta banget sih sama sih cecunguk ini, masak selesai akad langsung aja tuh nyeret si Rio pergi ninggalin kekacauan yang mereka buat, jadi gak enak sama tetangga yang datang, Pi, sudah gitu nitip anak lagi, manggilnya juga kakek lagi," jelas Dantai pada Andi.
Andi tertawa. "Sabar Dan, gimana lagi, aku kakek sudah gak heran dari dulu Hira yaa gak bisa lepas dari pesona Rio, gak tahu apa yang di lihatnya sebagai kakek aku sih pasrah saja, bagaimana tidak Hira sudah tidak bisa dipisahkan lagi sama dia, sampai kelakuannya itu melebihi ibunya olahraga extreme apa saja yang dia ikuti, untuk bisa melupakanmu Yo," kata Andi.
"Betul itu, Dan?" tanya Rio
"Aku gak seberapa tahu Yo, dia itu tinggal di asrama dan semua show yang handle juga mami di rumah gak keliatan kalau dia suka hal-hal yang menantang, kalau di rumah diam, anteng ternyata di luar bikin gedek, sekarang dia istrimu Yo, didik yang baik," kata Dantai pada Rio
"Baik, Ayah mertuanya laksanakan," jawab Rio terkekeh, Dantai hanya membuang nafas dengan kasar,
"Hira gak nakal kok Yah, percaya deh," kata Hira sambil memeluk ayah itu.
"Ayah gak percaya Hira, untung yang kau goda itu Rio yang masih teman ayah kalau bukan bagaimana?" kata Dantai penuh kekecewaan pada putrinya itu.
"Ayah jangan begitu, membuat Hira gak enak hati, iya Hira ngaku salah, tapi semua yang Hira lakukan itu karena Hira takut Ayah gak ngasih ijin untuk bisa menikah dengan Om Rio, Hira bahkan gak bisa mencintai pria lain selain Om Rio, Hira takut karena usia Om sama dengan Ayah," kata Hira masih bergelayut manja di pinggang sang Ayah.
"Kalau kamu bilang baik-baik sama Ayah ya jelas pasti akan ayah kabulkan, karena memang tidak bisa dicegah lagi, Ayah tahu sedari kamu kecil, Ayah tahu bagaimana perasaanmu cuma Ayah jadi gak enak sama Rio, seolah -olah aku tidak bisa mendidikmu, Hir," kata Dantai pada putrinya dengan tatapan sayang.
"Tidak, Dan, aku tidak pernah memandang mu seperti itu, kamu Ayah yang hebat, aku yang salah, harusnya saat Hira datang ke rumah aku langsung menelpon mu," kata Rio sambil menunduk.
"Sudah, tidak usah di permasalahkan lagi karena sudah terjadi, yang terpenting sekarang kamu Hira harus bisa membatasi pergaulan dan aktivitas yang memang akan melibatkan perasaan Rio," kata Andi pada cucunya itu.
__ADS_1
"Baik, kek, laksanakan," kata Hira terkekeh.