Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Pulang dari rumah sakit


__ADS_3

Pak Man yang duduk dibelakang kemudi segera menjalankan innova putih itu membelah jalanan kota malang, tepat jam delapan dia meninggal rumah sakit,


"Pak Man, Apa Pak To sudah kembali ke Surabaya?" tanya Dantai pada Pak Man


"Sudah, Kemarin pulangnya naik bis, Den," katanya sambil terus mengemudi.


"Gak nunggu mobil selesai di perbaiki?" tanya Dantai.


"Perbaikannya agak lama, Den. Pak To juga ditunggu tuan Harlan dan nyoya Ira di Surabaya," jawab Pak Man.


"Kemarin baru sampai, Den," jawab Pak Man.


"Oh, aku kira pak To nunggu mobilnya selesai di perbaiki," timpal Dantai.


"Bagaimana dengan Rio, apa dia sudah kembali ke Surabaya?" tanyanya lagi


"Belum Den, Non Hira gak bolehin," jawab Pak Man


Dantai menghelah napasnya. "Aku gak tahu Bun, bagaimana membuat Hira mengerti kalau Roi sudah punya kehidupan dan kesibukan sendiri, kemarin sebenarnya aku meminta tolong pada Aril agar ia datang kemari tetapi dia tidak bisa, karena Salva pada waktu itu juga melahirkan, hingga Aril meminta tolong kepada Rio akibatnya, Hira memanfaatkan hal ini, untuk menuruti keinginan itu, dan Rio tak bisa menolaknya," keluh Dantai pada Anta.


"Nanti akan ku nasehati, aku pun tidak tahu apa dia mendengarkanku atau tidak karena, aku tidak terlalu dekat dengannya, Yah. Kau lah yang selama ini selalu disamping mereka sedangkan untuk mengurus diriku sendiri saja sangat susah," katanya sambil menatap suaminya itu.


"Nasehati saja, jika dia tidak bisa menerima nasehatmu, nanti aku yang akan menegaskannya.


Mobil sudah masuk kedalam pelataran halaman Vila yang ia tinggali untuk liburan saat ini, mendengar deru mobil di luar Hira langsung menghambur keluar, ia ingin segera bertemu Bundanya.


Dari kejauhan terlihat Anta merenggangkan tangannya siap menangkap tubuh kecil putrinya yang menyambut kedatangannya secara spesial.


Hira dengan riangnya berlari menghampiri mereka dan ketika sudah lebih dekat ia melompat menghambur kepelukan sang Bunda. Anta menangkapnya dan mengangkat tinggi lalu berputar beberapa saat kemudian diturunkannya, sang putra yang berdiri tidak jauh dari mereka mengajukan protes. "Bun, aku juga ingin," mohonnya sambil mengerucutkan bibirnya, Anta kembali merentangkan tangannya dan Emir siap-siap berlari dan menghambur ke dalam pelukan Bundanya, kembali Anta menangkapnya dan berputar sesaat, Rio yang mengikuti mereka tersenyum berjalan dengan santai menghampiri mereka, saat melihat kebahagiaan mereka.


Roi memeluk sahabatnya itu. "Apa kau sangat bahagia, terlihat auramu berbeda Dan, kau terlihat lebih bersinar dari pada dulu," kata Rio

__ADS_1


"Lalu kamu, bagaimana? apa kau juga bahagia?" tanya Dantai


"Apa bedanya bahagia atau tidak, toh aku tetap tersenyum padamu, anggap saja aku bahagia," katanya tertawa


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu di Surabaya, apa kau tidak pulang?" tanyanya pada Rio.


"Kau sedang mengusirku, Dan?" tanyanya sambil terkekeh.


"Tidak, hanya saja kau sudah punya keluarga, Ri. Seharusnya kau menemaninya, 'kan?"tanya Dantai


"Tanyakan putrimu, Dan!" kata Rio


"Jangan kau turuti Roi! Jika sibuk pulanglah! Aku akan bicara pada Hira nanti, apa pun perasaanmu padanya, kau tetap harus menerima konsekuen yang ada," kata Dantai


"Baiklah, Dan," jawab Rio


"Hai, Princess. Om harus mengurus perusahaan di Surabaya, harus pulang hari ini lain kali Om akan datang kemari lagi," katanya lembut.


"Betul Princees, bukankah Om kesini membantu Ayahmu, karena Om Aril tidak bisa ke sini, dan sekarang Bunda sudah sembuh Ayah juga sudah pulangkan, jadi akan meneruskan kembali pekerjaan Om, Karyawan bergantung hidupnya dengan perusahaan Om," kata Rio pada Hira.


"Baiklah, Hira akan ikut pulang ke Surabaya, kalau Ayah dan Bunda tetap di sini, gak apa-apa toh di sana ada kakek dan nenek," katanya sambil mengerjabkan matanya.


Rio menoleh ke Dantai sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal, tatapan memohon untuk minta dibantu terlepas dari rengekan Hira.


Dantai menarik nafas yang panjang, lalu berjalan kearah putrinya. Besok kakek dan nenek akan ke sini, dan tentu tante Salva akan sangat sibuk, ia punya Bayi dan juga Izyan masih sangat kecil, tantemu tidak akan sanggup untuk mengurusmu dan Izyan bersamaan," jawab Dantai.


"Aku tak akan merepotkan tante Salva di sana, kan ada bik Mirna juga kalau aku mau apa-apa, aku tinggal minta Bik Mirna," kata Hira kukuh dengan pendiriannya.


"Hira bukankah kita sudah bicara ini sebelumnya. kalau Om Rio sibuk kamu tidak boleh memaksa," kata Anta.


"Bun, aku tak akan ganggu Om di sana, aku akan duduk dengan tenang," katanya pada Anta.

__ADS_1


"Hira!" bentak Anta sedikit keras. Hira tertunduk tajam menatap rerumputan dan air matanya menetes, kemudian dia berlari kedalam rumah menuju kamarnya.


Anta menghela napas, lalu menoleh ke arah Rio. "Maaf Yo," ucap Anta pada Rio.


"Tidak apa-apa, Begini saja biar hari ini aku senangkan hatinya, besok baru kembali," katanya sambil menatap kedua sahabatnya itu.


"Baiklah,Yo.Terserah kamu saja, maaf merepotkanmu," jawab Dantai.


"Tidak apa-apa, Dan. Aku akan menyusulnya," kata Rio pada Dantai.


Sementara Hira yang marah berlari menaiki tangga tanpa peduli pada tatapan Kakek Andi dan Nenek Rena, yang mempertanyakan dirinya.


Rio bergegas menyusul Hira, Andi menoleh. "Ada apa?" tanya Andi pada Rio


"Tidak apa-apa, hanya marah pada mereka," katanya dengan jempol jarinya menunjuk Anta dan Dantai tanpa menoleh sambil berjalan menaiki tangga.


Dantai dan Anta berjalan ke arah Andi dan Rena, mereka mencium punggung tangan mereka lalu duduk di kursi meja makan, bergabung dengan mereka.


"Nenek mana kata ikut kesini?" tanya Anta


"Ya, ada di kamar," kata Andi pada anaknya itu.


Anta pun pergi ke kamar Neneknya itu.


Rio sudah sampai di depan kamar Hira, ia mengetuk pintu kamar itu sambil memanggil nama gadis itu. "Hira, tolong buka, sayang. Ini Om Rio,"


terdengar suara langkah kaki berjalan kearah pintu tak lama kemudian terbuka menampakkan gadis kecil di hadapannya tengah menghapus air matanya. Rio berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Hira. "Hai, Princess. jangan menangis jelek tahu," ejek Rio pada Hira yang membuat gadis kecil itu tertawa.


"Om memberikan tawaran yang menarik untukmu, hari ini kita bersenang-senang, kemanapun kau akan pergi akan Om sampai malam, tetapi besok Om harus pergi dan Hira harus menurut dengan apa yang di katakan Ayah dan Bunda, atau Om berangkat sekarang dan Hira harus menurut pada mereka, bagaimana?" tanyanya pada Hira


"Baiklah, dari pada tidak sama sekali," katanya pada Rio

__ADS_1


"Nah sekarang ganti pakaianmu dan bawa dua pakaian untuk berganti di tas kecilmu Om tunggu di mobil," kata Rio sambil mengedipkan sebelah matanya membuat gadis itu terkekeh.


__ADS_2