Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Bertemu Maera


__ADS_3

Dantai menjalankan mobilnya kembali, Sari yang ada di bangku tengah senyum-senyum sendiri, "Jadi iri aku sama non Anta yaa..., di puja-puji di cintai, sampai lupa den Dantai kalau aku ada sini, berasa seperti lihat drama ikan terbang," katanya sambil terkekeh.


Dantai tertawa," Maaf ya mbak Sari, kalau bikin baper, nanti mbak Sari ketemu yang manis-manis." ucap Dantai.


"eeh!" manis-manis apa?" tanya Sari sedikit keras.


"manis-manis resah," kata Dantai yang mengundang gelak tawa Anta," kayak dukun aja kamu mas nebak-nebak mbak Sari bakal ketemu siapa?"


Mobil pun berhenti di halaman rumah besar sederhana yang di jadikan rumah bagi anak yang malang dan tak beruntung. Dantai keluar dulu," Mbak Sar, tolong panggilan anak-anak untuk bantu bawa ini." Anta berdiri di depan pintu mobil depan," Sebentar yang berdiri di situ dulu, jangan kemana-mana," kata Dantai sambil menurunkan barang yang akan di serahkan pada yayasan yatim piatu kasih Bunda.


Beberapa anak laki-laki berlari mendekati mobil mereka di belakangnya ada Sari dan seorang pria yang usia di atas Dantai, Pria itu melihat Anta terkesima melihat kecantikannya, dan mata yang menatap kosong itu membuat daya tarik, tersendiri.


"Tolong dek ini di bawah kedalam", perintah Dantai pada anak laki-laki yang sudah agak besar, sambil melirik pria itu yang memandang Anta tak berkedip. Seorang gadis kecil berusia 6 tahun berlari menabrak Anta yang berdiri di depan pintu," Kak Anta, kak Anta sudah sembuh, ayo ikut aku melihat bunga, bunganya sedang bermekaran semua," katanya sambil menarik tangan Anta mengajaknya berlari, Dantai yang melihat itu pun terkejut, ia menghentikan pekerjaannya dan menyuruh anak untuk menurunkan dan membawanya ke dalam. Dantai pun melangkah lebar menyusul Anta, karena gadis itu berlari begitu cepat membuat Anta kelabakan membuat kaki terantuk batu dan terhuyung ke depan dan akan terjatuh, tangan Dantai sigap meraih perut Anta dan memeluknya dari belakang agar tak terjatuh akan tetapi membuat gadis kecil itu tertarik ke belakang dan jatuh terjengkang.


"mas!" panggil Anta.


"Hem, kau tak papa kan? tanya Dantai dan Anta tersenyum. Pria yang berada di samping Sari tersenyum kecut ketika keinginannya untuk menolong tak terkabul.


Gadis kecil itu menatap Dantai dengan mata berkaca-kaca, Dantai berjongkok di ikuti Anta, "Gadis kecil cantik, kaki kak Anta sudah sembuh, tapi matanya belum jadi jangan berlari nanti kak Anta jatuh." kata Dantai dengan mengusap kepala gadis kecil itu.


"Betulkah? tanyanya pada Anta dan Dantai sambil matanya menatap dengan cerah.


"Maaf, Kak An," katanya sambil memeluk Anta.

__ADS_1


"Kakak siapa? tanya gadis kecil itu pada Dantai.


"kakak ini sayangnya kak Anta yang nomer satu, dan gadis kecil cantik ini nomer 2 dan dapat 2," kata Dantai pada gadis kecil itu.


"Apa nomer 2 dan dapat 2 tanya gadis itu ingin tahu, binar matanya sangat indah.


"Nomer 2 dari kak Anta dan nomer 2 dari kak Dantai," kata Dantai sambil tangannya melakukan tos pada pada gadis kecil itu. Gadis itu pun tak jadi menangis, lalu tertawa.


"Ok! mari kita lihat bunganya kata Dantai sambil mengendong Anta. Anta kelabakan," Mas, turunkan aku!" katanya sambil memukul dada Dantai," Baiklah sebagai gantinya naik ke punggung ku," perintah Dantai, Anta pun mengangguk, Dantai menurunkan Anta lalu berjongkok di depannya, Anta pun menurutinya. Dantai berjalan beriringan dengan gadis kecil itu sambil mengendong Anta di punggungnya.


Sari dan pria itu menghampiri Dantai.


"Den Dan, non Anta tidak apa-apa kan? tanya Sari pada Dantai.


"Kalau terluka biar saya obati, saya Dokter Rizal," kata pria itu sambil memperkenalkan dirinya.


"Trimakasih dokter Rizal calon istri saya tidak terluka, jangan memandang orang yang bahkan hatinya saja tidak menoleh ke anda, perhatikan orang yang selalu menatap anda bagaimana mana pun ke anda," kata Dantai sambil melirik Sari.


"Ayo gadis kecil kita lanjutkan petualangan kita," kata Dantai sambil melihat gadis kecil itu.


"Namaku Maera kak Dantai."


"Ok! kita lets go Maera! kata Anta menggandeng tangan gadis kecil yang tertawa-tawa gembira.

__ADS_1


Mereka pun sampai di taman bunga yang indah di pekarangan belakang.


Sementara itu Rizal mendengus kesal," Siapa dia masih bagusan aku seorang dokter?"


Sari tertawa nyaring," Ya..ya...kau memang tak sepadan dengan den Dantai dia kuliah Fakultas Kedokteran NUS Yong Loo Lin Singapura, harusnya non Anta juga kuliah di sana, karena kecelakaan itu membuat ia tak jadi pergi bersama den Dan, den Dan hilang ingatan tapi tetap mencari Non An, jadi! kak Rizal benar-benar tak sepadan, ooo iya den Dan itu pelukis, lukisan laku hingga ratusan bahkan milyaran untuk satu lukisan." kata Sari dengan hati sedih dan sebal meninggalkan dokter Rizal. Rizal pun menatap kepergian Sari dengan tatapan nanar. Yah gadis itu yang hidup bersama di pantai asuhan dengannya selalu perhatian padanya, 2 tahun yang lalu ketika ia pergi bertugas, ia melihat Sari menangis membuat hatinya pedih. ia menghela nafas lalu menyusul Sari.


Anta dan Dantai serta Maera bersenda gurau," Ayo siapa yang mau bercerita sebagus apa taman ini sama kak Anta? tanya Dantai sambil membatu Anta untuk duduk di bangku taman. Maera pun berteriak kencang", Aku...Aku."


Maera bercerita panjang lebar tentang taman tentang ia menanam bunga-bunganya, sambil kakinya tak pernah bisa diam.


"Boleh kak Dan petik bunga mu satu,"


"Tentu kak, buat kak Anta kan? tanya pada Dantai. Dantai tersenyum dan mengangguk, di petiknya bunga mawar merah di sematkan di rambut Anta," Cantik!" katanya sambil tersenyum.


"Hai kalau kamu di sini kamu tak akan dapat hadiah dari kak Anta," kata Dantai pada Amera.


"Gak papa kak Dan, Maera lebih senang bersama kak An," kata gadis kecil itu.


"Kamu punya buku gambar dan pencil mau di lukis kak Dan bersama Kak Anta." tanya Dantai pada Maera.


"Mau mau, Sebentar ya kak akan Maera ambilkan." ia berlari ke dalam rumah tak lama kemudian dia kembali membawa buku gambar dan di berikan pada Dantai," Ok! siap peluk kak Anta nya dan senyum ya..," Maera tersenyum dan mengangguk.


Dantai mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas gambar dengan sangat cepatnya tak lama kemudian lukisan itu selesai, Maera menatap takjub lukisan Dantai dia tersenyum manis lalu mendaratkan bibir mungilnya ke pipi Dantai, trimakasih kak Dan, Dantai melotot tak percaya.

__ADS_1


"Maaf Mae kak An, aku mencium kak Dan begini," katanya sambil mencium pipi Anta, mereka pun tertawa.


__ADS_2