
Rio menghela nafas memandang tubuh polos istrinya. "Aku sangat mencintaimu Hir, tangannya membelai lembut di sela-sela keindahan dari tubuh sang istri dan bibirnya pun mulai mengembara mencari kesenangan di dalam tubuh itu.
Hingga berapa saat saling memberikan sentuhan kehangatan sampai akhirnya mereka bergelut dengan peluh dan hasrat yang menggelora dengan cuaca yang begitu sejuk dalam kemesraan mereka.
Hira adalah sosok wanita yang dinginkan sejak dulu di hatinya mereka saling berbunga, "Jangan katakan apapun cukup nikmati saja kebersamaan karena aku selalu menginginkan dirimu
"Kata tak akan cukup untuk ungkapkan kepadamu, Hira.
Perasaanku ini tetap sama seperti yang dulu, tataplah aku dan carilah di kedalaman hatiku, di sana ada namamu. Kini aku ingin memberikan ke indahan cinta padamu, Hira. Tubuhku ini bukan yang pertama untukmu tapi cintaku padamu selalu terjaga. Hati ku ini sudah kau genggam lama, sayang," kata Rio menatap kekasih hatinya dengan tatapan berkabut.
Rio terus berbicara sambil memberikan keindahan istrinya meraih gairah cinta asmara dan hasrat yang menggelora menjadi satu menimbulkan gejolak rasa yang begitu memabukkan.
Cukup lama dia bermain di atas tubuh istri kecilnya dengan sangat lembut, hingga mencapai puncak kenikmatan yang amat sangat yang membuatnya merasa puas lalu mengecup kening sang istri dan berbisik, "Aku selalu menyukai semua yang ada di dirimu Hira, aku mencintaimu Hira sangat mencintaimu."
"Om, aku juga sangat mencintaimu sejak dulu," kata Hira
Rio menjawab, "Aku tahu kalau dia kau sangat mencintaiku Hira aku pun sama kau adalah kelemahanku."
"Kau sangat cantik membuatku selalu ingin melakukannya, terus dan terus," katanya kembali.
Rio pun bangun dari tubuh istrinya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu beberapa menit kemudian Ia pun keluar kembali dengan balutan handuk di tubuhnya batas pinggangnya buliran air membasahi dada bidangnya dengan pahatan tubuh yang indah membuatnya tampak sangat mempesona di hadapan istri.
Hira melihatnya dan dan menelan salivanya sendiri dia terpaku menatap suaminya yang berdiri dekatnya.
Tanpa bicara Rio menarik selimut istrinya dan berkata, "Cepat mandilah Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, Apa perlu aku mandikan."
__ADS_1
"Boleh, kenapa Om tidak mengajak mandi coba kan bisa pegang-pegang dada Om." kata Hira
Berbeda dengan Jasmine, Hira berjalan dengan santainya dengan tubuh polosnya menghampiri suaminya dan menggodanya membuat Rio tertawa melihat ulah istri kecilnya itu, mencapai pintu kamar mandi, tanpa menguncinya dia masuk dalam bathub lalu menikmati kehangatan air hangat dan aroma terapi.
Beberapa saat ia menikmati sentuhan hangat dari air yang ada dalam bathub. Melepaskan semua rasa lelahnya setelah bergumul dengan suaminya yang terbilang matang itu.
Rio tergoda untuk menghampiri istri kecilnya itu, dia berjalan menuju kamar mandi dan melepaskan handuk yang menutupi bagian tubuhnya ia masuk dalam bathub, lalu menyentuh tubuh istrinya dengan busa sabun sambil berbisik, "Ku penuhi apa yang kau inginkan tadi."
"Om!" panggil Hira dengan mendongakkan wajahnya dan tersenyum.
Kemesraan pun terjadi pada mereka dengan deraian tawa diiringi kegiatan saling menyabun dan memberikan kesenangan satu sama yang lainnya. Rio merasakan sesuatu yang benar-benar lain, dulu sewaktu bersama Jasmine hatinya dan keinginannya tidak meledak-ledak.
Sekarang begitu berbeda karena cintalah mereka saling memuja satu sama yang lainnya, saling mengagumi dan saling menyentuh tubuh dan hati mereka.
Setelah puas bermain air bersama dengan istrinya Rio keluar dari bathub dan membilas tubuhnya lalu kembali memakai handuknya.
"Iya Om," jawab Hira sambil tertawa.
"Hir, jangan panggil Om, panggil Daddy, kesannya Daddy seperti Om-om senang yang sedang berbuat mesum dengan gadis remaja padahal kau istriku," kata Rio yang sedikit jengkel dengan ulah istrinya itu yang tak mau mengubah panggilannya pada dirinya.
Hira tertawa. "Baik Daddyku, sayang."
Hira pun segera menyelesaikan mandinya, dia tak mengira begitu cepatnya ia berubah seratus dari seorang remaja yang energik dengan berbagai kegiatan yang memacu andrinalin-nya.
Setelah itu pun keluar dari kamar mandi dengan balutan bath robe, Rio menoleh pada sang istri dan tersenyum.
__ADS_1
pria yang telah berganti pakaian dengan outfit santai itu melambaikan tangannya pada istrinya.
"Kemarilah sayang duduk sini!" sambil menepuk bagian sofa yang kosong.
"Sebentar Dad, aku mau ganti pakaian dulu," kata Hira sambil mengambil baju dalam koper, melihat baju-baju yang baru ia pun tertawa. Hal itu mengudang perhatian Rio.
"Ada apa, sayang?" tanyanya
"Tidak, cuma ingat waktu di hotel kemarin, aku tidak membawa pakaian yang bisa di pakai untuk keluar kamar, malah yang ku bawa pakaian dinas semuanya," katanya terkekeh.
Rio tertawa. "Kau terlalu terburu-buru sayang, bahkan aku sampai malu pada ayahmu dan tetangga-tetangganya baru saja ku ucapkan hijab kau sudah menyeretku pergi."
Hira tertawa. "Habis aku sudah penasaran, apalagi teringat tubuh om yang bagus, apa om selalu berolahraga untuk membentuk otot? Apa itu sebelum denganku Om pamerkan ke wanita lain?" tanya Hira.
"Kenapa?" Apa kau cemburu?" tanya Rio menyipitkan mata
"Tidak, cuma gak rela saja tubuh Om yang bagus di nikmati wanita lain," kata Hira sambil berganti pakaian di depan Rio.
Rio tertawa. "Aku kan memang sudah di nikmati wanita lain Hira sebelum kamu," kata Rio santai
"Siapa?" tanya Hira pada Rio.
"Siapa lagi kalau bukan almarhum istri pertamaku," kata Rio dengan tatapan sendu.
"Itu lain Om aku sih pro sama Almarhum Tante, kalau sama yang lainnya Hira gak rela saja," jawab Hira berjalan mendekati Rio dan duduk di pangkuan pria
__ADS_1
itu