
Andi melihat keceriaan putrinya, dan kebahagian istrinya yang selama ini diliputi ambisi hanya dengan sebuah
10 tahun penuh kehampaan, putri kedua menjadi korban kesedihan dan ambisi istrinya, Masih teringat di benaknya Anta gadis kecil itu menatap kosong jasad kembarannya lalu pergi berlari kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.
Beberapa hari 2 Wanita yang berbeda usia larut dalam kesedian sang istri selalu tak dapat melupakan putri yang lain ketika melihat Anta. Anta yang masih membutuhkan kasih sayang Rena, tak pernah merasakan lagi pelukan Rena.
Rena hanya datang pada saat Anta harus tampil menggantikan saudarinya dan harus menjalani hidup seperti saudarinya.
Sampai saat ini publik tak pernah tahu bahwa Diana telah tiada, yang mereka hanya tahu bahwa Diana fokus studi di luar negeri dan tak akan tampil lagi.
Selama menjalani dua peran yang berbeda ada tekanan tersendiri dalam diri putrinya. Anta menjadi pribadi yang semaunya sendiri. Ya Andi menuruti ambisi dan kerinduan istrinya pada salah satu putrinya yang telah tiada membuat Anta merasa bahwa dia hanya sebagai pengganti putri yang telah pergi, menghibur dirinya dengan hobi dan aksi-aksi yang berbahaya dan Andi sebagai ayah menganggap bahwa itu lah kebahagiaan putrinya tanpa menyadari bahwa Anta telah berlari dari rasa kecewanya terhadap ibunya yang tak pernah menganggap dirinya berbeda dengan Diana.
Anta melakukan suatu protes terhadap orang tua dan ingin mengatakan, bahwa aku bukan Diana aku adalah Anta yang punya keinginan sendiri, mempunyai ambisi sendiri, dan itu di lakukan dengan menjadi seorang siswi yang berprestasi di berbagai bidang apa yang tak bisa di lakukan Diana ia lakukan hanya sekedar ingin sebuah pengakuan bahwa "Aku adalah Dianta" buka Diana.
"Pi." sebuah sentuan di bahunya dan panggilan menyadarkannya dari lamunannya.
"Ya, Dan?"
"Papi masih ingin di sini? tanya Dantai pada Andi, Andi melihat di sekitar sudah sepi Harlan nampak serius menerima telepon dari seseorang, dan para wanita sudah pada masuk ke rumah.
"Pi?"
Panggil Dantai lagi.
"Ya, bisa antar ayah ke suatu tempat Dan."
"Bisa pi."
"Nanti kalau di tanya mami mu bilang papi ada bisnis dengan relasi kamu ya Dan."
"Beres pi, agar mami ngak ikut kan?"
"Ya betul." katanya terkekeh.
Mereka pun melipat tikar, membawanya kedalam.
Dantai berpamitan pada Anta akan keluar dengan papi urusan bisnis.
"Hon, aku mau keluar dengan papi, ada urusan bisnis sebentar."
Anta tertawa," aku tahu papi mau kemana?"
"Emang mau kemana?" Tanya Dantai balik.
"Ke rumah lama dan makam Diana."
__ADS_1
"Dulu, papi selalu datang bersama ku setiap tahunnya." Anta menghelah nafas.
Mami selalu menganggap Diana masih hidup, di dalam diri ku." kata Anta dengan mata berkaca-kaca. Dantai langsung memeluk Istrinya.
'Bersabarlah Hon, nanti juga mami akan sadar."
"Sudah sana, mungkin sudah di tunggu daddy."
"Ya, aku berangkat dulu ya." katanya sambil mengecup kening Anta.
Dantai keluar kamarnya melewati ruang tengah ada ayahnya yang berbincang dengan papi.
Dantai mencium punggung tangan ayahnya sambil pamit akan keluar dengan papinya Anta sebentar. Harlan mengangguk.
Dantai dan Andi keluar rumah menuju mobil Dantai.
"Dan, mana kuncinya biar papi yang mengemudi."
"Baik pi, ini."
Andi mengambil kunci dari tangan Dantai lalu masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi.
Mobil pun berjalan dengan meninggalkan rumah Dantai kecepatan sedang menyusuri jalanan kota Singapura.
Dantai menoleh ke arah Andi dengan sedikit ragu namun membulatkan tekadnya untuk bertanya," Pi, maaf Dan mau tanya."
"Tentang Diana pi?"
Andi yang mendengar itu sepontan mengerem mobilnya Secara tiba-tiba membuat Dantai terbentur jendela kaca depan mobil.
"Maaf, Dan papi kaget kamu nanya itu," kata Andi setelah normal kembali."
"Apa Anta cerita pada mu?"
"Awalnya tidak pi, aku bertemu dengan nyonya Celometa."
"Ya kamu sudah cerita dia yang membantu Anta untuk bisa mandiri walau kehilangan pengelihatannya."
"Betul, dulu dia buta dan akhirnya dapat donor mata dari seorang gadis kecil berusia 9 tahun." Datai terdiam, Andi menoleh lalu tersenyum," Dia adalah Diana, begitu bukan Dan, kenapa tak diteruskan?"
"Takut papi terkejut lagi dan menginjak rem." katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Andi tertawa, " Maaf Dan tadi memang om belum siap dengan nama itu, tapi sekarang, papi sudah lebih siap."
"Nanti setelah sampai papi akan ceritakan," katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah besar yang nampak terawat, namun lengang. Andi mengetuk pintu rumah sebelah rumah besar itu.
Beberapa kali di ketuk akhirnya pintu itu pun terbuka. Seorang lelaki paruh baya keluar dari pintu yang terbuka. Penghuni rumah itu melebarkan matanya saat tahu siapa yang mengetuk rumahnya.
"Pak Andi, apa kabarnya? sudah lama tak kesini."
"Iya pak Bean, saya ingin lihat rumah saya ."
"Baik pak sebentar saya ambilkan."
Pak Bean masuk kedalam rumah, tak lama kemudian dia kembali lagi membawa kunci dan menyerahkan pada Andi.
Andi menerima kunci tersebut lalu bergegas pergi ke rumah itu.
Andi membuka pintu rumah itu, setelah terbuka dia pun masuk. Rumah masih terjaga dengan baik dan bersih.
"Pi apa Bean yang merawat rumah ini?"
"Iya Dan, pak Bean yang merawat rumah ini"
"Dulu kami tinggal di sini, Dan."
Diana gadis yang periang, sementara Dianta adalah gadis yang pendiam dan gadis yang sangat suka membaca."
"Diana lebih mempunyai bakat bermusik selalu menciptakan lagu-lagunya sendiri."
"Rena lebih suka membawa Diana show kemanapun, karena di anggap lebih berbakat, namun ternyata Anta pun punya bakat yang sama."
"Anta ku mulai merasa kesepian di rumah hanya di temani pembantu hingga dia menghibur dirinya dengan bermain piano." "Ketika aku baru pulang dari menemui klien, aku melihatnya bermain piano begitu peawainya."
"Aku memeluk putriku yang malang.
Dia bilang jangan bilang mami, Dia tak suka bermain di depan umum."
"Suatu ketika Diana tahu, tepat ketika dia mendapatkan kelainan aneh di tubuhnya."
"Saat itulah Dan, Anta menggantikan Diana. Sampai sekarang publik tidak tahu Diana telah tiada karena istriku tak ingin mengumumkan kepergiannya."
Dantai menebarkan pandangannya melihat seluruh rumah itu, begitu pun Andi, bayangan keceriaan 2 gadis kecil berlari di lorong-lorong rumah dan tangga.
"Apa mami sebenarnya tidak ingin ke sini kan pi?"
"Ya, Dan, menurutnya di sini lah di negara ini ia tertoreh luka."
"Dan, sudah cukup, ayo kita keluar, papi juga ingin ke makam Diana"
__ADS_1
"Baik pi," kata Dantai sambil berjalan keluar bersama Andi. Mereka pun mengembalikan kunci di rumah sebelah lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah itu.