Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Belum Ada Tanda-tanda


__ADS_3

Keesokan harinya setelah melaksanakan sholat subuh mereka pun sarapan pagi, Dantai menatap Putrinya dengan tajam. "Belajarlah untuk tidak membantah orang tuamu, Ra!"


"Ya, Ayah. Aku tak akan membatah," jawabnya dengan masih menyuapkan makanan di mulutnya.


"Baiklah, sudah kau persiapkan kebutuhanmu, Ra?"tanya Dantai


"Aku tidak memindahkan barang ku di lemari Ayah," jawab Hira tanpa melihat sang Ayah.


Keesokan harinya setelah melaksanakan sholat subuh mereka pun sarapan pagi, Dantai menatap Putrinya dengan tajam. "Belajarlah untuk tidak membantah orang tuamu, Ra!"


"Ya, Ayah. Aku tak akan membatah," jawabnya dengan masih menyuapkan makanan di mulutnya.


"Baiklah, sudah kau persiapkan kebutuhanmu, Ra?"tanya Dantai


"Aku tidak memindahkan barang ku di lemari Ayah," jawab Hira tanpa melihat sang Ayah.Dantai menghembuskan nafasnya pelan. Ia sedih karena Hira seolah tidak bisa menerima apa yang di perintahkan.


Pak To, sudah memasukan semua koper dalam bagasi. Anta duduk di belakang bersama kedua Anaknya.


Dantai pamit pada Aril dan Salva lalu masuk ke dalam dan duduk di bangku kemudi, mobil pun berjalan meninggalkan rumah melaju di jalan raya.


Perjalanan begitu lancar dan menenangkan hingga sampai di kawasan batu malang dengan jalanan yang turun naik hingga sebuah mobil yang berjalan tak tentu arah menabrak d mobil Dantai dari kiri lalu terguling ke jurang, sementara mobil Dantai menabrak tebing.


Pak to dan Dantai tidak terluka para, begitu Emir sementara Anta yang melindungi Hira terbentur tebing kaca pecah Dantai kalut karena Anta pingsan dan pelipis kiri berdarah.


Dantai menelpon Ambulans tak seberapa lama Ambulans dan polisi datang seketika itu jalanan di block beberapa mobil di alihkan dan Ambulan membawa Anta dan dan juga keluarganya sementara mobil yang masuk jurang itu masih dalam evaluasi

__ADS_1


Hira dan Emir menangis tiada hentinya menangis, cemas, dan takut akan terjadi apa-apa dengan Bundanya.


Mobil ambulance telah sampai di rumah sakit dan Anta telah di bawah keruang ICU beberapa alat di pasang di tubuhnya. Dantai menelpon Aril mengabarkan bahwa mobil mereka mengalami kecelakaan sayangnya Salva pun kontraksi mengharuskan Aril membawa istrinya ke rumah sakit Izyan di bawah pengasuhan Bik Mirna.


Aril pun menelpon Rio dan share lokasi di mana Anta di rawat segera Rio pun memacu mobilnya menuju kota malang.


Dua jam perjalanan Rio sampai di rumah sakit lalu menemui Dantai dengan langkah lebarnya di peluk pria yang menjadi sahabatnya itu.


"Yo, tolong anak-anak bawah ke vila," pintanya pada sahabatnya.


"Baik Dan, akan ku antar anak-anak ke vila," jawabnya pada Dantai.


Rio memeluk ke dua anak itu. "Ayo aku antar ke vila biar Ayah kalian tenang di sana kalian juga harus berdoa untuk kesembuhan Ibu kalian.


Mereka pun mengangguk Rio mengandeng ke dua anak-anak itu menuju mobilnya mereka masuk dan Rio melajukannya dengan kecepatan sedang.


Rio memacu mobilnya kembali, dan beberapa menit kemudian ia telah sampai ke rumah sakit. Dantai terlihat berbicara dengan seorang dokter dengan sangat serius.


Setelah itu ia pun duduk, di kursi tunggu.


"Bagaimana? Apa kata Dokter? Katakan Dan?"


"Tidak bisa lakukan apapun sebelum Anta sadar," katanya sembari menghilangkan rasa kalutnya. Terdengar adzan duhur. Rio pun menyuruhnya untuk sholat dulu, setelah Dantai selesai berganti dengannya. Datai bergegas berjalan ke masjid melaksanakan sholat dhuhur kemudian kembali lalu berganti Rio melaksanakan sholat duhur.


Tak lama kemudian Rio bergabung dengan Dantai yang duduk di depan ruang ICU, seperti devaju bagi Rio seolah mengulang cerita lama di mana ia pernah menunggu kedua sahabatnya dalam keadaan koma diruang itu.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu lambat dengan penuh kecemasan dan kekawatiran semakin menyesak di hati serta pikiran.


Rio melihat wajah temannya begitu kuyu ia sangat merasa iba. Rio berdiri dari duduknya dan berjalan keluar rumah sakit untuk mencari makanan, ia yakin sahabatnya belum makan sedari tadi.


Tak seberapa lama Ia pun kembali membawa dua kotak makanan di dalam kantong plastik yang dia jinjing diletakannya di atas kursi di sebelah Dantai duduk.


"Dan, kau harus makan, jangan sampai kau juga ikut sakit, lalu bagaimana dengan Anta, Emir dan Hira jika kau sakit, kau boleh saja cemas dan kawatir tapi perut harus diisi," nasehat Rio pada temannya itu.


"Aku tak nafsu makan, Ri," sahutnya lirih.


"Tetap harus makan, Dan. Bagaimana kalau Anta sadar dan mencarimu, aku tidak bisa menggantikanmu bukan? Jadi makanlah!" kata Rio membuat Dantai menatap tajam, Rio. terkekeh sambil mengatupkan tangannya.


Akhirnya dia pun makan walaupun rasanya tidak bisa menelannya karena pikiran tertuju pada Anta yang masih diruang ICU.


Sementara itu, Anta merasa berada di dunia lain ia seperti berada di sebuah taman bunga yang indah. Dia sangat gembira karena dia bisa melihat, bunga-bunga bermekaran, sejauh mata memandang hanya bunga-bunga yang ada di situ ia mencari seseorang untuk bertanya di manakah dirinya berada, bukankah dia buta kenapa saat ini dia bisa melihat. Hingga seorang wanita seusia dirinya berjalan cepat di depannya.Anta berlari meraih tangan wanita itu membuatnya menoleh seketika tubuhnya membatu, seorang perempuan yang mirip dengan berdiri di depannya. "Diana!" mata membelalak lebar. Wanita itu pun tersenyum "Kamu kenapa ada di sini? harusnya tempatmu bukan di sini, di sana ada orang yang membutuhkanmu," kata Diana.


"Aku di sini bisa melihat apapun yang ingin kulihat, di sana hanya ada kegelapan saja. Din, biarkan aku ikut dirimu!" pinta Anta memelas.


Kakek tak akan mengijinkanmu tinggal," katanya sambil berjalan menuju gubuk sederhana yang sangat indah.


Seorang kakak yang duduk diantara undak-undakan batu yang ada di depan gubuk. Lelaki tampan blesteran itu Irlandia dan Indonesia itu beranjak dari duduknya mendekati Anta.


Kenapa kemari, Cu. Ini bukan tempat Nak," katanya sambil menatap Anta penuh kasih sayang.


"Aku lebih suka di sini kek, di sini aku bisa melihat, sedangkan di sana aku dan kegelapan,"kata Anta kepada orang tua itu. Coba lihat lah lelaki yang menunduk itu suami dia sangat mencintaimu, lihat raut wajah begitu suram, lalu pandanglah dua orang anak kecil itu menangis merindukanmu," kata kakek itu.

__ADS_1


"Tapi aku takut akan kegelapan Kek, selama ini aku berusaha untuk kuat namun aku tak sekuat itu, Kek," kata Anta menunduk tajam.


Percayalah Allah tak akan menguji umatnya melebihi kemampuannya, Nak," Nasehat Kakek itu.


__ADS_2