
Alarm handphone Rio terdengar, membangunkan tidur lelapnya dilihatnya pukul 03.00 pagi. Dengan rasa malas ia bangun dari ranjangnya dengan mata masih terpejam, rasanya ingin menunda ke berangkatnya akan tetapi itu tidak bisa ia lakukan karena ia sudah berjanji kepada temannya itu akan berangkat ke Surabaya jam tiga dini hari.
Dengan langkah gontai ia melangkah ke kamar mandi, dinyalakan shower untuk mengguyur kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk dan lelahnya. Air hangat yang mengalir membasahi tubuhnya mampu menghilangkan rasa kantuknya, tak lama kemudian ia pun keluar hanya dengan balutan handuk saja sebatas pinggangnya.
Ia membuka lemari dan mengambil baju Formal dan memakainya lalu mengambil tas punggung yang baru di belinya kemarin dengan Hira di masukan semua pakaian yang hanya beberapa stel saja yang di beli di kota ini. kemudian ia menggelar sajadah dan melakukan sholat tahajud setelah selaisai ia taruh sajadahnya di atas ranjang, mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan setelah itu dia berjalan menuruni tangga dan berjalan keluar, di luar pak Man sudah menunggunya.
"Mas Rio, biar saya Antar, Tuan Dantai ingin memastikan Anda baik-baik saja," kata pak Man.
"Ngak usah, Pak. Bilang pada Dantai, kalau nanti saya ngantuk saya akan berhenti sebentar, Pak Man cukup bukakan gerbangnya, dan tolong sampaikan salam saya pada semuanya, tidak sempat pamit, karena pekerjaan sudah menunggu," kata Rio dengan sopan.
"Baik, Mas Rio," jawab pak Man yang, langsung berjalan menuju pintu gerbang,
Dantai hanya bisa melihat sahabatnya lewat kaca jendela, dan itu di rasakan oleh Rio, dilambaikan tangannya ke arah jendela Dantai sambil tersenyum lalu ia masuk dalam mobilnya dan setelah itu berjalan meninggalkan Vila menembus jalanan kota Batu pak Man menatap mobil itu hingga menghilang di kelokan jalan. Pak Man membalikan tubuhnya dan terkejut ia mengelus dadanya. "Den Dantai bikin Bapak kaget saja," katanya setelah ia tahu yang berdiri di depannya adalah Dantai. "Apa Man kira saya hantu?" tanya Dantai sambil tersenyum.
"Aku sedih, Pak. Mungkin ini terakhir aku bertemu dengannya ia tak mau bertemu denganku lagi," katanya.
"Memangnya ada apa? Kok, Mas Rio gak mau ketemu sama Den Dantai. Apa Den Dantai bertengkar dengan Mas Rio?" tanya pak Man.
"Ya enggak tahulah, Pak. Dia tiba-tiba punya keputusan itu, wis emboh lah," kata Dantai sambil pergi meninggalkan pak Man. "Loh piye toh Mas Dan ini, kok malah ditinggal pergi." Pak menggelengkan kepalanya lalu menutup pintu gerbang, setelah itu kembali ke kamar karena masih jam setengah empat dini hari adzan subuh pun belum berkumandang.
Rio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, beberapa kali menguap, ia pun mencari masjid terdekat setelah menemukan masjid dia membelokan mobilnya di sana lalu berhenti di halaman masjid dibukanya sedikit jendela mobilnya dan memejamkan mata sebentar sambil menunggu adzan subuh.
Ia baru terlelap setengah jam dan dia terbangun ketika suara adzan magrib berkumandang.
Rio menutup kaca mobilnya dan keluar lalu menutup dengan rapat serta menguncinya. Kemudian masuk kedalam masjid setelah mengambil air wudhu dan sholat berjamaah.
__ADS_1
Setelah selesai ia menyadarkan tubuhnya ke dinding kemudian, memejamkan matanya dan terlelap beberapa saat. hingga telepon berdering. terlihat nama Yudi tertera dalam panggilan telepon.
Dia pun menerimanya. "Assalammualaikum Yudi ada apa?" tanya Rio
"Wa'alaikumsalam kemarin Bapak menelphonku, menanyakan Anda," kata Yudi terdengar dari sebrang.
"Kenapa Papa telpon kamu?" tanya Rio pada Yudi
"Anda lupa kalau kemarin itu acara tujuh bulanan nyonya muda," kata Yudi
"Apa,Kemarin? Bukan nanti acaranya?" tanya Rudi
"Sudah selesai tuan," jawab Yudi
"Saya bilang Anda ada urusan bisnis di Bali," kata Yudi.
"Ok! Yud, terimakasih, aku benar-benar lupa, aku dalam perjalanan pulang, apa ke kantor lagi hari ini?" tanya Rio
"Tidak tuan," kata Yudi
"Ya sudah, trimakasih banyak, Assalamualaikum," ucapnya pada Yudi
"Wa'alaikumsalam, Tuan," jawab Yudi dan sambungan telepon pun terputus.
Rio menghela nafas. 'Kenapa aku lupa, yaa,' gumamnya dalam hati
__ADS_1
Rio bangkit dari duduknya dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 7.00 pagi ia pun menuju toilet pria membasuh mukanya, setelah itu ia keluar dari masjid dan masuk ke dalam mobilnya yang setelah itu berjalan dengan kecepatan sedang.
Perjalanan menempuh waktu dua jam ia pun sampai rumah, sekuriti membukakan pintu pagar dan mobil pun masuk kedalam pelataran rumahnya.
Jasmine yang mendengar deru mobil suaminya segera datang menyambutnya, dihampirinya Rio di cium punggung tangannya dan mengambil tas Rio tapi Rio mencegahnya. Rio mengecup kening istrinya. "Maaf yaa, kemarin tidak bisa menghadiri acara spesial untukmu dan anak kita. Bagaimana acara ramai?" tanya pada istrinya.
"Iya, ramai dengan gosip yang hangat," kata Jasmin ketus.
Rio mengikuti langkah istrinya untuk masuk ke kamar lalu menguncinya.
"Di tariknya tangan Jasmine, hingga berbalik arah menghadap Rio, lalu di lepaskan hijabnya dan melemparkannya di sofa, kemudian melepaskan satu persatu kancing baju sang istri. "Hari ini aku milikmu layanilah aku karena hanya engkau yang halal ku sentuh," kata Rio
"Apa kau bertemu dengannya?" tanya jasmine dengan tangan bergetar melepas kancing kemeja Rio, sementara dia sudah setengah polos, bibir dan tangannya sudah mengembara kemana-mana.
"Siapa?” tanya Rio
Nafas Jasmine tersengal-sengal oleh ulah Rio menjawab. "Gadis yang ada di hatimu," jawab Jasmine sambil tersenyum pait.
"Kau mendapatkan banyak Jas, kau bisa melayaniku, dia tidak. Kau bisa menyentuh tubuhku yang paling d@lam tapi dia tidak. Aku bisa menyentuhmu, mecumbumu tetapi dia tidak maka buatlah aku mencintaimu, lihat lah tanganku bisa menyentuh bagian tubuh mu yang paling rahasia, menyusup sampai di ked@laman," katanya sambil mencumbu sang istri, kemudian membaringkan di atas ranjang.
Mereka bergumul hingga siang hari, setelah selesai Rio pergi ke kamar mandi membersihkan diri, tak lama kemudian keluar dengan hanya berbalut handuk. Lalu ia memakai pakaian kerjanya, setelah siap ia menghampiri istrinya. "Aku akan ke kantor, mungkin akan pulang malam, di saat aku pulang dan kau belum tidur, siapkan dirimu untuk menyambutku seistimewa yang mungkin akan membuat aku tak bisa melupakan mu," kata Rio sambil menatap manik matanya yang coklat itu, dan Jasmine mengangguk dan tersenyum.
"Jangan tidur dulu bersihkan dirimu dulu," kata Rio kembali Jasmine hanya bisa mengangguk. Rio pun tersenyum dia keluar dari kamarnya, dan menemui mbak Narti.
"Mbak Narti, tolong bawa makan siang ke ka kamar yaa, dia tak mungkin keluar makan, pastikan dia makan yaa," katanya sambil berlalu meninggalkan ARTnya itu.
__ADS_1