
Di pagi buta saat adzan subuh berkumandang Harlan membuka mata, ia terkejut disebelahnya duduk seorang pria dan wanita paruh baya, terlelap sangat pulas terlihat begitu lelah. Harlan bangkit dari duduknya melihat sekilas 2 remaja seusia putranya tidur meringkuk di atas tikar, sudah tak terlihat pak To di sana, "mungkin ia sudah ke musholla," batin Harlan, ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit menuju mushola, terlihat beberapa orang sudah meluruskan shaf sholatnya, Harlan pun memasuki barisan shaf dan melaksanakan sholat jamaah, setelah selesai sholat jamaah Harlan tak kunjung beranjak dari duduknya terlihat mata tuanya basah dengan sebuah permintaan terhadap sang pencipta alam untuk putra tercintanya yang tergolek lemah di ruang ICU. hingga fajar menyembulkan sinarnya Harlan baru bangkit dari duduknya.
" Tuan saya akan keluar dulu mencari makanan." kata pak To, ia pun mengangguk, lalu kembali keruang ICU.
Di sana dua remaja sudah tidak ada sana hanya ada dua orang paruh baya. mereka berdiri ketika Harlan tiba di sana.
"Perkenalkan saya Andi dan ini istriku Rena, kami minta maaf pada Anda karena putri saya, putra anda jadi seperti ini," kata lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah Anta
" tidak usah meminta maaf mungkin ini sudah takdir mereka dan cobaan bagi kita selaku orang tua, putri anda juga tidak dalam keadaan baik." jawab Harlan. Andi terdiam dan mengangguk, tak ada lagi perbicangan, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Dua hari berlalu, Anta sudah melewati masa kritisnya begitu pula Dantai. Namun kondisi Dantai belum bisa di pindahkan di ruangan perawatan. Sedangkan Anta sudah di pindahkan di ruang perawatan. Membuat hati Ira semakin sedih.
Satu minggu berikut keadaan Dantai sudah setabil sehingga bisa di pindahkan di ruang perawatan, namun ia belum sadar dari koma karena benturan keras di kepalanya.
Sementara itu di ruangan Anta, Anta baru saja terbangun dari komanya dan merasakan gelap dan tubuh serasa tidak bisa di gerakan.
"Aku dimana ? Afif, Afif... Riko, Billy Afif mana?" teriaknya sambil menangis.
"Kenapa dengan mata ku?" tanya Anta sambil meraba-raba area kepala dan matanya.
" An, ini mami sayang, Alhamdulillah kamu sudah bangun sayang, biar mami panggil dokter." kata Rena sambil memencet tombol tanda panggilan dokter.
"Mam mana Afif? Anta ingin bertemu Afif mam! teriak Anta lagi
" Iya, nanti mami antar kan ke ruangannya sekarang biar dokter memeriksa mu.
__ADS_1
Dokter datang memeriksa Anta, " 2 Minggu perban di mata sudah bisa di buka ya.."
"Dok kenapa kaki saya tidak dapat di gerakan." tanya Anta
"Begini nona saya akan memeriksa lebih lanjut, Ibu dan Bapak mari ikut saya, saya akan jelaskan diluar." Orang tua Anta pun mengikuti dokter keluar ruangan.
" Bu,pak kelihatanya putri anda mengalami cedera pada tulang belakang, untuk lebih jelasnya kami akan memeriksa lebih lanjut,"
"Apa putri kami akan lumpuh, dok?"tanya Andi pada dokter.
" Ya, kalau ternyata terjadi cedera atau kerusakan di tulang belakang, bisa sementara bisa juga permanen." kata dokter itu lalu meninggalkan mereka. Andi termangu mendengar penuturan dokter tersebut.
"Mam, ini salah ku terlalu memanjakannya dan mengijinkan ia untuk melakukan hobi
balapannya. Sampai ia tak terkontrol," katanya sambil melihat istrinya.
"setidaknya kita sudah minta maaf pada mereka mam," kata Andi sambil memasuki ruangan Anta di ikuti Rena.
" Hai putri papi yang cantik, kamu sudah sadar nak papi senang." Andi memeluk putrinya ia sangat bersyukur Anta sudah sadar dari komanya. sekalipun mungkin Anta akan lumpuh atau buta akibat kecelakaan itu. dia senang putrinya masih bisa selamat dari kecelakaan itu.
"Pi, Anta ingin bertemu dengan Afif."
" Tidak sekarang, kamu baru bangun dari koma dan harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, sebentar lagi perawat datang ke sini."
Anta menjalani pemeriksaan komplit, Andi dan Rena dengan sabar menemani. setelah selesai Anta di bawah kembali keruang perawatan.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian dokter memanggil Andi dan Rena. Di dalam ruangan tersebut dokter menunjukkan hasil pemeriksaan dari X-Ray, CT Scan dan MRI Scan menunjukkan kerusakan pada tulang belakang Anta hingga menyebabkan kelumpuhan kaki hingga pinggang hanya 30% saja untuk bisa berjalan kembali.
"Bagaimana dengan matanya dok apa putri saya akan bisa melihat lagi?" tanya Andi.
"Kalau itu kita harus menunggu dua minggu lagi ketika perbannya di buka, apakah putri bapak bisa melihat atau kah tidak. Jika bisa melihat maka aman, tapi jika tidak maka akan ada pemeriksaan lebih lanjut pada otak besarnya.
Andi dan Rena kembali keruang perawatan anaknya. Andi menghampiri putrinya. "Hai, apa yang kau rasakan saat ini?"
"Kakiku terasa mati rasa pi, apa kata dokter pi?"
"Kamu pasti akan bisa berjalan lagi, kata dokter ini efek dari koma, hanya butuh terapi agar bisa berjalan lagi."
"Pi, kenapa papi tidak terus terang saja pada ku? Aku bisa menerimanya, pi. Papi tahu waktu itu Afif sudah melarang ku, dia marah padaku, Billy dan Riko. Dia bilang jika kami berteman harus nya membawa pengaruh baik bukan sebaliknya, waktu itu ia ingin naik bis saja bersama teman-temannya. Aku memaksanya ikut dengan ku, aku merasa bersalah jika ia naik bis pi mungkin hanya aku yang di rawat di sini."
"An, tenanglah papi sudah minta maaf pada orang tuanya, nanti menunggu kamu benar-benar sehat secara fisik dan mental papi antarkan ke ruangannya."
"Tapi mereka tidak tahu apa sebenarnya terjadi? Sebelum aku tahu bahwa rem tidak berfungsi, mobil dalam kecepatan tinggi aku berusaha mengurangi kecepatan tapi terlambat jalan berbelok membuat aku hilang kendali pi. Bagaimana keadaan Afif? Aku ingin tahu pi!" kata Anta sambil menangis, Andi memeluk putrinya sementara Rena terdiam dan beberapa kali menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Saat ini dia masih koma, An. Bahkan papi tak sanggup mengatakan yang sebenarnya terjadi. Jadi bersabarlah An tunggu sampai Afif bangun dari komanya. Sekarang belum saatnya."
Andi berjalan menuju meja, di ambilnya piring berisi bubur lalu berjalan kembali ke ranjang Anta. "Makan bubur sedikit ya, agar segera sehat dan bisa menjenguk Afif teman mu itu. Anta mengangguk dan menerima suapan dari papinya
"Pi apa papi marah kalau Anta menjalin kasih dengan Afif?"
"Tidak, papi sangat senang, sepertinya ia pemuda yang baik, tapi setelah kejadian ini papi tidak tahu apa orang tuanya akan mengijinkan mu untuk tetap bersamanya atau tidak? An berjanjilah kau akan baik-baik saja apapun yang terjadi."
__ADS_1
Anta mengangguk dan tersenyum.