
Setelah beberapa menit Ira menunggu menantunya, nampak Anta menantunya keluar dari kamar dengan tunik hijau botol dan celana kain warna hitam di padu dengan hijab warna hijau daun begitu nampak serasi di tubuhnya.
Ira tercengang melihat perubahan menantunya.
Dia segera menghampiri Anta yang berjalan pelan dengan menghitung langkahnya.
Melihat itu hati Ira terasa teriris. Dia memeluk sang menantu," Ibu lama ya menunggu ku."
"Enggak, tidak lama sayang, kamu cantik sekali pakai hijab sebentar ya ibu betulkan sedikit." Anta menggangguk tatapan matanya kosong mencari seseorang dengan pendengarannya dan sentuhannya.
"Nah, sudah sayang ayok kita berangkat," kata Ira sambil menyeka sudut matanya yang berkaca-kaca.
Ira dan Anta keluar dari apartemen Dantai berjalan menuju, masuk kedalam lift. Pintu lift tertutup lalu bergerak turun ke lantai dasar. Pintu Lift terbuka, Ira dan Anta berjalan menuju lobby, halaman gedung dan area parkir dalam perjalanan menuju mobilnya Ira tak melepas pegangan tangannya.
Sampai didepan mobil Ira dan anta masuk kedalam, kemudian mobil itu bergerak perlahan meninggalkan Apartemen Dantai menuju tempat tinggalnya.
mobil berjalan dengan kecepatan sedang melintasi jalanan yang sudah lengang karena jam kerja dan berangkat sekolah sudah berlalu.
Mobil berhenti di rumah besar dengan pintu gerbang yang tinggi serta halaman yang luas.
Mobil itu pun masuk di dalam pintu gerbang yang telah di buka oleh sekuriti. Berhenti di halaman rumah tepat di depan pintu rumah yang masih tertutup.
Ira keluar dari mobilnya begitu juga Anta yang masih menunggu ibu mertuanya mengandeng tangannya memandu jalan untuk masuk ke rumah.
Tak seberapa lama Anta merasa ada yang menyentuh tangannya dan mengajaknya berjalan, aroma wangi tubuh ibu mertua membuatnya yakin bahwa itu ibu mertuanya.
Anta berjalan dengan panduan tangan ibu mertua sambil menghitung langkah dalam hati hingga sampai di pintu ia pun meraba gagang pintu di kanan kiri pintu.
Ira dengan sabar membiarkan sang menantu mengenali rumahnya.
Sesekali ia bertanya, "ini ruang apa ibu, Itu ruangan apa ibu?" Dan Ira menjawabnya dengan sabar.
Ira memperkenalkan rumahnya sambil membantu sang menantu untuk mengenal seluk-beluk seluruh wilayah rumahnya.
Anta jenis wanita yang cerdas sudah tidak di ragukan lagi hingga dengan mudah menghafal hitungan langkah dari ruangan-keruang rumah mertuanya. Andai dia tidak kehilangan pengelihatannya maka saat ini dia sudah kuliah di fakultas kedokteran bersama suaminya Dantai.
Ira mengajak Anta ke kebun bunga miliknya membawanya ke kursi taman," An tunggu di sini dulu ya ibu ambil makanan ringan dan minuman biar enak menikmati sejuknya taman sambil nyemil."
"Iya, bu."
Ira pun pergi meninggalkan Anta seorang diri.
__ADS_1
Anta yang tertarik harum wangi bunga berjalan di antara bunga-bunga bermekaran hingga terjatuh di sebuah galian yang sedikit dalam," Aduh! ibu tolong Anta," teriak Anta.
Pak Amru yang sedang menggali di sekitar dua meter dari galian awal terkejut dan berlari mendekati Anta," Non kok bisa jatuh apa non...?
pertanyaan pak Amru menggantung ketika melihat meraba-raba dan bertanya Bapak di mana? tolong bantu saya berdiri?" Pak Amru pun memberikan kedua tangannya untuk menolong Anta, namun serasa kakinya begitu lemas ia tak sanggup berdiri air matanya sudah jatuh menetes tak terbendung.
"Pak tolong gendong saya ke bangku taman."
"Baik no."
Pak Amru membopong Anta untuk di bawah ke bangku taman. Disaat itu Ira keluar dan melihatnya," Ada apa pak Amru, kenapa menantu saya?"
Jatuh bu di sana nona berjalan di sana di mana saya menggali lobang untuk menanam mangga bu. Kakinya si non gak bisa di gerakan bu."
"Bu Anta yang salah, Anta gak menunggu ibu untuk jalan-jalan di antara bunga-bunga itu,"
"Bagaimana ini An? kamu baru bisa jalan satu bulan ini, sebentar ibu telpon Dantai dulu."
Ira pun melakukan panggilan pada Dantai, beberapa saat kemudian Panggilan itu pun terhubung.
"Dan, Anta jatuh kakinya tidak bisa di gerakkan ibu bingung juga takut terjadi sesuatu dengan kaki Anta padahal dia baru bisa berjalan 1 bulan, maaf kan ibu Dan," Ira langsung saja berbicara tanpa salam.
" Bu, tenang! Dan akan pulang dan segera telpon dokter Karin."
"Tidak Bapak tidak salah saya yang salah tidak menjaga menantu saya dengan baik, bapak kembali bekerja."
"An kau sudah tenang sayang, minum lah dulu."
Ira memberikan segelas jus jeruk segar yang di siapkannya untuk di nikmati di kebun bunga dengan sang menantu justru menjadi petaka bagi menantunya yang harus terjatuh di lobang galian.
30 menit kemudian Dantai datang dengan berlari menuju kebun belakang, di hampirinya istrinya sambil melakukan panggilan video dengan dokter Karin.
Panggilan pun terhubung, Dan mulai menceritakan apa yang terjadi dengan Anta.
"Baik Dan coba arahkan kameranya pada kaki Anta, gulung celana panjangnya sebatas betis."
Dantai pun melakukan apa yang menjadi instruksi dokter Karin.
"Coba kau tekan telapak kakinya, Anta bisa merasakan sakit atau tidak, jika merasakan berarti tidak apa-apa Dan hanya faktor dari rasa takut Anta memicu otak besar memerintahkan kaki untuk enggan bergerak."
"Baik dok."
__ADS_1
"Apa ini sakit?" tanya Dantai, Anta mengangguk.
"Coba kau cubit betisnya Dan apa Anta merasa sakit." Dantai mengangguk dan mencubitnya,
"Aduh, sakit mas," keluh Anta.
"Ok! Dan coba bantu dia berdiri.," kata dokter Karin. Dantai membantu Anta berdiri, dengan gemetar ia berdiri.
"Bagaimana An apa sakit ketika kamu berdiri."
"Tidak dok, hanya kakiku terasa lemas."
"Ok! tenangkan dirimu An, lalu sugesti dirimu sendiri bahwa tidak terjadi apa-apa dengan kaki mu."
"Baik dok."
"Dan untuk sementara jangan paksakan berjalan dulu, istirahatkan selama 1 hari kemudian rendam dengan Air hangat dari telapak kaki hingga betisnya lalu gerakan seperti aku melakukan terapi kepada Anta."
"Baik Dok."
"kira-kira kapan bisa dilakukan berlatih jalan dok."
"Besok pagi sudah bisa dilakukan Dan dengan pelan-pelan dulu." Dantai berjalan agak menjauh dari ibu dan istrinya.
"Kalau itu boleh tidak dok? saya kan baru nikah 2 hari yang lalu dok." Dokter Karin tertawa
"Boleh Dan gak akan mempengaruhi saraf kaki dan selamat untuk kalian berdua."
"Trimakasih banyak maaf telah mengganggu anda akan saya transfer biaya konsultasinya dok."
"Tidak usah Dan, tidak perlu Dan."
"Harus dok tak ada penolakan."
"Baik jika anda memaksa, semoga lekas pulih ya."
"Trimakasih Dok."
"Sama-sama Dan." panggilan video pun berakhir. lalu Dantai memeluk istrinya."
"bu mulai sekarang kasih tahu pak Amru untuk memberi batas dengan tali jika sedang menggali."
__ADS_1
"Baik Dan maaf kan ibu." Dantai memeluk ibunya untuk sekedar menghilangkan rasa takut dan kwatir.