
Mereka keluar dari Mall dan mencari restoran Korea yang ada di area Mall. mereka pun menemukan dan masuk ke dalam restoran tersebut lalu duduk di meja kosong, seorang pelayan menghampiri dan menanyakan pesanan mereka. "Kalian makan apa tanya Andi?"
Hira mengacungkan tangannya lalu menjawab, "bulgogi, nasi khas Korea dan kimchi." Kemudian ia menatap Emir.
"Aku kimbab saja dan ice krim rasa vanilla, coklat dan stroberi mix" Hira berteriak. "Aku rasa stroberi dan coklat, Paman," katanya pada pelayan yang sudah berumur. "Ok! Bulgogi, nasi khas Korea dan kimchi dua, kimbab satu, ice krim rasa vanilla, coklat dan stroberi satu, rasa stroberi dan coklat satu, caffelate satu, sudah itu saja. Pelayan itu mengangguk kemudian pergi dari meja Andi untuk menyiapkan pesanan mereka. Tak lama kemudian pesanan pun datang mereka makan dengan lahap. lalu menghabiskan ice krim. Setelah selesai makan mereka tak ingin pulang.
Pergi ke taman dulu dan bermain di sana. Kembali Andi duduk di kursi taman menunggu mereka bermain.
Usia Emir dan Hira adalah lima tahun, karena kecerdasan di atas rata-rata membuat mereka di terima di Elementary school ternama di Singapore.
Hari beranjak sore, Andi mengajak mereka pulang mereka pun naik kedalam mobil dan meninggal taman nasional itu menuju kediaman Andi.
Berjalan dengan kecepatan sedang melewati gedung-gedung tinggi, serta jalanan yang sedikit padat.
Sang cucu tak henti-henti berceloteh. "Kata Ayah akan mengajak kami liburan tapi Ayah sama Bunda kenapa diam saja ya kak?" tanya Hira pada kakaknya.
"Mana kakak tahu Ra, kan kakak bukan cenayang yang bisa tahu semuanya." katanya ketus.
"Ihh, begitu deh jawabnya, Kakak ngeselin tahu," protes Hira. Emir tertawa. "Lalu aku jawab apa, Dek?"
__ADS_1
"Jawab yang manis gitu, Bang." tuntut Hira. Emir pun tertawa kembali. "Lah, kalau tanya itu ya, ke Bunda, Dek. Bukan ke Kakak. Kakak mana tahu soal itu, Dek?" Hira berengut. "Iya, Hira tahu, tapi jawab jangan gitu, jawabnya itu begini, Hira Cantik, Kakak gak tahu. Begitu jawabnya, jadi Hira gak sebel."
Emir pun terbahak. "Oke, Hira Cantik, Kakak gak tau tanya saja sama Bunda ya, nanti." Emir tak berhenti tertawa.
Andi tersenyum. "Ya sudah, nanti di tanyakan sama-sama, mungkin bunda masih repot jadi belum bahas ini, ayah kalian juga 'kan dokter jadi susah ambil cutinya. Mungkin ayah lagi ngurusi cuti jadi belum bisa jawab pertanyaan kalian, tapi kalau kakek boleh kasih saran, lebih baik gak usah tanya dulu sama bunda dan ayahmu, tunggu mereka yang berbicara sendiri, mengerti?"
mobil pun sampai di halaman rumah Andi mereka pun keluar dan berlari masuk kedalam, sesampainya di pintu terjadi huru-hara kembali.
"Hira yang masuk!"
"Kakak, dulu yang masuk!"
"Hira!"
Andi membuka bagasi mobil mengambil baju Hira dan Emir di berikan ke Art yang baru keluar membuang sampah. Lalu menyusul cucu-cucunya ia berteriak memanggil istrinya untuk menghadapi anak-anak yang sama keras kepala.
"Sudah masuk semua jangan bertengkar, " kekeh Andi sambil Emir dari gendongannya dan Hira dari gendongan Rena, Mereka pun tertawa dengan kehebohan cucu mereka. Sementara itu, Emir dan Hira saling membuang muka, dan berlari di kamarnya masing-masing.
"Hai jangan berlari, nanti jatuh," teriak Andi kepada cucunya saat tahu mereka menaiki tangga dengan berlari. Rena dan Andi hanya geleng-geleng kepala melihat ulah cucu-cucunya itu.
__ADS_1
"Tadi mengajak mereka kemana Pi?" tanya Rena pada suaminya.
"Ke Mall, Mam. Mengajak mereka bermain, kasihan juga anak-anak itu jarang bertemu dengan Ayah dan Bunda, sekali pergi hanya dengan ayahnya Dantai, karena Anta tidak mau takut anak-anak mendapatkan masalah, diejek teman karena ibunya buta." kata Andi dengan pandangan menerawang jauh ke masa lalu.
Rena memeluk suaminya. "Anta hanya melindungi anak-anaknya agar tidak terjadi masalah, dia sangat tegar dalam menghadapi hidupnya, Kau lihat sendiri bukan, perusahaan semakin besar di pimpin olehnya." Andi mengangguk. "Aku gagal menjadi orang tuanya Mam, dia buta karena kesalahanku, andai aku tak mengijinkannya untuk menekuni balapan yang menjadi kesenangannya, dia 'tak akan keluar jalur, aku ingin cucu-cucuku seperti Dantai, ayahnya. Aku melihat Emir sama seperti Dantai dan Anta, mempunyai bakat melukis dan bermain piano."
"Semoga saja kita dapat mendidik mereka dengan baik menjadi pribadi yang lebih baik." kata Rena pada suaminya sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Andi dan Rena menikmati waktu diruang keluarga sambil melihat televisi, sedangkan nenek berada di kamarnya sedang duduk bersandar di sandaran ranjang.
Tiba-tiba suara gaduh kembali mengusik kemesraan mereka dua cucu sudah berada di ruangan tengah di mana mereka berada. "Cie-cie nenek dan kakek pacaran," kata mereka serempak.
"Eh, sini kalian berdua," kata Andi sambil tertawa. Emir dan Hira duduk di tengah-tengah mereka sambil tertawa. "Iyut mana, Kek, Nek?"
"Ada di kamar lagi istirahat jangan ganggu yaa, Iyut sedikit kurang enak badan," kata Andi kepada cucu-cucunya.
"Baik, Kek. Kami akan ganggu Kakek dan Nenek saja ya Kak." Hira tertawa.
Andi dan Rena menggelitik mereka berdua hingga terdengar gelak tawa mereka dengan riangnya. Mereka bahagia bercanda dengan cucu. "Nek, aku mau lihat Iyut di di kamar yaa?" tanya Emir pada Rena.
"Boleh, tapi lihat dulu Iyut tidur apa tidak, kalau tidur ku jangan di ganggu Ya," kata Rena pada cucunya, Emir mengangguk.
__ADS_1
"Hira ikut ya, Nek?" tanya Hira dan Rena mengangguk sambil tersenyum. lalu kaki kecil itu pergi ke kamar Iyutnya yang beberapa hari tidak bergabung dengan mereka. Tibalah mereka di depan kamar, dengan berjinjit meraih gagang pintu lalu mereka membuka dengan perlahan dan terlihat Iyutnya berbaring sambil bersandar di sandaran ranjang tengah melihat televisi. Emir dan Hira pun mengucapkan salam. Iyut pun tersenyum melihat mereka. "Kemari, Cicit-cicit Iyut. Iyut kangen sekali, baru pulang dari sekolah?" tanya Iyut pada bocah itu. Emir dan Hira pun berlari kemudian naik keranjang Iyutnya, ikut berbaring di sana Emir sebelah kanan dan Hira sebelah kiri, tangan-tangan kecil itu memeluk tubuh Iyut lalu menjawab dengan serentak.
"Sudah dari tadi Iyut lalu kami pergi ke Mall bersama kakek dan bermain di sana seruh sekali, kemudian kami makan di Restoran Korea." Iyut tersenyum rasanya dia ingin kembali muda untuk bisa melihat mereka tumbuh dewasa.