
Tak seberapa lama Ia pun kembali membawa dua kotak makanan di dalam kantong plastik yang dia jinjing diletakannya di atas kursi di sebelah Dantai duduk.
"Dan, kau harus makan, jangan sampai kau juga ikut sakit, lalu bagaimana dengan Anta, Emir dan Hira jika kau sakit, kau boleh saja cemas dan kawatir tapi perut harus diisi," nasehat Rio pada temannya itu.
"Aku tak nafsu makan, Ri," sahutnya lirih.
"Tetap harus makan, Dan. Bagaimana kalau Anta sadar dan mencarimu, aku tidak bisa menggantikanmu bukan? Jadi makanlah!" kata Rio membuat Dantai menatap tajam, Rio. terkekeh sambil mengatupkan tangannya.
Akhirnya dia pun makan walaupun rasanya tidak bisa menelannya karena pikiran tertuju pada Anta yang masih diruang ICU.
Sementara itu, Anta merasa berada di dunia lain ia seperti berada di sebuah taman bunga yang indah. Dia sangat gembira karena dia bisa melihat, bunga-bunga bermekaran, sejauh mata memandang hanya bunga-bunga yang ada di situ ia mencari seseorang untuk bertanya di manakah dirinya berada, bukankah dia buta kenapa saat ini dia bisa melihat. Hingga seorang wanita seusia dirinya berjalan cepat di depannya.Anta berlari meraih tangan wanita itu membuatnya menoleh seketika tubuhnya membatu, seorang perempuan yang mirip dengan berdiri di depannya. "Diana!" mata membelalak lebar. Wanita itu pun tersenyum "Kamu kenapa ada di sini? harusnya tempatmu bukan di sini, di sana ada orang yang membutuhkanmu," kata Diana.
"Aku di sini bisa melihat apapun yang ingin kulihat, di sana hanya ada kegelapan saja. Din, biarkan aku ikut dirimu!" pinta Anta memelas.
Kakek tak akan mengijinkanmu tinggal," katanya sambil berjalan menuju gubuk sederhana yang sangat indah.
Seorang kakak yang duduk diantara undak-undakan batu yang ada di depan gubuk. Lelaki tampan blesteran itu Irlandia dan Indonesia itu beranjak dari duduknya mendekati Anta.
Kenapa kemari, Cu. Ini bukan tempat Nak," katanya sambil menatap Anta penuh kasih sayang.
"Aku lebih suka di sini kek, di sini aku bisa melihat, sedangkan di sana aku dan kegelapan,"kata Anta kepada orang tua itu. Coba lihat lah lelaki yang menunduk itu suami dia sangat mencintaimu, lihat raut wajah begitu suram, lalu pandanglah dua orang anak kecil itu menangis merindukanmu," kata kakek itu.
"Tapi aku takut akan kegelapan Kek, selama ini aku berusaha untuk kuat namun aku tak sekuat itu, Kek," kata Anta menunduk tajam.
Percayalah Allah tak akan menguji umatnya melebihi kemampuannya, Nak," Nasehat Kakek itu.
Lelaki tampan blesteran itu Irlandia dan Indonesia itu beranjak dari duduknya mendekati Anta.
__ADS_1
Kenapa kemari, Cu. Ini bukan tempat Nak," katanya sambil menatap Anta penuh kasih sayang.
"Aku lebih suka di sini kek, di sini aku bisa melihat, sedangkan di sana aku dan kegelapan,"kata Anta kepada orang tua itu. Coba lihat lah lelaki yang menunduk itu suami dia sangat mencintaimu, lihat raut wajah begitu suram, lalu pandanglah dua orang anak kecil itu menangis merindukanmu," kata kakek itu.
"Tapi aku takut akan kegelapan Kek, selama ini aku berusaha untuk kuat namun aku tak sekuat itu, Kek," kata Anta menunduk tajam.
Percayalah Allah tak akan menguji umatnya melebihi kemampuannya, kembalilah, Nak. Kasian suami dan anakmu. Jalanlah lurus Nak, jangan menoleh kebelakang lurus saja," kata kakek itu
Anta melihat anak-anaknya dan suaminya, entahlah tiba-tiba itu membuat mantap melangkah ke depan.
Dantai menemui seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Bagaimana dengan istri saya? tanya Dantai
"Pasien sudah melewati masa kritisnya akan di pindahkan di kamar perawatan," jawab Dokter.
Ia menoleh pada Roi, memeluk sahabatnya. "Trimakasih, kau telah menjadi sahabat yang baik.
"Sama-sama, Dan," ucapannya pada Dantai
"Dia telah melewati masa kritisnya, Yo,"jelas Dantai.
"Syukurlah, Dan. Aku turut senang," jawab Rio. Bertepatan itu suara Adzan ashar berkumandang mereka bergegas ke musholla rumah sakit. Sementara itu Anta sudah dipindahkan di ruang perawatan VIP. Dantai dan Rio memasuki ruangan VIP, ia melihat istrinya masih terpejam dengan infus di tangannya, ia menoleh ke sahabatnya. "Kalau kau sibuk, boleh tinggalkan aku, Yo," kata Dantai pada Rio.
"Tidak apa-apa, Dan. Akan aku temani sampai kamu sampai Anta sadar, aku sudah menyerahkan semua urusan kantor ke Yudi," jelas Rio
"Trimakasih, Yo," jawab Dantai
__ADS_1
Dantai duduk di depan ranjang Anta sambil memegang tangannya, ditatapnya wajah ayu wanita yang menemaninya selama enam tahun berselang ini.
Mereka menunggu Anta bergantian di waktu sholat, senja berganti malam Rio pun beranjak dari sofa ketika melihat Dantai berjalan dan masuk ke ruang VIP.
Rio pergi ke mushola untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim, kemudian ia pergi keluar mencari makanan untuk dia dan Dantai.
Rio berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju area parkir kemudian ia masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota malang untuk membeli makanan dan ia berhenti kesebuah rumah makan memesan dua nasi kotak lalu membayarnya kemudian dia kembali ke mobil dan melajukan lagi mencari supermarket terdekat ketika dia menemukannya ia berhenti di situ lalu masuk kedalam mencari air mineral serta membayarnya di kasir sehabis itu, ia kembali ke mobil dan masuk ke dalam lalu melajukan menuju rumah sakit di mana Anta di rawat.
Setengah jam kemudian dia sampai di area parkir rumah sakit, ia keluar dari mobil lalu berjalan masuk dalam rumah sakit tak berselang lama Rio pun sampai, ia masuk dengan membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman lalu meletakannya di meja.
"Makan dulu, habis itu aku tinggal yaa, mencari hotel dan kembali ke sini besok pagi bersama anak-anak ," katanya pada sahabatnya itu.
"Kenapa harus ke hotel, Yo. Tinggal saja di villa sambil menemani anak-anak."
"Baiklah, apa kau sudah dapat kabar dari Aril?"tanyanya pria yang duduk didepannya itu.
"Belum, handphone ku mati dan aku tidak membawa charger," katanya sambil berjalan kearah Rio dan duduk di sampingnya.
"Salva sudah melahirkan anaknya perempuan, ia meminta maaf karena tidak bisa menjenguk kakak iparnya di sini," jelasnya.
"Bagaimana keadaan Salva? aku juga begitu mencemaskan adikku itu," tanyanya lirih.
"Salva baik-baik saja, Dan," jawab Rio
"Syukurlah kalau begitu," jawab dengan legah. Dantai mulai membuka nasi kotak dan mulai memakannya.
"Ingat, Yo! Pulang ke vila saja jangan ke hotel! Di sana ada banyak kamar tersedia," perintah Dantai.
__ADS_1
"Baiklah! jawab Rio sambil menyuapkan makanan di mulutnya.