Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Obrolan Malam


__ADS_3

Jam empat sore Dantai baru saja keluar dari kelasnya melangkah menyusuri koridor jalan menuju area parkir, ia masuk dan menjalankan mobilnya meninggalkan kampusnya. Melewati jalanan yang sedikit padat kadang membuatnya Sebentar berhenti sebentar jalan. Hingga sampai rumah hampir mendekati waktu magrib. Dantai memasukan mobilnya dalam garasi lalu berjalan masuk ke rumah. Dantai mengucapkan salam, "Assalamualaikum." terdengar suara riuh dari dalam menjawab salam, "Wa'alaikum salam." Dantai masuk kedalam terlihat semua orang berkumpul di ruang tengah berbincang-bincang ringan, "Mas Dan baru pulang," sapa Sari saat melihat Dantai baru masuk kedalam, "Eh, iya, Mbak maaf belum bisa gabung mau bersih-bersih badan dulu, " katanya sambil mengatupkan tangannya, lalu berjalan ke kamarnya. Dantai membuka pintu dan masuk ke dalam, nampak sang istri tengah memberikan asi pada Emir putranya. Dantai meletakan tas di atas sofa lalu melepas sepatu nya kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. beberapa menit kemudian Dantai keluar dari kamar mandi, berganti pakaian dengan cepat lalu menghampiri istrinya yang masih memberi Asi pada Emir, bayi itu tidak terlihat kantuk ketika melihat sang ayah justru matanya malah terbuka lebar, setelah kenyang ia menarik terlebih dulu sebelum di lepas, "Hei, kasihan, Bunda Nak, ini yang ditiru siapa sih?" kata Dantai sambil meraih sang putra dari pangkuan sang ibu.


"Kamu mungkin, Yah, " kata Anta sambil mengancingkan baju di bagian dadanya.


"Masak sih Bun?" kata Dantai terkekeh.


"Coba saja tanya pada ibu apa benar begitu."kata Anta lagi


"Gimana tadi seru ngobrol sama Mbak sari, Bun?"


"Iya, seru, ada kabar baru yang belum ayah tahu kan, Papi mengangkat Maera sebagai anak, Mungkin Papi rindu dengan masa-masa kami kecil, kadang aku merasa iri dengan Maera mendapatkan orang tua seperti Papi di saat Papi memutuskan untuk tidak terlalu sibuk sibuk dengan dunia bisnis dan mama sudah mulai sedikit demi sedikit mundur dari dunia yang membesarkan namanya. Andai saja Dan saat ini seperti saat itu mungkin hidup ku lebih terarah."


"Jangan sesali apa yang telah berlalu dan telah terjadi. kau harus bisa ikhlas aku akan selalu di sampingmu."


"Iya, sampai sekarang aku sangat menyesal Yah, andai dulu aku mau menerima nasehat mu mungkin aku bisa menatap wajah tampan Emir, wajah cantik Hira, sayangnya bukan itu yang terjadi aku hidup dalam kegelapan, dan tak tahu entah sampai kapan aku bisa melihat sinar matahari kembali."


"Kau tahu, Bun tidak ada yang bisa melawan takdir, kita hanya bisa menjalaninya dengan hati ikhlas, dan meminta kepada Allah untuk kuat menjalani, Aku percaya bahwa jika Allah, menghendaki pengelihatan mu Kembali, itu akan terjadi walaupun dunia kedokteran sudah mengatakan tidak mungkin tak ada yang tidak mungkin bagi Allah."


Adzan magrib berkumandang Dantai menyerahkan Emir pada Anta lalu menggendong Hira dan mendekapnya hingga adzan selesai dan Kembali meletakan Hira di boxnya Kembali. Kemudian mengambil Emir dan di letakan di dalam tempat tidurnya.


Mereka mengambil air wudhu dan sholat berjemaah di kamar karena Emir belum tidur.


Setelah mereka sholat terdengar ketukan pintu dari luar, Dantai bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu dan menyembulah wajah cantik Maera dengan senyum khasnya, "Apa Emir dan Hira sudah tidur?" tanyanya sambil berlenggak lenggok masuk ke dalam kamar Anta dan Dantai.

__ADS_1


"Tuh main jari," kata Dantai sambil menunjukkan box bayi, Maera pergi ke box bayi ia menjijikkan kakinya untuk bisa lihat Emir, namun sayang ia tak dapat menjangkaunya karena tinggi tiba-tiba saja tubuhnya melayang lalu kakinya menapak kursi bundar dan Dantai di belakang, "Apa tantenya si kembar ini sudah bisa lihat Emir dan Hira," tanya Dantai sambil melepaskan tangannya di atas tubuh Maera.


Maera terkikik sambil membekap mulutnya agar tak terdengar oleh Hira, "Abang sudah tahu? tanya Maera.


"Tahu dong ada, berita seperti pasti cepat menyebar, karena ada wartawan," kata Datai berbisik,


"Mana wartawannya?"


"Itu," tunjuk Dantai pada Anta Maera terkikik kembali.


Maera menatap Emir yang belum juga tidur, "Hai Emir kenapa belum tidur? Apa kamu ingin main dengan ku? Tapi aku belum bisa gendong kamu, gimana ayo?" tanya Maera.


sementara bayi mungil itu hanya tersenyum sambil menjejakkan kakinya. Maera sangat senang ketika bersama si kembar.


Emir gak mau tidur tuh malah senyum-senyum sama Era,


"Adik Emir kok kamu ganteng sekali, kamu suka ya kalau tante Era ini nyanyi, lah yo kudu seneng dek, la wong suarane tante ki enak tenan Bapak mu kalah dek tenanne iki ora mbujuk aku," kata Maera terus berbicara pada bayi Emir, matanya terang benderang.


Tak lama kemudian Anta masuk kedalam, "Yah, Hira sudah bangun belum?"tanya Anta pada Dantai


"Lah ini ikut bangun tapi gak nangis, Bun jagain dulu Hira ya, Ayah mau pindahin Emir ke depan biar leluasa tantenya bermain sama bocah lucu iki loh," kata Dantai sambil menggendong Emir keluar kamar, di luar sudah di sambut oleh Sari.


"Mriki mas, Dan kulo gendonge, kulo wau angen-angen loh mas, bocah ganteng ki wins tangi opo durung?"

__ADS_1


(sini mas Dan saya gendong, dari tadi sudah berharap anak tampan ini sudah bangun apa belum.)


"Ya sudah tadi, Mbak dari saya pulang tadi dan sudah gak mau tidur, sama Maera di ajak ngomong terus Emirnya mala ketawa-ketawa," kata Dantai sambil menyerahkan pada sari lalu masuk lagi mengambil Hira.


Dantai menggendong Hira dan membawanya keluar di ikuti oleh Anta yang ada di belakangnya, Dantai meletakan Hira di kasur lantai busa.


Anta, duduk di sebelah Hira, lalu sebelahnya lagi Maera, setelah itu dia pun keluar menemui Rizal.


"Ngapunten Mas, nembeh saget manggihi panjenengan loh, maklum mata kuliah dinten niki niku padet sangeet malah kulo kadang- kadang ngeh wangsul daluh." kata Dantai pada Rizal yang duduk di kursi tamandepan.


(Maaf mas baru bisa menemui kamu, maklum mata kuliah hari ini itu sangat padat, kadang-kadang saya malah pulang malam saking padat.)


"Oh, enggeh, Mas boten nopo-nopo, Mas


santai mawon." kata Rizal sambil tertawa, ia menyesap rokoknya lalu menghembuskan perlahan.


"Dos pundi kabarepun pondok? sae.


Adik-adik kalean ibu panti dospundi?" tanya Dantai pada Mas Rizal


(Bagaimana kabarnya pondok?apakah baik, bagaimana adik-adik dan ibu panti?)


"Sae sanget malah Mas," jawab Rizal pada Dantai

__ADS_1


(Baik, bahkan sangat baik)


__ADS_2