
Di sebuah rumah panti Kasih Bunda, Rizal menceritakan masa lalunya dan memberikan tes DNA menunjukkan bahwa dia tidak sedarah dengan Sari.
Bu Sri tersenyum," Apa kamu sangat mencintainya Zal?"
"Sangat bu, waktu aku lulus kedokteran pada waktu itu aku ingin melamarnya bu, tapi kata ibu aku tak boleh menikahinya karena kemungkinan aku bersaudara, saat itu aku kecewa sekali bu dan bersedia di tempatkan di desa terpencil, ketika aku kembali rasa cinta itu hadir lagi."
"Ku kira kau sudah melupakan Sari, dan menyukai nak Anta yang ternyata sudah punya calon suami," kata bu Sri pada Rizal.
Rizal tertawa," Maunya gitu bu saat lihat non Anta ku kira aku bisa membuka hati untuknya tak masalah kalau tidak bisa melihat jika membuat ku bisa melupakan Sari."
"Sayangnya ia sudah punya calon suami," timpal bu Sri.
"Sudah sana temui Sari jangan sampai keduluan orang lain," Kata bu Sri, Rizal mencium punggung tangan bu Sri. lalu berjalan setengah berlari ke halaman depan kantin, ia masuk ke dalam mobilnya, lalu menjalankan mobilnya dengan cepat, tak lama kemudian ia sudah sampai di pintu gerbang, beberapa saat sekuriti menanyainya sebelum membukakan pintu, setelah yakin sekuriti itu pun membuka pintu gerbang dan mobil pun masuk kedalam terlihat Sari bersama Anta sedang duduk di teras, ia pun segera turun dari mobilnya dan berjalan kearah teras, Sari yang melihat Rizal jantungnya seakan mau berhenti.
Rizal terus bejalan menghampiri Sari sambil tersenyum ia berkata," Nona Anta saya ingin bicara dengan perawat nona yaitu Sari, saya tahu Sari sedang bertugas maka saya akan bicara di sini saja, tolong nona pura-pura tidak dengar saya bicara." Kekeh dokter Rizal diiringi derai tawa Anta.
Rizal menarik nafas panjang lalu berkata lagi pada Sari," Dek Sari sebenarnya saya sudah lama suka sama kamu, tapi aku takut jika kita bersoudara karena waktu kita di temukan aku sedang menggendong, hingga pada akhir Dantai mengatakan sesuatu yang buatku harus membuktikan dulu apakah kita bersaudara, akhirnya aku melakukan tes DNA dan kau bukan adikku, kau tak sedarah denganmu, maka di Sari hari ini aku ingin mengejar lagi cintaku yang selama ini ku anggap salah ternyata tidak. Dek Sari mau kau menikah dengan ku menjadi ibu dari anak-anakku."
Anta pun bersuara," Ayo trima mbak Sari.,"
Sari menghela nafas panjang," Mas Rizal aku sebenarnya juga menyukai mu, akan tetapi jika kita menikah siapa yang jaga nona, aku ingin menunggu sampai non Anta menikah dengan den Dantai."
Rizal pun tersenyum, " Setelah menikah kamu masih boleh menjadi perawat non Anta, aku juga bertugas di sini, tapi non Anta malam hari Sari milikku aku gak mau ya berbagi dengan mu nona," katanya sambil tersenyum, Anta tergelak danSari pun meremang mendengar ucapan manis dokter Rizal.
"Baik mas Rizal aku ...aku mau jadi istri, acaranya kapan mas Rizal saja yang menentukan."
Bagaima kalau 1 bulan lagi? apa kau setuju?"
__ADS_1
Sari pun mengangguk tanda setuju.
Dokter Rizal merogoh sakunya ia terkejut apa yang akan di berikan untuk Sari tak ada di sakunya ia baru ingat bawa cincin itu masih di dalam laci kamar nya dan belum ia bawah.
"Sari maafkan mas ya.., cincinnya tertinggal di rumah mas lupa bawa," katanya sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal dan tersenyum sambil menahan malu, Anta kembali tertawa," Mas dokter romantis udah kena tapi ambyar deh."
"Nona saya tadi kan nyuruh anda pura-pura gak dengar," kata dokter Rizal pada Anta, sekali lagi Anta tertawa," Ok! deh aku gak dengar," kata Anta tersenyum.
Sari pun ikut tertawa," gak papa cincinnya belakangan, yang penting Sari tahu kalau Sari ternyata tak bertepuk sebelah tangan.
Duduk pak dokter, bibi sudah bawakan minuman dan camilan kata bik Ija yang dari tadi berdiri membawa baki berisi minuman dan makanan.
"Aduh jadi malu sama bik Ija," katanya sambil tertawa.
"Gqk usah malu bik Ija mah juga pernah mudah jadi gak perlu malu, dulu pak man itu ngelamar bik Ija gak pakai cincin, tapi bik Ija sudah senang, neng sari mungkin juga senang hari ini di lamar oleh den dokter walau cincinnya ketinggalan," kata bik Ija tersenyum.
"Non jangan ketawa terus kasihan den dokter sudah merah ungu ini wajahnya," kata bi Ija sambil berjalan meninggalkan mereka bertiga.
Sari tersenyum," Duduk sini mas Rizal, silakan di minum mas," kata Sari malu-malu.
"Aku mau pulang sebentar dek mau ambil cincin," katanya lagi sambil meminum teh hangat buatan bik Ija.
"Gak usah mas besok aja, di sini dulu aja," katanya manja.
"Aku gak dengar pak dokter, silakan rayu-rayu mesrah." kata Anta. Mereka pun tertawa.
Sementara itu Dantai sudah dalam perjalananya dari Surabaya ke malang. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan menuju kota Batu, sesekali senandung terdengar dari bibir nya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dantai sudah sampai ia pun terkejut ketika ada mobil di plataran vila.
Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju ke teras, nampak ketiga orang tertawa setelah ber bincang Dantai mengucapkan salam dan di balas dengan serempak.
"Hai Sayang, cantik sekali kamu hari ini," kata sambil duduk di sebelah Anta tatapannya tak melepaskan dari wajah Anta.
"Kayaknya ada yang baru jadian ni? tanya Dantai, sambil menatap dokter Rizal dan Sari bergantian, lalu menyomot pisang goreng lalu di makannya.
Anta tertawa seketika, mendengar Dantai bertanya itu pada ke dua pasangan itu.
"Kenapa ketawa sayang kayaknya ada yang terlewat oleh ku?" tanya Dantai.
Anta pun menceritakan pada Dantai apa yang tengah terjadi tadi kepada Dantai, Dantai pun tertawa sambil menepuk bahu Dokter Rizal.
"Tidak apa-apa yang penting hatinya pak dokter plong sekarang gak ada keraguan lagi mengenai siapa mbak Sari." kata Dantai l,Sari pun tersipu malu.
"Sana ajak kencan, hari ini mbak Sari saya liburkan ini sudah ada saya disini," kata Dantai tersenyum sambil menaikturunkan Alisnya.
"Heh.., perawat siap dulu main liburkan saja," kata Anta pura-pura jengkel.
Perawat kamu lah sayang, tapi aku kasihan sama dokter Rizal kelihatan ini punya waktu privasi deh sayang." kata Dantai terkekeh melihat duduk dokter Rizal serasa tak nyaman.
Anta pun terkekeh," Sudah sana dokter Rizal ajak pergi, aku sudah ada ada mas Afif." kata Anta pada mereka.
"Duh manisnya panggilan mu sayang, harus begitu terus ya," kata Dantai.
Dokter Rizal pun minta ijin untuk mengajak Sari keluar.
__ADS_1