
Sesampainya di sana di terkejut melihat Narti yang masih duduk di dalam pos penjagaan. "Loh kenapa masih di sini, dek?" tanya Sofyan pada istrinya itu.
"Ya, mau nemenin, Abang. Biar gak ngantuk." kata Narti senyum mautnya yang bisa membuat Sofyan klepek-klepek.
"Kalau kamu di sini benar Abang gak ngantuk tapi ya akhirnya gak fokus juga, Dek," kata Sofyan yang tak pernah bosan menatap tubuh istrinya itu.
"Wis toh, Mas. gak usah ngadi-ngadi!" katanya Narti sambil membuang mukanya ke arah lain.
Sofyan tertawa. "Iyo, Dek. Aku tadi kena peringatan Bos," katanya sedikit lemas.
Narti tertawa. "Habis Mas Sofyan gak segera mengangkat telponnya Den Rio, jelas saja marah."
Sofyan tertawa. "Tadi Den Rio itu bilang suruh cari orang sekuriti baru untuk mengantikan ku, aku ya kaget to, Dik. Tak kira aku akan di pecat, Dik. Ternyata biar aku ada temannya dan bisa menggantikanku saat bersama denganmu."
"La kamu Mas, setelah nikah sama aku itu malah lupa sama kerjaan kok, Mas," kata Narti sambil terkekeh.
"Kerja yang bener, Mas! Aku gak mau loh, suamiku pengangguran!" kata Narti memperingatkannya.
"Iya, Dek aku juga gak mau jadi pengangguran, jelas aku malu sama sampean," kata Sofyan.
"Yo, wis Mas, tak tidur dulu," kata Narti sambil meninggalkan suaminya itu.
"Loh-loh, Dek lah iki siapa yang menemani aku? Lah Aku ya ikut ngantuk toh kalau gak ada pandangan indah," kata Sofyan.
"Mangkanya Mas, cari teman buat ronda biar bisa tengok-tengok istri," kata Narti sambil berlari masuk ke dalam rumah.
...----------------...
Jam 20.30 Dantai tiba di rumah dia keluar mobil bersama Anta, lalu dia membuka bagasi mobil mengambil beberapa koper di bantu oleh Pak To.
Dantai membawa koper berisi pakaian ke dalam kamarnya sedang koper-koper lainnya dibawa pak To dan di taruh diruang tamu, Hira dan Emir berlarian menuruni tangga menyambut kedatangan mereka, Ayah, mana Bunda?" tanya Hira dan Emir.
"Hai, jangan lari-lari nanti jatuh!" larang Dantai pada putra-putrinya.
"Bunda Mana?" tanya Emir kembali
"Bunda ada di kamar, mungkin masih mandi, tunggu di sini yaa!" saran Dantai pada putranya dan Emir mengangguk dan tersenyum.
Dantai masuk kedalam kamarnya, terdengar gemericik air di dalam kamar mandi menandakan sang istri ada di kamar mandi.
Dia duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Tak lama kemudian terlihat anta keluar dengan mengenakan bath robe dan handuk yang membungkus rambutnya.
Dantai terseyum melepaskan sepatunya ditaruhnya di atas rak sepatu, kemudian berjalan ke kamar mandi sambil berkata, "Di tunggu anak-anak di luar." Anta pun mengangguk.
Tak lama setelah itu, terdengar kucuran air di dalam kamar mandi. Anta segera mengganti pakaiannya dan mengoleskan krim malam pada wajah lalu ia pun keluar dari kamarnya menemui putra-putrinya yang selama satu Minggu tidak lihatnya itu.
Emir dan Hira berlarian menyongsong sang bunda yang menghampirinya.
"Hai, apa kabar? Bunda kangen," sapa Anta pada mereka.
"Kami juga rindu pada Bunda," kata mereka.
"Oh yaa, sebesar apa rasa rindunya?" tanya kembali pada mereka.
"Sangat besar tidak bisa di hitung dengan jari atau pun di gambarkan dengan kata-kata," jawab Emir sambil tertawa.
Anta tertawa lalu diciumnya pipi ke dua bocah itu. "Kalian tidak nakal, 'kan?" tanya pada anak-anaknya.
"Tidak, kami, 'kan anak baik," jawab mereka serempak.
"Oh yaa, Bunda sangat beruntung punya anak-anak yang baik juga tampan dan cantik," kata Anta memberikan pujian pada mereka.
Anta terkekeh. "Ada di ponsel Ayah, nanti yaa kalau Ayah sudah keluar dari kamar," kata Anta pada putrinya.
Tak lama kemudian, Dantai keluar dengan pakaian santainya atasan kaos dan bawaan celana pendek selutut.
"Ayah pinjam ponselnya, Hira mau lihat foto liburan Ayah dan Bunda," pinta Hira
Dantai tertawa. " Ponsel Ayah sedang lowbat masih di charger."
Hira mengerucut bibirnya. "Kenapa sebelum pulang tidak charger?" tanya Hira pada Ayah.
"Maaf, Ayah lupa?" katanya sambil menjewer telinga sendiri membuat putrinya itu kembali tertawa.
"Kok, sepi, pada kemana?" tanya Dantai,
"Nenek Rina dan Kakek Andi pulang ke malang, Nenek Ira dan kakek Harlan sudah pulang ke Singapura," jawab mereka.
"Kalian tidak ikut pulang?" tanya Dantai pada putra-putrinya.
"Kami menunggu Ayah dan Bunda untuk sama-sama pulang ke Singapure," kata mereka.
__ADS_1
"Oh ya, kenapa?" tanya Dantai pada mereka.
"Di sana sepi, Ayah, Kakek Andi dan Nenek Rena kan menetap di malang, tidak pulang ke Singapure.
"Oh, iya Ayah lupa," sahut Dantai dengan menepuk keningnya.
Aril berjalan menuruni tangga menemui sahabat juga kakak iparnya itu.
"Baru sampai?" tanyanya sambil duduk di kursi meja makan di sebelah Dantai.
Anak-anak sudah berlarian naik ke atas kembali ke tempat tidurnya masing-masing. "Jangan lari nanti jatuh!" larang Dantai lagi.
Dantai menatap sang sahabat yang menjadi suami dari adiknya.
"Sudah dari tadi," katanya.
"Bagaimana bulan madunya? Apa sangat menyenangkan?" tanya Aril pada Dantai.
"Ya sangat menyenangkan sekali apalagi sekarang Anta sudah bisa melihat kembali jadi lebih asyik," katanya terkekeh yang kemudian mendapat kan pukulan dari sahabatnya itu.
"Aku bertemu Rio dan istrinya, di sana. Awal aku sangat terkejut, karena di mirip sekali dengan Hira hanya matanya saja yang membedakan mereka," kata Dantai meneruskan kembali.
"Apa Rio sudah menikah?"
"Kau tidak tahu? Padahal sekarang Istrinya itu sedang hamil, Apa dia bukan pasienmu?" tanya Dantai pada Aril yang notabenenya adalah dokter spesialis kandungan.
"Bukan pasienku, mungkin pasien dia pasien dokter Dara," kata Aril sambil menatap temannya itu.
"Apa dia cantik?" tanya Dantai
"Mana ku tahu? Yang bertemu, 'kan kamu, Dan?" protes Aril.
"Bukan istrinya Rio, tetapi Dokter Dara?" tanya Dantai pada Aril
"Masih cantik adikmulah, Dan. Istriku itu paling cantik dan hem-hem, aku sangat tahu kelebihan apa yang ada di tubuh Salva hingga benar-benar aku mengejarnya," katanya tertawa dan juga di ikuti tawa Dantai mendengar kelakar dari temannya itu.
"Apalagi, susah tuh dapatin dia, sudah dapat hatinya masih harus merayu hati kakaknya pula," lanjutnya sambil tertawa.
Dantai tertawa. "Aku tidak memberi sarat apa-apa hanya jangan permainkan dia saja," kata Dantai.
"Mana ada? Justru aku yang gak bisa lepas dari Adikmu itu, sudah dari dulu dia ku incar dan aku sangat bersyukur, dia mau sama aku," kata Aril pada Dantai.
__ADS_1