Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Kebersamaan 2


__ADS_3

Nenek Nirma kembali tertawa hingga sudut matanya keluar air mata, di genggamnya tangan kekar Dantai menatap penuh kasih sayang. "Trimakasih telah menerima cucuku yang sudah tak sempurna dulu, menemaninya dalam keterpurukan, dan memberikan limpahan kebahagiaan untuknya serta membuatnya tertawa di setiap saat."


Dantai tersenyum mencium punggung tangan wanita renta itu. "Aku mencintainya saat dia remaja lalu dewasa kemudian menjadi tua, selalu tetap mencintainya, Nek. Saat dia bisa melihat atau pun tidak." Nenek Nirma tersenyum pada Dantai sambil menyeka air matanya.


Emir Melihat Iyutnya berbicara dengan ayah menjadi curiga, ia mengajak Hira untuk mendekati mereka dan meninggalkan pelajarannya.


Tiba-tiba suara Emir mengejutkan Dantai yang tengah berbicara pada Nenek Nirma. "Kenapa Ayah buat Iyut menangis?" tanya Emir pada Ayahnya sambil menatap tajam.


Dantai terkekeh sambil mengelus rambut Emir. "Mana ada karena Ayah? Iyut nangis karena bahagia melihat kalian yang selalu ceria, jadi jangan bertengkar lagi agar Iyut selalu bahagia." Emir menoleh pada Iyutnya. "Benar itu, Iyut.


Kalau sampai Ayah buat Iyut nangis bilang sama Emir yaa, Biar Emir yang hadapin Ayah." Nenek Nirma, Andi, Rena dan Dantai tertawa.


Nenek Nirma menyentuh pipi Emir dan tersenyum. "Iyut menangis karena bahagia Ayahmu lelaki hebat, penuh kasih sayang mana mungkin membuat Iyut menangis." Emir memeluk iyutnya sambil menoleh ke Ayahnya dan tersenyum.


Dantai menyuruh si kembar kembali belajar dan Dantai menemani mereka menjelaskan materi yang mereka tidak paham, karena mereka sangat cerdas Dantai tak begitu kesulitan untuk menjelaskannya bahkan pelajaran yang ditanyakan Emir dan Hira adalah pelajaran di atas kelas mereka.


Mereka sudah bosan dengan materi yang di terima di kelasnya bahkan kepala sekolah di sana menyarankan untuk lompat ke kelas 3, Dantai pun tidak keberatan asal menunggu usia Emir dan Hira enam tahun.


Setelah mereka selesai belajar mereka berpamitan pada Iyut, Kakek, Nenek dan Ayah, Emir dan Hira mencium punggung tangan mereka lalu pergi ke kamar mereka di atas.


Dantai menghampiri Nenek Nirma. "Nenek mau ke kamar, Dantai antar ya, Nek." Nenek Nirma mengangguk lalu Dantai mendorong kursi rodanya masuk kedalam kamar.


Kemudian menggendongnya dan dibaringkannya di ranjang, di selimuti tubuh neneknya lalu mencium punggung tangan neneknya. "Selamat tidur Nek." Nenek Nirma tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Dantai keluar dari kamar nenek menuju kamarnya sendiri. Dantai membuka pintu kamarnya terlihat Anta sedang memakai skincare di wajahnya.


Dantai memeluk Anta dari belakang. "Makanya istriku cantik sekali, kamu pandai merawat diri jadi membuatku selalu jatuh cinta setiap hari." Anta terkekeh. "Kau selalu bisa menggombal, Dan."


"Ini benar aku tidak menggombal, ayo tidur sudah malam." Mereka pun naik ke ranjang dan tidur saling berpelukan terkadang tangan Dantai tidak bisa diam. "Dan, hari ini kita tidur saja," kata Anta yang mulai terusik.


"Tapi aku ingin, bagaimana dong?" tanya Dantai.


"Dan, kita tidur dulu ya, aku sudah ngantuk." kata Anta sambil menguap.


"Bagaimana kalau aku yang bekerja kamu tidur saja," kata Dantai memberikan penawaran.


Anta memukul tangan Dantai. "Tetap tidak bisa begitu Dan! aku juga tetap merasakannya." Dantai terkekeh. "Sebentar saja, Sayang." bujuknya pada istrinya itu.


Pagi hari adalah hari yang paling sibuk dan heboh, si kembar akan paling sibuk sendiri membantu Rena dan bik Sarti, minta membantu membawakan ini, membawakan itu dan terakhir akan berlari berputar mengelilingi kursi lalu duduk tenang.


Setelah makanan sudah siap di meja, Rena mulai mengambilkan makanan si kembar, begitu hebohnya mereka berdua minta ini dan itu dengan tangan mereka menunjuk makanan yang di inginkan, terlebih Hira tak urung sang kakek juga ikut mengambilkannya.


Beda lagi sama Emir dia akan mengangkat piringnya lalu memberikan kepada ayahnya. "Seperti punya Ayah," katanya sambil menaikan alisnya keatas berulang kali. "Ini pedas loh, mau?" tanya Dantai pada putranya.


Emir mengangguk. "Aku suka pedas seperti Ayah." Dantai tersenyum mengambil balado udang yang di minta Emir dan panggang ayam pedas. "Cukup, Ayah," selah Emir membuat Dantai berhenti mengambilkan lebih banyak lagi, lalu diberikan kembali piringnya pada Emir.


Dantai menoleh ke istrinya. "Bun, kita makan bersama saja dalam satu piring, sini Ayah suapin," katanya sambil menaruh nasi Anta kedalam piringnya lalu mengambil makanan yang di sukai sang istri dan di suapkan kedalam mulut Anta.

__ADS_1


Seketika itu si kembar heboh. "Cie-cie Ayah mesra sekali sama Bunda."


Anta pun merona sementara Rena dan Andi terkekeh dengan ulah cucunya yang menggoda orang tuanya.


sesat hening dan sibuk dengan makanannya sendiri tiba-tiba Hira bertanya pada Ayahnya. "Kenapa teman-teman Ayah gak pernah kesini lagi padahal Hira rindu loh sama om Rio? Tante Salva juga sama sok sibuk padahal enggak 'kan?"


Dantai tersedak, mendengar perkataan anaknya, buru-buru ia mengambil segelas air dan meminumnya lalu meletakan gelasnya di meja. "Semua lagi sibuk, Ra. om Rio, om Rudi, om Gibran dan om Aril, tantemu juga sangat sibuk karena Izyan masih kecil sekarang tante juga sedang hamil gak boleh berpergian jauh."


Hira menyuapkan makanan di mulutnya sambil menjawab," Kan bisa telpon ke Hira, om Rio sombong, gak mau ketemu Hira lagi dan gak mau telpon Hira."


"Nanti coba Ayah telpon yaa, sekarang habiskan dulu makanan, nanti terlambat sekolah. Mau diantar siapa?" tanya Dantai sambil menyuap makanan di mulutnya lalu berganti ke Anta.


"Mau sama Kakek," teriak mereka berdua Hira meletakan sendoknya di piring yang kosong menatap Ayahnya. "Benar yaa, Yah. Janji loh telpon om Rio." Dantai tersenyum dan mengangguk.


Dantai menyudahi makanan dan mencuci tangannya begitu pula Anta. Mereka pun berpamitan kepada Andi dan Rena untuk berangkat bekerja.


Dantai membawa tas jinjingnya dengan tangan kiri dan tangannya menggamit pinggang Anta, mereka masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah kediamannya serta berjalan dengan kecepatan sedang menuju kantor Anta.


Setelah sampai di kantor Dantai berhenti di area parkir keluar bersama Anta. "Tidak perlu di antar, aku tidak apa-apa," katanya sambil menutup pintu mobil.


Dantai berjalan dengan tenang menghampiri istrinya tanpa berkata apa-apa lalu merangkul pinggang istrinya. "Jangan menolak dan jangan katakan apa-apa, kau tanggungjawabku, aku harus memastikan kau baik-baik saja."


Dantai terus berjalan melewati lobby lalu masuk lift kemudian keluar serta berjalan melewati beberapa hingga sampai di ruang CEO yang menjadi ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2