Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Untuk Siapa Diding Hatimu Kau Bangun


__ADS_3

Sunyi tak ada jawaban dan panggilan masih tersambung satu detik berlalu hingga berganti menit.


"Jas ... kau masih di situ," panggil Rio untuk memastikan bahwa Jasmine masih mendengarkan suaranya.


"Ya, aku mengerti." Akhirnya suara itu kembali terdengar ada nada kecewa di balik jawaban Jasmine istrinya.


"Kau juga harus tidur, Bang. Agar selalu sehat biar bisa bekerja untuk memberiku uang yang banyak dan ku gunakan untuk belanja menghibur hatiku dari kesunyian ini." jawabnya.


Rio hanya tersenyum dia tahu itu adalah sindiran yang diberikan untuknya. "Yaa, aku akan bekerja keras untukmu dan anakmu agar kamu bisa bersenang-senang, Sayang. Sudah dulu yaa masih ada yang harus dise--"


"Assalammualaikum." Dan sambungan telepon pun terputus sebelum dia menyelesaikan pembicaraannya, dengan nada sedikit ketus Istrinya mengakhirinya dengan salam. Rio hanya bisa tersenyum sambil menjawab salam yang tak mungkin bisa di dengarkan lagi oleh istrinya.


Ia meletakan handphonenya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Rio melihat langit-langit kamarnya kemudian ia pun memejamkan matanya mencoba untuk tidur sejenak sebelum fajar memaksanya bangun kembali.


Tepat jam 04.00 pagi, Rio terbangun oleh suara alarm dari handphone-nya. Dia bergegas masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah beberapa menit Rio keluar dengan hanya berbalut handuk sebatas pinggang dan lutut. Ia mengambil pakaian bersih yang ada di lemari, kemudian memakainya.


Sambil menunggu adzan subuh ia menyeduh kopi dengan menggunakan teko listrik untuk memasak air. Semenjak ia menikah, ia jarang sekali pulang dengan alasan harus lembur atau harus ada rapat dengan klien.


Masih ingat olehnya, sehari setelah menikah Jasmine mengajukan sebuah permintaan yang berat ia ujudkan sebenarnya. Akan tetapi bagaimanapun juga ia telah menikahi gadis itu, dan telah terucap hijab khobul. Maka saat itu ia pun memberikan apa yang diinginkan Jasmine." Bisa di hitung dengan jari ia melakukannya dengan Jasmine.


Rio menyesap kopinya sedikit untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya.Terdengar adzan subuh berkumandang ia pun bergegas pergi ke masjid yang masih berlokasi dengan gedung perkantoran miliknya, beberapa pekerja yang sif kerja malam membungkuk hormat padanya.

__ADS_1


Salah satu pegawai memimpin Sholat jama'ah. Setelah itu, berdoa dan berdzikir, setelah selesai mereka berpamitan pada Rio untuk kembali ke pos mereka yang saat ini di jaga pekerjaan non muslim.


Rio mengirim pesan pada asistennya bahwa ia telah berada di kantor, kemudian ia berjalan melewati lobby dan masuk kedalam lift menuju lantai atas kembali ke ruangannya.


Rio sudah berada di depan pintu ruang kerjanya. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam, kemudian berjalan ke arah kamarnya yang biasa ia tempati untuk tidur, jika dia merasa lelah ketika berada di kantor. Rio mengambil kopinya serta membawanya keluar lalu duduk di sofa sambil meminumnya.


Sementara itu, di rumah Jasmine belum tidur sama sekali, semenjak ia memutuskan panggilan sepihak pada suaminya, ia tak pernah tahu apa yang membuat hati suaminya membeku laksanakan bukit es di kutub utara.


Dia mencoba untuk melunakkan hati suaminya dengan hangatnya cinta yang ia tabur setiap saat, namun kehangatan itu tak cukup membuat pria itu menoleh padanya dan menyambut bunga-bunga cinta yang setiap detiknya mekar lalu layu dengan begitu cepatnya, bahkan tak pernah sempat mekar karena di terjang oleh dinginnya hati yang tak pernah bisa menghangat.


Hatinya luka setiap kali ia ingin bertemu, kerinduan yang tak bertuan dirasakan setiap detiknya bahkan serasa detak jantungnya tiba-tiba terhenti tatkala rindu itu berguguran. Jasmine selalu berfikir untuk apa dia menikah, untuk dirinya sendiri ataukah kebahagiaan seseorang yang dia sebut mertua.


'Mas tidak bisa aku tinggal diruang sempit hatimu sekedar merasakan sedikit saja kehangatan cintamu untuk siapa dinding hatimu itu kau bangun.


Jasmine menghapus air mata, ia membuka mukenanya kemudian melipatnya dengan rapi, ia pun beranjak berjalan ke dapur membuat sesuatu untuk dirinya sendiri, bahkan pertanyaan asisten rumah tangga seolah menguap begitu saja seperti tak terdengar sama sekali, hingga masakannya matang lalu memakannya dengan lahap.


Masakan Korea yang begitu pedas itu menjadi pilihan untuk mengobati hatinya yang luka. "Nyonya, jangan terlalu makan makanan pedas, nanti kalau lambungnya sakit, saya nanti akan di marahi oleh tuan Rio," kata Narti asisten rumah tangganya.


"Kamu gak usah risau, Tuanmu itu tak akan peduli padaku, ia hanya peduli dengan pekerjaannya dan hatinya, Nar."


"Anda salah Nyonya bukankah kemarin anda juga diantar untuk periksa kandungan, mungkin benar tuan Rio lagi sibuk di kantor nyonya."

__ADS_1


Jasmine menghembuskan nafasnya dengan kasar, tanpa menjawab apa yang dikatakan Narti ia pergi begitu saja. Rasa kesalnya semakin menjadi saat Narti menasehatinya seperti itu, ia pun masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam.


Narti menatap iba sang majikan. Ia pun membersihkan meja makan dari piring dan gelas kotor lalu membawanya ke dapur.


...----------------...


Di kantor Rio sedang berkutat dengan pekerjaannya sesekali ia pergi bersama Yudi menemui kliennya membahas kerja sama dengan mereka di sebuah restoran ternama, beberapa percakapan serius terjadi hingga akhirnya mereka menandatangani sebuah kesepakatan kerja.


Ada banyak agenda yang harus di selesaikan saat ini juga. Apa yang menjadi kegundahan hati ia lampiaskan pada pekerjaannya. Bagi Rio dia tidak berbohong dengan pekerjaannya tapi tidak dengan Jasmine, Wanita itu mengganggap bahwa Rio menghindarinya dengan alasan sibuk.


Setelah terjalin sebuah kesepakatan mereka meninggalkan restoran itu kembali ke kantornya.


Setelah tiba di kantor ia pun kembali sibuk dengan laptopnya dan berkas-berkasnya yang harus di tandatangani hingga terdengar adzan dhuhur baru meninggalkan pekerjaan untuk sholat dhuhur.


Setelah itu, ia pun pergi kesebuah kedai sederhana entah mengapa ia merindukan suasana di SMU bersama teman-temannya menghabiskan waktu dengan makan di kedai sederhana dan bersendagurau dengan mereka serasa tak ada beban dan masalah saat itu.


Rindu terhadap teman-temannya membuat ia pergi ke kedai ini memesan nasi ayam bakar dan urap-urap sayur serta es dawet sebagai minuman andalan kedai itu.


Rio memakan makanan pesanannya dengan sangat lahapnya. Setelah selesai ia pun kembali ke kantor dengan rutinitas yang benar-benar membuat ia tak mampu memikirkan hal yang lainnya selain pekerjaan.


Waktu berjalan dengan cepat namun pekerjaan tidak kunjung selesai, karena Ketika telah selesai maka akan mencari kembali, sehingga pekerjaan tidak akan pernah selesai karena di gantikan yang baru.

__ADS_1


__ADS_2