Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Keraguan Pada Diri Sendiri


__ADS_3

Setelah bercakap-cakap Aldo pun berpamitan pada semua anggota keluarga uang ada di situ.


Aldo pun keluar rumah dengan diantar Maera, sebelum masuk mobil Aldo mencuri ciuman di pipi Maera membuat Aldo gemas,"Ok! Tunggu sebelas tahun lagi akan kupinang kau."


Mobil itu pun berjalan meninggalkan rumah Dantai menuju Apartemennya


setelah sampai ia pun masuk ke kamarnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu berganti pakaian rumahan.


Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya terus aja pada gadis kecil itu. Dia pun berfikir apakah ini normal, kenapa baru bertemu membuatku tak mampu berpaling dari dia, tapi ini bukanlah hasrat tapi sebuah keinginan untuk menjaganya, ia pun mengumpat dalam hati, "Si@l apa ini?apa aku masih normal? jika aku menyukai gadis kecil itu, aku jadi seperti seorang Pedofil, tapi ku rasa bukan itu karena rasa sukaku ini cenderung menjadi pelindung buatnya. Apa aku harus pergi darinya dan menunggu ia dewasa? Tapi bagaimana kalau dia di cintai Pria lain yang seusianya jika aku meninggalkannya? Ahh, bodoh amat! Aku harus menjaganya, mengawalnya kemanapun dia pergi dan menyingkirkan rumput-rumput liar. Menjaga dan menyingkirkan pria yang akan menyukainya.


Di mengambil handphonenya, memesan makanan untuk makan malam. Tak lama kemudian suara ketukan pintu dari luar, Aldo berjalan dan membuka pintu tampak seorang lelaki mengantarkan pesanan, ia pun menerimanya dan membayar pesanan itu lalu membawanya masuk kedalam ruang makan, ditaruhnya di atas meja di depan tempat duduknya, di bukanya nasi kotak itu dan mulai memakannya setelah selesai ia meminum segelas air putih yang sudah ia siapkan sebelumnya di atas meja, lalu membuang kotak makan di tempat sampah di samping wash kitchen cabinet.


Aldo berjalan masuk ke kamarnya lalu menaiki tangga menuju balkon di ambilnya rokok kemudian menyulutnya dan menyesap dalam-dalam asap rokok dan menghembuskannya keluar dari lubang hidung dan mulutnya.


Aldo menatap hingar-bingarnya kota Singapore di malam hari, menerawang jauh pikiran hingga berlabuh pada ingatan masal lalunya, dia selalu merasa kesepian dalam hidupnya, menjadi pewaris tunggal dari pengusaha restoran ternama di Singapore yang telah kehilangan seluruh keluarganya, hanya tinggal kakeknya dan bibi pengasuhnya'lah yang selama ini masih memberikan kasih sayang yang penuh padanya.

__ADS_1


Dua tahun yang lalu kakeknya telah meninggal karena sakit menua, sebelum menutup mata untuk selamanya kakeknya berpesan, "Al, carilah kebahagian dengan sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum, maafkan'lah kakek yang tidak bisa memberikan kebahagiaan buatmu,Nak. Jika nanti kau mencari pendamping carilah Seseorang yang bisa membuat harimu berwarna."


"Ya, aku telah menemukannya, tapi dia masih kecil, kek." gumamnya sambil terkekeh.


Angin menerpa lembut tubuh kekar pria itu, kepulan asap rokok masih terus keluar dari bibirnya, membaur dengan harum bunga sedap malam yang terbawa angin, menyeruak masuk di rongga hidungnya, memberikan aroma yang lain yang sedikit menyejukkan di hati pria tersebut.


Belum terlalu malam untuk sekedar menyapa teman atau sahabat, tak ada kata sungkan untuk mengganggu sejenak malam syaduh seseorang yang ada di seberang sana. Aldo tersenyum mengambil gawainya di saku celananya. ditekan nomer yang ingin di tuju, tak seberapa lama tersambung juga, "Ada apa Pak dosen? kalau gak ada perlu jangan ganggu dulu, Pak!" lalu telpon terputus Aldo pun tertawa, rasanya telah puas mengerjai pasangan itu. Baru kali ini dia tertawa lepas setelah melepas kepergian ayah dan ibunya karena kecelakaan, dia seolah lupa cara tersenyum dan tertawa, kehidupannya di penuhi dengan kesibukan, belajar dan mengelolah usaha orang tuanya, setiap hari dijejali dengan ilmu bisnis dan lainnya lalu mengikuti kakeknya menemui klien-kliennya. Setelah menghabiskan beberapa batang rokok akhirnya dia masuk ke kamar tidurnya.


Di rebahnya tubuhnya di atas ranjang. Di pejamkan matanya agar segera terlelap dilarutnya malam.


Aku berlari mendekati sosok yang begitu ku rindukan selama dua tahun ini. Setelah dekat kakiku membantu tak sanggup untuk maju lebih dekat lagi, lelaki tua itu tersenyum. Terdengar suara yang berat, lantang dan menyejukkan, "lihatlah air itu akan berjalan turun sesuai dengan jalannya, ada yang lambat dan ada yang mengalir deras hingga meluber ke dataran, begitu pula manusia, akan bertemu seorang menjadi jodohnya lebih cepat atau lebih lambat. Tak ada yang salah dalam dirimu berusahalah tenang jadilah jiwa yang sejuk hingga dia selalu berlindung di dalam dan tak ingin keluar walau banyak pernik-pernik kehidupan usia muda menawarkan petualangan yang lebih menarik."


"Kakek aku rindu, sangat rindu denganmu," kata Aldo menatap wajah tua yang begitu bersih dan bersahaja.


"Aku selalu di hatimu,Nak. Kapanpun kau membutuh'kanku, tanyakan hatimu, jadi jiwa yang tenang dan teduh maka akan menjadi tempat yang ternyaman.

__ADS_1


"Kek, aku ingin memeluk agama Islam, tolong ristui aku." ijinnya pada sang kakek.


"Ikuti kata hatimu, Al. Jadilah jiwa yang tenang dan teduh," kata-kata itu kembali terdengar aku menoleh kearah kakekku duduk namun tak ketemukan dia di sana aku berlari mencarinya sambil berteriak, "Kakek kemana kau?!"


Aldo terus berlari mencari sesosok pria tua yang selama ini dia rindukan.


Aldo terbangun ketika badannya menatap sesuatu yang keras dan kepalanya terbentur lantai.


Matanya membuka lebar dengan rintihan lirih karena ia terjatuh dari ranjangnya, nafasnya tersengal-sengal seolah-olah ia berlari begitu jauh, di tatapnya seluruh ruangan kamar lalu beralih pada jam dinding masih jam tiga dini hari. "Hanya mimpi," gumamnya lirih.


Ia pun bangun lalu berjalan sedikit terhuyung karena kantuk masih menyerangnya.


Aldo berjalan keluar kamar menuju ruang makan membuka lemari es dan mengambil air dingin yang berada di botol dan langsung menegaknya dan menyisakan setengah isi dari botol itu lalu mengembalikan di dalam kulkas.


Aldo berjalan kembali ke kamarnya dan Kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sedikit terasa sakit seluruh tubuhnya karena habis terjatuh. Dipejamkan kembali tubuhnya mencari kenyamanan dari matras tidurnya, tak lama kemudian hanya terdengar dengkuran halus di antara detak jam dinding yang berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2