Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Kecelakaan


__ADS_3

8 bulan kemudian pengumuman kelulusan telah di umumkan nilai Dantai menjadi urutan atas dan nilai Anta yang kedua, mereka sangat bersuka cita. Untuk merayakan kelulusan dan perpisahan seluruh kelas XII akan mengadakan perkemahan di Ledok Ombo Malang.


Di sebuah kafe di Surabaya nampak sudah berkumpul Riko, Mutia, Billy, Anta dan Dantai di sebuah meja.


"Kita gak akan berangkat bersama dengan teman-teman?" tanya Dantai pada Anta.


"Enggak Dan, kita rencana mau balapan untuk terakhir kali, kita akan berpisah lama. Aku mau kuliah ke swiss, Billy ke Jerman dan kamu mau kemana An?"


"Entahlah, rencananya sih kita mau nikah setelah lulus ini. Ayah dan ibunya Afif akan tiba di sini 2 hari lagi. Tentunya kalau aku jadi menikah dengannya aku juga harus ikut dia ke Singapura," jawab Anta sambil menatap Dantai.


"Kenapa sih kalian pakai acara balapan segala? Ku pikir itu tidak perlu, kalian sudah pernah bersenang-senang dengan balapan liar selama 2 tahun di sana hingga kalian mendapatkan hukuman dari orang tua kalian masing-masing, ku rasa itu sudah cukup," kata Dantai sambil menatap satu persatu dari mereka.


"Karena itu lah Dan kami mau insyaf jadi kita tutup petulangan kita dengan aksi kita terakhir, lo gak tahu aja Anta tiap malam Minggu balapan sama teman-teman nya Dan," jawab Billy sambil terkekeh.


"Bener itu Han?" tanya Dantai dengan tatapan tajam pada Anta, Anta nyengir di tatap Dantai begitu," Ya maaf Fif gak enak lah sama teman-teman kalau aku nggak ikut."


"Ayo lah yang! Aku sudah menguasai medan di sana. beberapa kali kami balapan ke sana selama mobilnya tidak bermasalah kita akan baik-baik saja." kata Anta mencobah merayu.

__ADS_1


"Anta! Apa kamu sadar dengan ucapan mu itu hah? Daerah itu belokannya tajam, dan nyawa kita yang jadi taruhannya ngerti kamu! bentak Dantai sambil membuang mukanya ke arah lain.


"Fif, kamu marah?" tanya Anta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Bukan begitu Han, aku itu heran sama kalian, katanya kalian bersahabat, harusnya berteman itu mempunyai nilai positif, tapi apa yang kalian lakukan itu enggak sama sekali. Jangan di kira bahwa balapan liar itu membuat kalian tampak keren. Sama sekali tidak justru kalian tampak seperti orang yang tidak dewasa. Kalau emang kalian mau balapan di jalur resmi lah, di sirkuit. Bukan pas kita mau berangkat kemah begini!" kata Dantai marah.


"Ya sudahlah Bill kita aja Anta gak usah ikutan, Dantai kayaknya gak setuju deh!" kata Riko menengahi.


"udah deh kalau mau ikut, ikut saja An! aku naik bis saja lah sama teman-teman," kata Dantai berdiri dan akan pergi meninggalkan Anta, Anta pun memegang tangan Dantai mencegahnya untuk pergi," Duduk dulu lah yang, Aku tuh ingin berduaan saja sama kamu sebenarnya. aku janji deh, kalo jika nanti kita melewati tikungan tajam akan mengurangi kecepatan dan gak papa deh kalau nanti kita kalah, please ikut ya..Fif," pinta Anta sambil mengerjapkan matanya dan mengusap pipi Dantai.


"Han, jangan begini! aku bisa khilaf tahu. Baik, janji ya..." kata Dantai sambil menatap mesra. Anta pun melompat dan bersorak lalu mengecup pipi Dantai dengan cepat. Dantai terkejut dan matanya membola seketika.


sementara itu di meja yang tidak jauh dari mereka ada sepasang mata yang selalu melihat dan mendengar perdebatan mereka. seorang pria bertopi dan mengenakan masker duduk dengan tenang sambil bermain hpnya, minuman yang di pesannya pun belum tersentuh, ketika rombongan Anta dan Dantai pergi dari kafe tersebut, pria itu pun beranjak pergi meninggalkan kafe.


Keesokan harinya tiga mobil itu pun sudah mengambil start, orang suruhan Riko pun di minta untuk menjadi wasit dalam hitungan ketiga dan di akhiri kibasan bendera mobil-mobi itu pun melesat dengan begitu cepatnya.


Dantai yang berada di mobil bersama dengan Anta memejamkan matanya dan menghembuskan nafas berlahan, ada sensasi dan ketakutan luar biasa. Detak jantungnya berdegup lebih kencang. Terdengar Anta berteriak senang ketika dia sudah menyalip mobil Riko. Suara Anta tak sanggup meredam rasa takut Dantai. mobil itu melesat dengan begitu cepatnya dan Anta tak punya rasa takut sedikitpun. Mereka sudah di jalur jalan tol Riko sudah tertinggal jauh begitu pula Billy.

__ADS_1


jalan mulai berbelok Anta merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya Anta terlambat menyadarinya, mobil itu hilang kendali dan terbalik lalu terseret hingga menabrak pembatas jalan. Riko pun terkejut melihat dari kejauhan ia pun mengurangi kecepatan mobil dan segera menghubungi Billy agar segera mengurangi kecepatan mobilnya mereka tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali bermasalah dengan polisi karena balapan liar.


"Anta, Dantai." gumam Riko pelan ia pun menghentikan mobilnya. Begitu pun Billy.


Mobil polisi dan ambulan sudah datang korban sudah dievakuasi dan di bawah ke mobil ambulan di larikan di rumah sakit Angkatan laut rumah sakit terdekat dari lokasi. mobil Billy dan Riko mengikuti mobil ambulan dari belakang.


Sesampainya di rumah sakit Anta di dorong ke ruang operasi dan Dantai di ruang ICU.


Seorang dokter menghampiri Riko," Siapa yang bertanggung jawab dengan pasien ini?"


"Tolong tangani dulu dengan yamg sebaiknya dok, sebentar lagi daddy saya akan datang, masalah biaya sudah di urus teman saya. Orang tua mereka berada di luar negeri, saya akan menghubungi segera. tolong selamatkan mereka dok," pinta Riko


"Baik, kami akan berusaha sebaik mungkin." kata dokter tersebut sambil masuk ke ruang ICU, dan memasang alat-alat bantu pada tubuh Dantai.


tak lama kemudian seorang pria paruh baya datang menghampiri Riko," ada apa? kalian balapan lagi."


"Maaf dad, orang tua Dantai ada di Singapura, hanya om Surya yang tahu nomor teleponnya. tolong hubungi om Surya,dad!"pinta Riko pada ayahnya, tak lama kemudian pria paruh baya itu nampak menghubungi seseorang setelah selesai menghampiri putranya.

__ADS_1


" ini tanggung jawab mu bersama Billy tunggu mereka di sini sampai orang tuanya datang. Mutia dan Iren ikut daddy pulang, biar Riko dan Billy yang menjaga mereka," kata Raka sambil berjalan meninggalkan Riko dan Billy yang di ikuti Mutia dan Iren dibelakangnya mereka tak berani membantah. Riko dan Billy duduk di kursi tunggu di di dekat ruang operasi.


"Bill ada apa dengan mobil Anta? Aku curiga ada yang tidak beres dengan mobilnya," kata Riko sambil mengingat beberapa momen sebelumnya.


__ADS_2