Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Dia Membawa Hati ku


__ADS_3

Ira masih berdiri menatap kepergian mereka hingga hilang di pandangan matanya. Ia pun membalikan badannya dan pergi menuju ruang perawatan putranya, ia membuka pintu dan melihat sang suami tengah berbincang dengan putranya. lra berjalan menghampiri putranya dan duduk di pinggir ranjang tangannya terulur menyentuh pipi putra air matanya menetes membasahi pipinya.


"Dan, Ibu senang kamu sudah sadar sayang,"


"memang kenapa denganku bu?" tanya Dantai dengan pelan.


"Kau tidur lama sekali, Dan. Ibu sangat takut kau tinggalkan Ibu." kata Ira sambil terisak.


"Aku sudah kembali bu." kata Dantai menatap ibunya sambil tersenyum.


" Bu siapa gadis itu tadi? apa dia yang memanggil ku tadi? dan meminta ku menepati janjiku padanya. kenapa aku tak ingat apapun tentangnya bu?"


Sebelum Ira menjawab Harlan menyela," Dan, dokter menyuruh mu untuk tidak berfikir berat dulu, tidak boleh memaksa mengingat terlalu berlebihan."


"Oh ya, Ayah lupa mengabarkan berita gembira, kamu mendapatkan beasiswa Fakultas Kedokteran NUS Yong Loo Lin Singapura. 2 hari lagi kita akan berangkat ke sana."


"Selamat Dan Ibu sangat senang mendengarnya." kata Ira sambil memeluk putranya.


Sementara Andi yang sudah jauh dari pandangan Ira membawa putrinya ke taman.


"Pi, kenapa berhenti?"


"Kita ke taman dulu, sayang. apa kau ingin mengatakan sesuatu pada papi, An?"


"Apa papi juga ingin mengatakan sesuatu juga pada ku?


"Kenapa kau balik bertanya An?" tanya Andi tertawa.


"Kalau begitu papi duluan saja." jawab Anta sambil tersenyum.

__ADS_1


"An, kau mendapatkan beasiswa Fakultas Kedokteran NUS Yong Loo Lin Singapura sama dengan Dantai. sayangnya kau tak akan bisa memasukki universitas itu. papi baru tahu kalian merencanakan ini dengan baik, mendaftar bersama dan mengikuti tes bersama."


"Pi, aku tahu bahwa aku tak bisa ujutkan apa yang aku inginkan itu karena keadaanku sekarang." Andi memeluk putrinya memberikan kekuatan pada putrinya.


"An katakan pada Papi, apa yang terjadi hingga kau bersedih."


"Pi, Afif hilang Ingatan. Ia melupakan ku pi. aku menyesal pi. Andai saat itu menurut apa kata Afif, mungkin ini tak akan terjadi Pi."


"An, kau harus kuat nak apapun akan membawa suatu resiko entah itu baik atau pun buruk akan tetapi semuanya akan membawa hikmah untuk mu dan Afif. mungkin inilah ujian kalian berdua jika kalian berjodoh pasti akan di pertemukan.


"Pi, Aku sudah tak punya harapan lagi dengan hubungan ini, lihat lah aku pi! aku buta, aku lumpuh pi, aku sudah tak punya suatu yang bisa ku banggakan di hadapannya bahkan di pikirannya pun tak ada aku, sudah tidak ada pi tapi dia membawa hatiku pi."


"An, kita akan pergi ke Turki di Anadolu Medical Center, Istanbul, di sana mungkin kau punya harapan terbaik, Kau mau bukan?"


"Pi, Aku ingin menenangkan diri dulu, aku tidak ingin memutuskan sekarang."


"ku ingin ke vila kita di Batu Malang pi,"


"Baiklah, jika itu mau mu An, Papi akan carikan terapi terbaik dan seorang perawat untuk mu tapi hanya 1 tahun saja setelah itu kau tak boleh menolak jika papi dan mami ingin kamu berobat di luar negeri.


"Baiklah pi, Anta setuju."


"Ayo kita kembali keruang perawatan mu mamy pasti menunggu." Anta mengangguk. Andi mendorong kursi roda Anta meninggalkan Taman menuju ruang perawatan. di sana Rena sudah menunggu mereka.


"Kita pulang ke nenek dulu ya," kata Rena pada mereka, mereka pun mengangguk. mereka pun keluar meninggalkan ruang perawatan. Rena mendorong kursi roda Anta sedang andi membawa koper mereka dan akhirnya mereka sampai di parkiran mobil, Pak man yang baru datang dengan mobilnya tergopoh-gopoh membantu tuannya. Andi mengendong Anta dan didudukkan di kursi penumpang di susul Rena duduk di samping Anta. Andi duduk didepan di sebelah kemudi, pak man memasukan koper dan kursi roda di bagasi mobil lalu masuk dan duduk dibelakang kemudi. Ia pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Anta meminta bantuan untuk menelpon Rudi setelah tersambung Anta berbicara sebentar setelah itu memutuskan panggilan. beberapa lama kemudian mereka sudah sampai dihalaman rumah neneknya. Andi mendorong Kursi roda Anta yang dengan segera disiapkan pak man ketika sampai nenek yang berada di depan pintu menyonsong cucunya dengan derai air mata.


"Anta, cucuku maafkan nenek tidak bisa menjaga mu, sayang." nenek mensejajarkan dirinya dan memeluk Anta dengan kerinduan dan kecemasannya.


"Anta yang minta maaf pada nenek yang gak mau nurut sama nenek," Kata Anta sambil menangis.

__ADS_1


"Sudah, sayang Ayo kita masuk. kalian sudah makan?"


"Belum bu," Jawab Andi sambil mendorong kursi roda Anta masuk kedalam rumah dan berhenti di depan meja makan yang sudah siap dengan menu makanannya. Andi menarik kursi makan dan membantu Anta untuk duduk setelah itu Ia pun duduk di samping putrinya, di ikuti Rena dan nenek duduk disampingnya Rena, Rena mencium punggung tangan mertuanya dengan tazim.


"Bu, maaf Rena jarang menjenguk Ibu," katanya kemudian sambil mengambilkan mertuanya makan dalam piring.


"Gak papa Ren, Di kalian memang sibuk masih ada Eman dan Ija di sini." jawab nenek sambil melihat Andi yang sibuk mengambilkan putrinya makanan, terlihat Andi memisahkan Daging dari tulang baru memberi kan ke Anta.


lalu Ia mulai menyuap makanannya yang sudah di siapkan istrinya. nenek kembali tertegun ketika melihat cara makan Anta tangannya meraba-raba setelah didapat di satukan dengan nasi baru disuapkan ke mulutnya. nenek menatap Andi dan Rena. mereka mengangguk. nenek pun pura-pura tidak tahu kondisi cucunya dia tahu cucunya ini tak suka di kasihani.


"bu nanti, Ibu ikut ke jepang dengan ku, biar pak Man dan bik Ija ikut Anta ke malang. Untuk kali ini jangan menolak."


"Apa nenek gak bisa tinggal dengan mu An?"


"Maaf nek, kali ini Anta ingin sendiri, untuk kali ini nek turuti papi, ini untuk kebaikan nenek."


"Baiklah aku akan ikut ke Jepang, kalau nenek sudah di jepang kau hanya boleh panggil omah ya." jawab neneknya bercanda. mereka pun tertawa.


Di tempat lain di Ruang perawatan Dantai duduk bersandar di sandaran ranjangnya, Ia mengingat gadis yang duduk di kursi roda tadi.


Dia tak mengenalnya namun detak jantung berdetak kencang ketika gadis itu keluar dari ruangan ini hatinya pun ikut hilang di bawa oleh gadis itu. Dantai pun melihat ada keanehan dengan gadis itu tatapannya kosong dan kenapa ibunya harus mengantarkannya.


"Bu Apa gadis tadi buta?" tanyanya pada ibunya.


"Iya, Dan. Kenapa kau ingin tahu?" Dantai mengangguk.


" Bu, kenapa hatiku sakit saat ia pergi dari ruangan ini? Katanya ia tak mengenalku sebelumnya."


"Ibu tidak tahu Dan, sudah jangan pikirkan dia ya, dokter melarang mu untuk berfikir terlalu berat." Dantai pun terdiam berusaha untuk melupakan gadis itu tapi ia tak sanggup melupakannya. "Hai siapa kamu, kenapa kau membawa hatiku pergi jauh," gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2