Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Mengunjungi Anta di Turki


__ADS_3

Enam bulan berikutnya di liburan semester Dantai di temani Rudi pergi ke Anadolu Medical Center, Istanbul.


Setelah mereka tiba di bandara İstanbul Ataturk Havalimani, Rudi menelpon om Andi,"Assalamualaikum, Om, kami sudah sampai di Bandara."


"Wa'alaikum salam Ok, tunggu sekitar I5 menit om sudah dekat, kalian langsung di area parkir Bandara."


"Baik,om." Setelah mengucap kan salam Rudi dan Dantai pergi menuju area parkir Bandara.


Tak lama kemudian mobil Andi datang mereka pun masuk lalu mobil itu pergi meninggalkan area parkir Bandara.


"Kita ke apartemen om dulu, baru ke rumah sakit, om hanya sendiri, Anta dan Sari di rumah sakit."


"om, apa bisa kita langsung ke rumah sakit?" tanya Dantai pada Andi.


Andi pun tergelak," Dan, 12 jam perjalanan yang kamu tempuh, bersihkan dulu badan mu, baru bertemu Anta. Om tahu perasaan mu anak muda."


Dantai tersenyum sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Rudi pun terbahak," maklum om sudah satu setengah tahun dia gak ketemu, apalagi di pesawat tadi gelisahnya minta ampun."


"Kau ini jangan meledek ku terus," kata Dantai sambil mengalihkan tatapannya di jendela. Rudi tertawa begitu pula dengan om Andi.


"Nak Dan, om begitu bahagia kau mencintai putri ku sebesar ini, jika Anta tak bisa melihat selamanya apa kau tetap ingin menikahinya?"


"Iya, om dari dulu tujuan saya adalah menikahi putri Anda, memang saya tak bisa mengingat kisah kami sebelum kecelakaan itu, tapi hati saya selalu mengenalinya om, Ibu bilang setelah lulus SMU saya ingin dan akan segera mengkitbah Anta pada om akan tetapi kecelakaan itu terjadi dan ingatan saya tak mengenalinya om." kata sambil menatap keluar jendela lalu melanjutkan kembali," Saya nanti akan menemui dokter yang menangani matanya, saya akan berkonsultasi dengan profesor alih mata dan saraf di sana om."


"Trimakasih nak Dan."


"Sama-sama om."


Tanpa terasa mereka sampai di gedung apartemennya Andi. Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki lobby gedung apartemen itu. Mereka masuk kedalam lift menuju lantai 10 setelah sampai dilantai 10 mereka berjalan menuju apartemen no 14.


Andi memasukan cardlock lalu pintu terbuka, Andi mengajak mereka masuk dan menunjukkan kamar mereka.

__ADS_1


"Kalian bersih-bersih dulu aja, om pesankan makanan."


"Iya om." jawab mereka.


"Rud, aku duluan ya ke kamar mandi?"ijin Dantai pada Rudi


"Iya," jawab nya


Rudi membaringkan badannya, menghilangkan penatnya sesaat.


Beberapa saat kemudian Dantai keluar degan wajah segar.


Rudi bangun dari ranjang, lalu segera ke kamar mandi sambil membawa handuk dan baju ganti.


Tak lama kemudian Rudi pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah rapi. Ia pun berjalan mendekati Dantai dan duduk di sebelahnya.


"Apa rencana mu nanti, jika bertemu Anta?"


"Ikuti saja maunya, Dan. Dia kehilangan kepercayaan dirinya." kata Rudi dan Dantai pun mengangguk.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar," Iya om kami keluar," jawab mereka, lalu mereka membuka pintu dan keluar dari kamar mereka.


"Ayo makan dulu!"


"Baik om," mereka pun duduk di ruang makan dengan beberapa menu di meja.


Mereka makan dengan lahap, tak seberapa lama mereka pun selesai.


Tanpa menunggu waktu lama mereka berangkat ke rumah sakit.


Mobil yang di kemudikan Andi pun bejalan membela jalanan menuju rumah sakit di mana Anta di rawat.

__ADS_1


Begitu sampai mereka pun turun dan berjalan di lorong rumah sakit ke ruangan Anta.


Nampak Sari perawat Anta mendorong kursi roda Anta berjalan mendekati mereka menuju kamar rawat Anta.


"Sayang sudah selesai terapinya ?" tanya Andi pada putrinya.


"Sudah pi, ini mau istirahat."


"Papi mau ajak kamu jalan-jalan di sekitar sini, bisa ceritakan tadi terapinya?" kata Andi sambil menyerahkan pegangan kursi roda pada Dantai,


Dantai pun mulai mendorong kursi roda menuju taman rumah sakit, dalam perjalanan Anta terus saja berbicara menceritakan terapi yang sesekali ia terjatuh dan kemudian berlatih kembali," Pi, tadi itu aku sudah bisa berjalan satu, dua langkah, sebenarnya sakit sih pi tapi aku tak mau tergantung terus pada Sari. Aku ingin bisa berjalan lagi setidaknya kekurangan ku hanya mata ku saja pi."


Tak ada jawaban, dan kursi roda itu pun berhenti di sebuah taman, tiba-tiba tubuhnya melayang dan berpindah di bangku taman, Dantai pun duduk sebelah Anta setelah ia menggendong Anta dan memindahkannya ke bangku taman tanpa bicara apapun.


"Pi, papi kenapa diam? Papi kenapa pindahkan aku duduk di sini." Dantai menggenggam tangan Anta, dan Anta merasa telapak tangan itu berbeda dengan telapak tangan papinya, debaran merayap menyentuh hati merasakan telapak tangan yang sama dari seseorang yang tak bisa ditemui selama satu setengah tahun ini.


"Fif, apa ini kamu?" tanyanya dengan sangat pelan menoleh pada seseorang yang menggenggam tangannya.


"Iya, ini aku Honey, aku datang untuk menjemput mu. Sampai kapan kau terus menghindari ku, Honey? Aku pernah tanya padamu siapa dirimu bukan karena hatiku tak mengenalimu, sayang. Hanya ingatan ku yang hilang bukan hati ku, kenapa kau tak menjawabnya? Malah kau menghindari ku dan pergi jauh dari ku." kata Dantai sambil menghapus air mata Anta dengan jemari satunya lagi dan jemari satunya lagi tak melepaskan tautannya dari jemari Anta.


"Aku sekarang berbeda bukan seperti gadismu dulu yang selalu kau puja, aku berbeda dengan gadis itu Fif."


"Bagiku kau Anta yang sama dengan Anta ku yang dulu, tak ada yang berbeda Honey." Dantai menatap Anta penuh kerinduan.


"Dianta Anta Bella, menikahlah denganku, jadikan ku sandaranmu, bergantung lah hanya pada ku, Mau kah kau menikah dengan ku?" katanya lagi sambil mengecup jemari Anta.


"Aku mau, tapi tidak sekarang Fif, aku mau engkau menyelesaikan kuliah mu dulu. Kau tahu NUS adalah impian kita berdua waktu itu. Aku sudah tak bisa meraihnya, maka aku pun tak ingin kau gagal meraihnya.Setidaknya penuhi Ambisi ku dengan keberhasilan Fif, apa kau mau?" tanya Anta sambil menoleh ke arah Dantai.


"Apa kau mau menunggu ku, dan menjaga hatimu untuk ku sampai aku membawa mu ke pelaminan nanti?" Anta mengangguk.


"Jangan pergi lagi dari ku, jangan menghindari ku, jika aku tak bisa mengingat masa lalu kita maka akan ku ukir ingatan baru tentang mu, Honey. Aku mencintaimu mu Anta, kau dengar itu!" kata Dantai terus meyakinkan Anta pada cintanya. Anta mengangguk, Dantai menatap wajah nan cantik itu."

__ADS_1


"Honey, aku ingin memeluk mu, mencium bibir mu yang Indah, sayang sekali kita belum halal aku tak berani," kata Dantai sambil tertawa, Anta pun tertawa sambil memukul dada Dantai.


__ADS_2