
Setelah berjalan menyusuri lorong rumah sakit, Dantai sampai di ruangan rawat inap Anta. Di lihatnya cairan infus sudah akan habis Dantai melepaskannya dan ditaruhnya di nakas, nanti jika suster datang akan di berikan padanya.
Suara Adzan magrib terdengar mereka melaksanakan sholat magrib berjama'a di ruang itu. Setelah selesai Anta mencium punggung tangan suaminya itu, Dantai mencium kening istrinya itu.
"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang apa sudah lebih baik?" tanya Dantai.
"Kepalaku yang masih sakit, Yah," kata Anta.
"Yakin panggil Ayah lagi?" kekeh Dantai.
Anta tertawa. "Aku ingin mengenang saat-saat kita dulu."
"Sudah mengenangnya?" tanyanya pada istrinya membuat istrinya itu tertawa.
Malam itu adalah malam yang indah, di mana mereka menikmati romansa penuh cinta dan kekaguman.
Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hanya ada tatapan mendambah. Mereka duduk di sofa ruang VIP, Dantai mengenggam tangan Anta, di cium jemari lembut itu. Jika saja, saat ini dia tidak sakit sudah dibawanya ke hotel dan mengungkung semalaman.
Di dalam ruangan VIP mereka saling menatap, seolah baru berpisah sekian lama, degup jantung saling bersautan, bibir saling menyatu tanpa kegiatan ranjang yang melelahkan tapi menyenangkan.
...----------------...
Di tempat lain di rumah Rio, Jasmine duduk termenung di antara hidangan malam namun tak menggugah selera untuk makan.
"Nona harus makan walaupun tak berselera," kata Mbak Narti.
"Iya Mbak, Jasmine ngerti tapi rasanya gak bisa makan, dia gak pulang, Mbak," kata Jasmine.
"Bukan mas Rio, memang jarang pulang, Non?" tanya Mbak Narti sedikit segan.
Jasmine tertawa, menertawakan dirinya sendiri. "Iya kau betul, Mbak."
__ADS_1
Jasmine pun mulai mengambil nasi dan lauknya lalu mulai menyuapkan kedalam mulutnya.
"Aku bilang apa yaa pada papa dan mama besok, Mbak?" tanyanya pada Mbak Narti.
"Ya, bilang seperti yang di katakan Den Rio," jawab Mbak Narti.
"Pada Papa sama Mama, besok itu mau mengadakan selamatan tujuh bulanan. Namun, justru bang Rio gak pulang," kata Jasmine mengeluh.
Mbak Narti sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya terdiam.
Setelah Jasmine selesai, ia langsung masuk kamar kemudian Mbak Narti membersihkan meja, menyimpan makanan yang masih ada di dalam kulkas. mencuci piring kotor habis Itu pun pergi ke kamarnya. Jasmine di dalam kamarnya, Jasmine menghabiskan waktu untuk beribadah dan mengaji agar anaknya kelak menjadi anak yang sholeh jika laki-laki dan sholehah jika perempuan.
Setelah selesai ia pun menaruh Alqurannya di atas nakas dan ia pun merebahkan dirinya di atas ranjang, lalu berusaha memejamkan matanya mengusir kegundahan hatinya. sampai larut malam dia baru bisa terlelap meringkuk di atas ranjangnya.
...----------------...
Pagi harinya selepas melaksanakan ibadah subuh Dantai pergi untuk membeli makanan, ia melajukan mobilnya di jalan yang masih sepi mencari makanan untuk sarapan pagi bersama Anta. Setelah berputar-putar cukup tak menemukan sarapan yang sesuai seleranya maka ia pun membeli nasi pecel satu-satunya menu yang ada di pagi hari, lalu membeli beberapa macam bubur, dan dua botol air mineral, kemudian dia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil kecepatan sedang menuju rumah sakit.
Mobil Dantai berhenti di area parkir rumah sakit. Dia masuk kedalam rumah sakit, melewati beberapa ruangan dan sampailah pada ruangan Anta.
Anta yang melangkahkan kakinya menuju sofa rumah sakit, badannya terasa segar dan bugar kembali setelah dua hari tidak tersentuh air sama sekali.
Dia duduk di samping suaminya yang sibuk mengeluarkan isi dari bungkusan itu, berbagai aneka bubur dan dua buah nasi pecel di atas meja.
Entah kenapa begitu melihat berbagai macam bubur ia begitu ingin memakan salah satunya, atau semuanya.
"Yah, Bunda makan ini saja yaa, kelihatannya enak," katanya sambil melirik sang suami.
"Boleh, kalau Bunda kuat menghabiskan habiskan saja," kata Dantai terkekeh.
Dantai membuka bungkusan nasinya lalu memakannya sambil melihat istrinya yang begitu menikmati bubur sagu yang dibelinya itu.
Dantai merasa ini adalah hadiah terindah dari kesabaran untuk menerima kekurangan Istrinya pada waktu itu.
__ADS_1
Suatu pemandangan yang hilang sejak tujuh tahun yang lalu.
Hari ini dia kembali melihat cahaya matanya yang begitu indah terlihat, pesona yang dia sukai pertama kali bertemu dengannya ketika sama-sama duduk di bangku SMU,
"Hai, kenapa kau menatapku begitu," kata Anta pada suaminya itu.
"Aku jatuh cinta lagi padamu, Bun. Ahhh! Cepatlah sembuh aku ingin membawamu terbang, memeluk dalam dekapanku, pagi, siang dan malam, Bun" katanya sambil terkekeh. Wanita itu melotot menatap suaminya.
Dantai semakin tertawa keras, Anta telah menghabiskan empat gelas bubur hangat, Dantai pun juga sudah menghabiskan sarapan, ia segera mengurus kepulangan Anta dan menyelesaikan administrasinya. Namun, ternyata sudah dibayar oleh pemilik rumah sakit ini.
Setelah urusan selesai ia kembali ke ruangan Anta, mengemasi semua barang-barang Anta sejak berada diruang kamar inap ini.
Dantai menjinjing tas berisi pakaian mereka, menuntunnya berjalan ke area parkir dan membantu istrinya masuk dan duduk di dalam mobil, begitu juga yang duduk di samping istrinya. Pak Man yang duduk dibelakang kemudi segera menjalankan innova putih itu membelah jalanan kota malang, tepat jam delapan dia meninggal rumah sakit,
"Pak Man, Apa Pak To sudah kembali ke Surabaya?" tanya Dantai pada Pak Man
"Sudah, Kemarin pulangnya naik bis, Den," katanya sambil terus mengemudi.
"Gak nunggu mobil selesai di perbaiki?" tanya Dantai.
"Perbaikannya agak lama, Den. Pak To juga ditunggu tuan Harlan dan nyoya Ira di Surabaya.
"Kemarin baru sampai, Den," jawab Pak Man.
"Oh, aku kira pak To nunggu mobilnya selesai di perbaiki," timpal Dantai.
"Bagaimana dengan Rio, apa dia sudah kembali ke Surabaya?" tanyanya lagi
"Belum Den, Non Hira gak bolehin," jawab Pak Man
Dantai menghelah napasnya. "Aku gak tahu Bun, bagaimana membuat Hira mengerti kalau Roi sudah punya kehidupan dan kesibukan sendiri, kemarin sebenarnya aku meminta tolong pada Aril agar ia datang kemari tetapi dia tidak bisa, karena Salva pada waktu itu juga melahirkan, hingga Aril meminta tolong kepada Rio akibatnya, Hira memanfaatkan hal ini, untuk menuruti keinginan itu, dan Rio tak bisa menolaknya," keluh Dantai pada Anta.
"Nanti akan ku nasehati, aku pun tidak tahu apa dia mendengarkanku atau tidak karena, aku tidak terlalu dekat dengannya, Yah. Kau lah yang selama ini selalu disamping mereka sedangkan untuk mengurus diriku sendiri saja sangat susah," katanya sambil menatap suaminya itu.
__ADS_1
"Nasehati saja, jika dia tidak bisa menerima nasehatmu, nanti aku yang akan menegaskannya.