
Rio dan Hira keluar dari mobil, Hira masuk duluan menuju kamar tidurnya.
Rio menutup pintu garasi dan mengunci lalu berjalan melewati pintu penghubung kemudian menaiki tangga menuju kamar istri. Dia masih ingat betul dia kesini 17 tahun yang lalu di mana dia dan ketiga sahabatnya itu mengunjungi bayi kembar Dantai dan Anta. bahkan dia sepat bergurau pada sahabatnya ingin menikahinya jika sudah besar tak di kira bayi perempuan itu justru lengket dengannya.
Setiap akhir pekan dia akan berkunjung ke sini karena permintaan Dantai, sang putri tak berhenti dan rewel, Si bayi mungil selalu tertidur di dekapannya dan kini benar-benar telah menjadi istrinya.
Rio sudah sampai di kamar sang istri dia membuka pintu dan tidak dapatinya wanitanya di dalam kamarnya menandakan sang istri tengah berada di dalam kamar mandi. Dia segera mengunci kamar itu lalu bergegas melucuti pakaiannya dan menyisakan boxernya saja lalu berjalan ke kamar mandi dan ternyata tidak di kunci, ini tandanya istrinya ingin mandi bersama dengannya, dengan hati riang dia membuka pintu kamar mandi terlihat sang istri tengah berendam air hangat dengan segera dia melepaskan kain penutup yang terakhir dan masuk kedalam bathub di sebelah belakang istrinya lalu menyentuh tubuh istrinya yang paling dia sukai.
"Daddy, sampai kaget aku," kata Hira, saat dia mendongak keatas Riu meraup bibir indah itu sambil tangannya bermain di area tubuh Hira yang paling dia sukai.
"Dad!" panggil Hira pada Rio
"Hem," jawab Rio
"Aku suka sentuhan mu," kata Hira menahan ingin sesuatu yang lebih sekedar ini.
"Aku juga suka menyentuhmu, sangat suka, jika kemarin aku tidak ingat putraku aku masih ingin di Maldavis lebih lama lagi menikmati kebersamaan kita di sana.
"Putra kita Dad," protes Hira.
"Ya putra kita, terimakasih telah menganggap Bilal putra mu juga," kata Rio pada Hira.
"Dad! Kau membuatku menginginkan lebih," kata Hira masih menahan rasa.
"Rio tertawa. "Aku juga honey." Dia bangkit menggendong sang istri membawanya ke shower dan membilas tubuh mereka berdua lalu mengeringkan dengan handuk. Setelah itu membawa keperaduan Rio kembali menjelajahi ke indahan tubuh istrinya kembali mereguk cinta yang tak pernah surut oleh waktu, hasrat selalu menggebu setiap bersama sang pujaan hatinya.
Puas dengan memberikan sentuhan dan ciuman ia mulai memasuki bagian tubuh istrinya yang sangat ia sukai, sempit dan hangat membuat aliran kebahagiaan merambat hingga ke ubun-ubun digoyangkan tubuh sambil terus memberikan sentuhan dan belaian hingga dia mencapai puncak tertinggi mereguk seluruh kenikmatan membuatnya mengerang cairan hangat di tumpah ke rahim istri tanpa ia tahu jika Hira tidak menunda kehamilannya yang dia tahu bahwa Hira telah melakukan suntik penunda kehamilan.
Setelah mereguk indahnya malam dengan pasangan halalnya, Rio menggulir tubuhnya kesamping setelah mengucapkan terimakasih dan mengecup keningnya.
Pria matang itu memeluk tubuh istri kecilnya, itu. dalam hatinya dia sangat bersyukur mendapatkan wanita yang ada dalam pelukannya ini dalam mimpi pun dia terpikir untuk memilikinya.
__ADS_1
Setelah lelah dengan pesta kecil di malam hari mereka pun tertidur saling berpelukan memberikan kehangatan dan kenyamanan, suara detak jam tak mampu mengusir lelah hingga terlelap dalam pelukan kekasih halal yang di rindukan sejak lama, malam pun menghantar mereka dalam kenyamanan.
.
.
Dua hari berikutnya mereka kembali ke Bandung dengan penerbangan di pagi hari setelah sarapan bersama dengan keluarga Hira Mereka pun pamitan untuk berangkat bandara
Dantai mengantarkan mereka sampai ke bandara tiba-tiba di sana Dantai pun berpesan pada Rio, "Tolong jaga putriku, jangan sakiti dia jika kau bosan padanya kembalikan dia baik-baik."
"Aku mencintai putrimu dari dulu, Dan. Aku tidak akan menyakitinya, dia telah memberikan masa mudanya padaku pria tua yang tak tahu diri, tentu aku sangat benar-benar merasa beruntung.
Maafkan sahabat mu ini, Dan," kata Rio
"Aku ikhlas Hira jadi istrimu, dan kau jangan menjadi menantu yang kurang ajar, ayo panggil aku Ayah dan cium tanganku," kata Dantai terkekeh.
"Ok! Siapa takut Bapak mertua," kekehnya dan akan mencium punggung tangan sahabatnya itu tapi Dantai mencegahnya.
"Jangan kawatir hati ku dan itu ku hanya milik Hira seorang," kekehnya.
Rio menyusul sang istri dan putranya berjalan lebih dahulu menuju ke terminal keberangkatan, dengan langkah lebarnya Dia berjalan mensejajari langkah istrinya.
"Kok lama Dadd, di pesan apa saja?" tanya Hira pada suaminya itu.
"Banyak, sudah jangan tanya! Ayo kita segera masuk!" perintah Rio.
Mereka pun melewati ruang pemeriksaan lalu masuk ke dalam pesawat setelah itu memasang sabuk pengaman.
sang putra duduk di depan tempat duduk mereka, duduk di sebelah remaja putri yang kelihatannya usianya hampir sama dengan putranya.
beberapa saat kemudian pesawat pun tinggal landas, mereka menikmati perjalanan dalam pesawat dengan saling bergurau satu sama lainnya.
__ADS_1
Rio meletakkan kepala Hira di dadanya. "Tidur, sayang kalau sudah sampai nanti aku bangunkan.
Rio melihat sang putra berbincang-bincang akrab dengan remaja putri di sampingnya.
Rio tersenyum dengan keakrapan sang putra pada remaja putri yang baru dikenal putranya itu.
"Kenapa Dadd, kok senyum-senyum gitu?" tanya Hira pada suaminya.
"Lihat putra kita menemukan wanitanya sampai tidak munghiraukan kita," kata Rio pada ibu itu.
"Apa dulu kau tidak tertarik dengan pria yang usianya sepadan denganmu, Hir?"
"Tidak aku terpesona dengan yang namanya bapak Rio Yustio Rendra, nggak tahu kenapa nama itu menghalang-halangi pria keren untuk kenal denganku ya," kata Hira terkekeh.
"Pria duda lebih menawan berarti, benarkah apa yang menurutmu menarik dariku, sayang?" tanya Rio pada istrinya itu.
"Apa ya? Banyak sih, Dad," kata Hira.
"Pertama nyaman sih Om karena dari dulu kan Hira suka sama Om," kata Hira.
"Senyum Om itu loh tulus gitu kalau sama Hira jadi adem gitu di hati, Om," jawab Hira.
"Kok panggilnya Om lagi sih, sayang," protes Rio.
"Maaf Dadd, habis Om itu sebenarnya panggilan sayang aku loh ke Daddy, enak saja kalau panggil Om," kata Hira
"Baiklah kalau di kamar kamu boleh panggil Om," kata Rio sambil menatap bagian Dada Hira yang menonjol
"Daddy lihat apa sih?" tanya Hira lalu mencari apa yang dilihat suami, setelah menemukannya, ia memukul lengan suaminya.
"Apaan sih Dadd? Jangan lihat yang itu dong, Dadd!" larang Hira
__ADS_1
"Terus harus lihat yang mana dong, yang bawa kan ketutup, sayang," jawab Rio