
Dia menatap gadis kecil itu. "Hira, saat kau sudah dewasa, om pasti sudah tua dan kau akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, sedangkan aku akan sangat tua bahkan mungkin kau tak akan tertarik lagi dengan pria tua ini," katanya sambil terkekeh.
"Ok! mari kita buktikan, Om. Ketika aku sudah dewasa dan aku masih menyukai Om, maka saat itu, Om harus menikahiku, apa Om, berani bertaruh denganku?" tanya Hira dengan tatapan tajam, seolah bukan dirinya lah yang berbicara, gadis sekecil itu berani mempertaruhkan masa depannya, pada Pria dewasa yang berada di hadapannya.
Roi menatap gadis kecil itu."Kamu
masih kecil Ra, saat kamu dewasa dan bertemu pria yang lebih muda, gagah dan tampan, kau pasti akan mencintainya dan melupakannya Ommu yang sudah mulai tua ini."
"Om, tadi tahu kan seberapa kerasnya sifat Hira?"kata Hira pada Om Rionya
"Ok! sekarang kita bersenang-senang saja, kamu mau kemana? Om akan antar kamu kemanapun kamu ingin pergi, waktu kita hanya sedikit, jam 16.00 kamu harus sampai rumah, Om gak mau melanggar kepercayaan ayahmu," katanya sambil membelai rambut panjang Hira
"Kita ke pantai saja yaa Om. Besok bisa engak kita keluar pagi, kalau berangkat siang begini rasanya singkat saja, belum puas maunya pulang saja," gerutu Hira sambil mencebikan bibirnya.
Rio hanya tertawa mendengar gerutuan bocah kecil itu.
Tak seberapa lama, mereka sampai di pantai yang mereka tujuh, Rio dan Hira keluar dari mobil, Hira menarik tangan Rio lalu berlari kearah pantai, membuat Rio ikut berlari kecil dan berhenti tiba-tiba di bibir di pantai membuatnya menabrak Hira dan terhuyung kedepan pria itu segap memeluk Hira dari belakang, membuat gadis kecil itu tertawa bahagia. "Om, Ayo kejar Hira," kata Hira sambil berlari kedepan membuatnya terkejut ia pun mengejar Hira dan memeluknya dengan erat sesaat tubuh mereka sedikit terseret ombak tubuh mereka punbasah.
"Hira, apa yang kau lakukan, hai," kata Rio dengan sangat cemas di gendongnya gadis kecil itu dan dibawa menjauh dari bibir pantai lalu diturunkannya kemudian ia menangkup pipi gadis itu. "Jangan lakukan itu, Om sangat takut sekali kalau terjadi apa-apa dengan dirimu, Princess," katanya sambil menatap lekat wajah itu.
"Kenapa? Bukankah Om, akan senang tiak akan di ganggu Hira," katanya sambil menunduk.
"Kau tahu kan, Ra. Om selalu bersedia kau ganggu sampai kapan pun," katanya sambil mencium mata, dan kedua pipi itu. tiba-tiba Hira menempelkan bibirnya pada Rio membuatnya terkejut, Hira melepaskan pelukannya dan.berlari lagi.
Mereka saling berkejaran di tepi pantai. baju yang mereka kenakan basah kuyup.
__ADS_1
Bahkan mereka tidak membawa baju ganti.
Setelah puas menikmati pantai mereka mampir ke butik sebentar untuk membeli pakaian untuk mereka. Baru mereka pulang, tak lupa di perjalanan pulang mereka mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar, kemudian mereka kembali masuk ke mobil meninggalkan masjid.
Rio berhenti di sebuah rumah makan, ia memesan beberapa.makanan yang di sukai Hira. mereka makan dengan tenang, sebelumya ia menghubungi Dantai dan berkata kalau ia akan pulang terlambat lalu menceritakan apa yang terjadi di pantai takutnya Dantai salah mengira sesuatu terjadi di pantai dan menceritakan kejadian kenapa bisa basah kuyup.
Setelah selesai makan mereka kembali masuk dalam mobil, Roi mengemudi dengan kecepatan sedang.
Hira duduk di sebelahnya dengan tak melepaskan pandangannya pada Rio
"Om aku besok akan ijin Ayah dan Bunda untuk keluar dengan Om di pagi hari, kalau mereka mengijinkan apa Om bisa? Rasanya waktu hanya sebentar saja, aku merasa kurang puas," ujar Hira
"Jika ayah dan bunda mengijinkan akan Om usahakan untuk menyisikan waktu, kalau Hira menghubungi Om di malam hari, tapi kalau Hira menghubungi Om di pagi hari Om gak bisa janji bisa apa enggak karena Agenda Om juga padat resecedul gak bisa cepat, Ra," jawab Rio masih dengan focus mengemudi.
Rio terkekeh. "Kalau kau dilahirkan sama di waktu Om, maka kau bukanlah putri sahabat dan tentunya tak akan bertemu, Ra," jawab Rio membuat Hira tertawa dalam tangis.
Melihat putri sahabatnya itu menangis Rio membelokan mobilnya ke bahu jalan dan berhenti di sana. "Hai Princess, jangan menangis, Om janji jika besok kamu mendapatkan ijin akan Om luangkan waktu untukmu, hemm."
"Benarkah, janji yaa, Om?" tanya Hira sambil menunjukkan jari kelingkingnya lalu Rio menyambut dengan menautkan kedua jari kelingking mereka. "I promise you, Princess," ucap Rio sambil tersenyum, lalu mengemudikan mobilnya kembali dengan kecepatan sedang.
Hari sudah hampir petang cahaya senja mulai meredup dan mereka masih melaju di jalanan kota Surabaya. Mendung datang dan gerimis mulai jatuh mengiringi perjalanan mereka, Adzan magrib pun mulai terdengar di telinga mereka tepat di saat Rio memakirkan mobilnya di halaman depan Rumah sahabatnya.
Dantai pun keluar menyambut kedatangan Anak dan sahabatnya itu.
Hira pun keluar begitu pula Rio dan terseyum sambil menangkupkan tangannya, ketika sahabatnya itu menunggu di luar. "Maaf, terlambat pulang, karena kami makan terlebih dulu."
__ADS_1
"Tidak apa, Ayo sholat dulu di dalam sudah adzan magrib," ajak Dantai pada kawannya itu.
"Aku langsung aja, Dan. Salam buat Aril dan Anta," jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah, hati-hati di jalan, jangan lupa sholatnya," ucap Dantai menasehati kawannya itu. Rio mengacungkan jempolnya lalu masuk kedalam mobilnya dan mobil itu berjalan meninggalkan halaman rumah Dantai dan menghilang saat keluar dari pintu gerbangnya.
Rio mengemudi dengan kecepatan sedang, dirabanya bibirnya teringat Hira dengan berani mengecupnya.
Terkejut namun hatinya menghangat. Mobil terus berjalan tapi tidak mengarah ke rumahnya melainkan ke gedung perkantorannya, jarak antara rumah Dantai dengan tempatnya bekerja tidaklah jauh hanya cukup 15 menit saja. Ia meminta kunci saat melewati sekuriti lalu memarkirkan mobilnya di area parkir gedung itu. Dia keluar dan berjalan melewati loby lalu masuk ke dalam lift.
Setelah sampai di ruangannya ia bergegas ke kamar mandi serta membersihkan tubuhnya, kemudian mengganti pakaiannya dan melaksanakan sholat magrib di ruangan privasinya. Setelah itu ia pun pergi di ruangan minibarnya, duduk di sana sambil menatap keluar dari jendela kacanya, di ambilnya Hp lainnya yang menjadi penghubung antara dia dan istrinya. Sebuah pesan Wa masuk.
Jasmine
Apa kau akan pulang hari ini?
Rio
"Maaf aku harus lembur, jangan terlalu capek dan jaga kandunganmu makan yang teratur! Karena, bukan kamu saja yang butuh makan anak kita juga, Jas.
Jasmine
Ya
jawaban yang singkat dan setelah itu offline. Rio menghelah napas panjang. 'Maafkan aku Jas, jika anak kita lahir dan kau sudah tak sanggup untuk hidup bersamaku, aku akan iklas melepaskan mu.' gumamnya dalam hati.
__ADS_1