Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Perjalanan Ke Maldives


__ADS_3

Yudi mendekati ke-dua mempelai memberikan tiket menginap di hotel selama tiga hari terhitung hari ini.


"Tuan Rio memberi ini pada kalian dan beliau meminta maaf tidak bisa mendampingi di pernikahan kalian karena suatu hal yang kalian tahu sendiri," kata Yudi sambil memberikan tiketnya kepada Sofyan.


Yudi kembali menghimbau pada para tamu dan juga ke-dua mempelai. "Monggo Bapak-bapak dan Ibu-ibu silakan mencicipi hidangannya, bagi Mas Sofyan kalau mau berangkat di hotel silakan supir sudah menanti dan gak usah bawa ganti karena sudah di persiapkan di sana. Monggo gak apa-apa Mas kalau mau berangkat saya tahu Anda sudah tidak sabar," kata sambil terkekeh.


Sofyan pun tertawa. lalu berpamitan ke pada ibunya, pak Rahanda dan nyoya Mutia. Kepergian mereka di iringi gelak tawa pengunjung yang datang di pernikahan mereka.


Mereka pun duduk di mobil yang telah di hiasi bunga, entah kapan yang jelas semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat baik.


Sofyan, masuk kedalam mobil bersama Narti, dan duduk di bangku tengah, tak lama kemudian berjalan dengan kecepatan sedang, badannya tak berhenti bergerak seolah sudah tidak tahan lagi untuk segera sampai di hotel yang dia tujuh. "Pak cepat sedikit dong pak, kalau saya bukan pengantin sudah saya setir sendiri ini mobil," katanya jengkel.


Sopir tertawa ia pun segera mengemudikan mobilnya dengan cepat tak seberapa lama kemudian mereka sampai dan keluar dari mobil, sambil mengedumel Sofyan berjalan kearah hotel. "Dari tadi jalannya begitu kan cepat sampai, Pak," protes Sofyan pada sopir yang kemudian tertawa.


Sofyan berjalan cepat hingga membuat narti kewalahan mengikuti langkahnya. "Mase, mbok jangan cepat-cepat saya pakai high heels loh, Mas," kata Narti setelah sampai di lobby.


"Apa sampean tak gendong dek, biar cepat," katanya sambil terkekeh.


Mereka masuk ke dalam lift, dan hanya mereka berdua di dalamnya. "Lapo toh, Mas, cepat-cepat?" tanya Narti pada Sofyan.


"Ya, ingin segera minum susu segar, lah piye, dari tadi sudah di iming-iming gitu," katanya sambil menatap dada Narti.


"Walah, seperti gak pernah pegang aja kamu Mas, pada tiap hari curi-curi kesempatan kalau gak ada Den Rio sama Non jasmine," kata Narti sambil mencebikan bibirnya dan Sofyan pun tertawa.


Pintu terbuka, Sofyan menarik tangan Narti mengajak segera keluar. "Nar, lepasen sepatumu, cek enak kamu jalannya."

__ADS_1


Narti tertawa. "Sing sabar to Mas, disek sampean lak yo sabar toh."


"Yo ngeneki gak isok sabar, dek lah wong di depan mata gitu kok," katanya langsung segera menggendong Narti dan menuju kamar yang telah di siapkan oleh Rio.


Setelah sampai di depan kamarnya Sofyan, langsung menurunkan Narti dan menempelkan Cardlock. Setelah pintu terbuka ia pun menarik Narti mengajak nya masuk dan segera mengunci pintunya tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Sofyan menarik gesper gaun pengantin Narti di belakang punggungnya.


Gaun pun terlepas dari tubuh Narti. Gunung kembar yang terlihat menantang tanpa kain penyanggah itu diraupnya dengan bibirnya dan mulai menghajar dengan ciuman buas serta gigitan kecil yang membuat tubuh gadis menggelincang, "Wis, kalau caranya seperti ini, Nar. Aku di paksa sama Den Rio yaa, jelas mau aku. Lah kamunya ternyata istimewa begini," kata sambil terus menghajar Narti dan tak memberi jeda.


...----------------...


Sementara itu Rio dan Jasmine sudah berada di pesawat yang berjalan menuju ke Maldives. Duduk berdua bersama saling bergenggaman tangan. "Jas, coba kau tebak apa kira-kira mereka sudah berada di hotel saat ini," katanya sambil terkekeh.


Ini sudah tiga jam saat kita berangkat dari rumah, Menurut perkiraan aku mereka sudah di sana, Mas," jawabnya sambil tersenyum.


"Beberapa kali sebenarnya kepergok sama aku, keluar dari kamarnya mbak Narti, lama-lama aku kawatir mereka kebablasan, lalu aku telpon Papa dan Mama membicarakan soal ini pada mereka. Akhirnya ada kesempatan untuk berbicara dengan mereka berdua," katanya sambil tersenyum.


"Jas, kau ingin apa akan aku kabulkan, katakan saja padaku," katanya pada Jasmine


"Aku, tidak ingin apa-apa, Mas Yo. Aku hanya ingin selalu bersamamu," kata Jasmine.


"Yaa, kalau begitu, nanti kita tidak usah ke mana-mana, di kamar hotel saja," candanya sambil tertawa.


Jasmine memukul lengan Rio sambil tertawa.


"Ya, gak begitu juga Mas Yo, maksudnya Jasmine itu suka kalau Mas Yo mengajak kemana-mana dan hanya berdua saja," jawab Jasmine tersipu.

__ADS_1


Rio tersenyum lalu meraih kepala Jasmine dan di letakan dia atas dadanya. "Tidurlah, perjalanan kita masih panjang, jangan sampai kamu terlalu lelah yaa!" katanya sambil mengusap kepala Jasmine yang tertutup hijab.


...----------------...


Di rumah Salva Dantai dan Anta mulai bersiap-siap untuk berbulan madu yang belum pernah mereka lakukan karena kendala Anta kehilangan pengelihatannya.


Hari inilah kesempatan mereka untuk pergi berlibur, karena Anak-anak sudah besar dan sudah bisa ditinggal,


Hira mengikuti langkah ayahnya kemanapun berada, sambil mengeluh. "Bilang akan berlibur bersama lalu tanya anak-anak, kalian mau kemana akan Ayah kabulkan. Eeh! sekarang malah pergi sama bunda dan Anaknya di tinggal sendirian di sini."


"Tidak sendiri yaa, Nak, Ada Om Aril, Kakek Andi, Kakek Harlan, Nenek Ira dan ada tante Salva jadi kamu tidak perlu khawatir kalau tidak ada orang," kata Dantai sambil tertawa.


"Ya sudah Ayah pergi saja sama Bunda biar aku di sini sama Emir," kata Hira


"Putri ayah Jangan ngambek ya! Jadi jelek tuh besok-besok kita akan berlibur kembali, ke manapun kamu pergi akan Ayah antarkan, hari ini biarkan ayah memberikan kebahagiaan pada bundamu yang baru saja bisa melihat kembali, dulu kami belum bisa pergi ke mana-mana karena bundamu tidak bisa melihat. Hal itu menyebabkan Bunda tidak ingin pergi ke mana-mana jadi kamu harus mengerti ya Nak," kata Dantai. Hira pun menggangguk.


Setelah semuanya siap, Mereka pun juga sudah berpakaian rapi itu keluar kamar dengan membawa koper. Mereka berpamitan pada semua orang segera berangkat ke bandara.


Semua koper dimasukkan ke dalam bagasi dan mereka masuk ke dalam mobil yang kemudian berjalan meninggalkan kediaman Salva menuju bandara.


Pak To mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke Bandara Juanda, setelah sampai mereka pun keluar dari mobil menuju ke pintu masuk terminal keberangkatan.


Pak To menunggu mereka selesai menjalani pemeriksaan untuk masuk ke dalam pesawat mereka.


Setelah dipastikan mereka sudah tak terlihat dari pandangan pak To, Dia meninggal tempat itu ke area parkir bandara dan masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya menuju kediaman majikannya yaitu Salva.

__ADS_1


__ADS_2