
Pagi yang cerah Dantai mengajak Rizal, Pak Andi untuk berlari pagi mengelilingi kompleks perumahan.
Weekend kali ini terasa begitu berbeda, biasanya hanya dirinyalah yang rajin berlari pagi mengelilingi perumahan namun kali ini bertiga dengan Dokter Rizal dan Papinya.
Dantai cukup kagum pada pria paruh baya itu walau usia sudah tak muda lagi tapi tenaganya mampu mengimbangi kami yang muda-muda ini
Setelah memutari beberapa kali mereka pun pulang, Mereka masuk kedalam untuk membersihkan diri.
Para wanita sibuk di dapur membuat makanan untuk sarapan pagi, begitu pula Sari juga ikut membantu mereka memasak, Mami Rena dan Nenek sedang memasak sayur dan lauknya, sedangkan Sari sibuk menggoreng pisang goreng sambil membuatkan bapak-bapak kopi panas, beberapa yang sudah matang ditaruhnya ke piring dan ditata di dalam baki lalu di bawanya keluar teras rumah dan meletakkannya di meja di mana bapak-bapak sedang berkumpul.
"Ayo sami di sambi, taksek panas atos-atos nggeh" tawar Sari pada ketiga bapak-bapak itu.
(Ayo sama di makan dan minum masih panas hati-hati)
"Dreeet ... dreeett"
suara hp bergertar di saku celana Dantai, di ambil dan di lihatnya terpampang nama di sana Rudi sendang memanggil. Dantai pun menerima panggilan tersebut, "Assalamualaikum, Iya ,Rud?" suara Dantai memulai panggilannya. Dari seberang terdengar suara Rudi," Wa'alaikum salam, kami sudah sampai di Bandara ni, Dan cepat jemput kami!" kata Rudi
"Cepat sekali kalian sudah sampai berangkat jam berapa kalian?"tanya Dantai sambil tertawa, karena sekarang masih jam 7.00 mereka sudah sampai di Bandara.
"Sudah jangan banyak basa-basi cepat jemput kami!" terdengar suaraRiko menimpalinya.
__ADS_1
Dantai tertawa Kembali, "Ok! Tunggunya segera nih," katanya mengakhiri pembicaraannya sambil mengucapkan salam lalu dijawab dari seberang. Dantai memasukan hpnya kembali di saku celananya, lalu menawari Bang Rizal untuk ikut jemput ke Bandara.
"Bang Rizal mau ikut nih jemput teman-teman di Bandara sekalian tak kenalkan ni teman-teman ku yang pada soplak."
"Boleh deh, Om maaf ikut dulu sama Dantai." katanya meminta ijin pada Andi yang masih duduk di teras sambil memakan pisang goreng hangat.
"Ya, Nak Rizal silakan saja saya juga mau ke dalam mau lihat Emir sudah bangun apa belum." kata Pak Andi sambil menyeruput kopinya.
Dantai dan Rizal pun masuk kedalam mobil kemudian pergi meninggalkan rumah kediaman Andi berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan, 30 menit kemudian mereka sampai di area parkir Bandara, mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menyusuri area Bandara menuju terminal kedatangan.
dengan langkah lebar mereka pun akhirnya sampai, tampak 4 anak muda yang mecangklong tas punggungnya mereka sampai ngobrol dan bercanda kadang terdengar deraian tawa mereka.
Dantai langsung memeluk keempat sahabatnya itu, "Calon mertuaku ni jemput aku," kelakar Rio.
Mereka pun tertawa. Lalu keempat pemuda itu melayangkan pandangan pada Dokter Rizal, "Siapa nih bro?" tanya mereka serentak lalu di iringi derai tawa mereka kembali.
"Oh, ini Dokter Rizal, suaminya mbak Sari matan perawat Anta," jelas Dantai pada mereka, Rudi yang mengenal Sari pun maju mengulurkan tangannya," Oh, ini toh suaminya Mbak Sari, saya Rudi mas, maaf kemarin gak bisa datang di pernikahannya." kata Rudi sambil menjabat tangan Dokter Rizal dan diikuti teman-temannya.
"Iya, Mas gak papa, jadi Mas Rudi ini yang katanya sahabat mbak Anta yang paling dekat itu, yang mempertemukan Dantai dengan Mbak Anta lagi."
"Iya, Bang dia itu yang paling soplak antara kami." kata Datai sambil tertawa.
__ADS_1
"Ya, sudah ayok ke mobil, kawatir kalian pada pingsan karena belum sarapan," kata Dantai berjalan mendahului mereka berjalan ke area parkir, kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area parkir Bandara dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kita Singapura, Akhirnya mereka sampai di kediaman Andi dan berhenti di halaman depan rumah.
mereka pun keluar dari mobil, Dantai mengajak semua masuk kedalam, begitu di depan pintu rumah mereka pun mengucapkan salam lalu mereka yang sedang berkumpul di dalam pun menjawab salam. Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Kedatangan tamu istimewa ini, apa kabar, Nak Rudi juga kalian semua?" sapa Andi pada mereka.
"Kabar baik, Om." jawab Rudi
"Ayo, aku antar ke kamar kalian," kata Dantai pada mereka.
Mereka pun mengikuti Dantai berjalan menuju menaiki tangga menuju ke kamar yang telah di persiapkan untuk mereka, Dantai berhenti pada dua kamar yang bersebelahan, "Ini kamar kalian jangan lupa cuci kaki dan tangan kalian dulu sebelum kalian menemui anak-anakku."
"Baik, Bapak mertua," jawab Rio yang kemudian ditoyor kepalanya oleh Dantai yang membuatnya tertawa.
Mereka masuk kedalam kamar, satu kamar untuk berdua, Rio bersama Gibran di kamar sebelah, serta Rudi dan Aril di kamar satunya. Setelah membersihkan diri mereka berempat bergabung dengan yang lain di bawah sarapan bersama, Andi membawa cucunya keluar kamar dengan troller bayi dan di perlihatkan pada mereka, "Ini ya yang namanya Hira," kata Rio sambil menggendong Hira, saat di gendong Rio, Hira pun tersenyum lebar menunjukkan lesung pipi yang dalam, masyaallah Dan cantiknya anakmu."
Rio begitu mengagumi bayi kecil itu, Hira begitu antengnya dalam gendongan Rio.
Sementara itu, Emir menjadi rebutan untuk menggendongnya. karena ketika Hira berpindah ke gendongan yang lainnya tiba-tiba saja menangis namun ketika berada di gendongan Rio nampak tenang justru terlihat senang, alhasil mereka pun melempar candaan, "Wah Yo bakal jadi menantunya Dantai." celetuk Gibran.
Dantai hanya bisa garuk-garuk kepalanya, "Wis Sakarepe mu rek," katanya pada mereka Pak Andi hanya tertawa. Rio yang sedang di bicarakan malah asyik berbicara dengan bayi Hira saat Rio selesai berbicara bayi Hira merespon dengan tersenyum lalu menghentak-hentakan kakinya dan mengerakan tangannya. Mereka semua memperhatikan interaksi antara Hira dan Rio. Gibran kembali melontarkan gurauannya pada Dantai, "Loh, Dan panjenengan tingali toh nyugo jenengan sampun kemantel kalean, Rio loh, wah pun ngetokaken tondoipu menawi putri panjenengan remen kalean Bang Rio, waduh dospudi niki Bapak Dantai."
__ADS_1
(Loh, Dan kamu lihat ya anakmu sudah sangat dekat dengan Rio, sudah kelihatan tandanya kalau anak perempuan kamu suka sama Bang Rio, waduh bagaimana ini Bapak Dantai. Dantai tertawa sumbang, "Wis sakarepmu oleh ngomong rek-rek wong yo Hira jek bayi erone yo rumongso Aman wae," kata Dantai sambil tertawa.
(Sudah terserah kamu ngomong apa, lagian Hira masih bayi, taunya ya merasa nyaman saja)