Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Membangunkan Singa tidur


__ADS_3

Malam hari Rio sibuk di ruangan kerjanya mulai mengerjakan file-file perusahaan saat fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba pintu terbuka Hira masuk kedalam sambil membawa kopi lalu di letakan kopi di atas meja Setela. itu ia pun kembali Mengunci pintu lalu berjalan sambil membuka satu-satu kancing bajunya hinga kancing terakhir, membuat Rio terkejut pasalnya ia tidak mengenakan apa di balik hemnya.


Melihat itu Rio terbelalak melihat penampil Hira. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau ngapain Princees?"


Dia tersenyum.


"Mau bantu om kerjakan tugas Om,"


Kamu jangan aneh-aneh ya sudah saya bilang kalau saya itu nggak akan kuat kalau kamu begini," kata Rio.


Hira itu ngerti Om, makanya itu ke sini bantuin Om itu segera selesai," kata Hira mendorong kursi kebelakang.


Hira melepaskan ikat pinggang Rio, akhirnya Rio pun berdiri dan rela dilucuti pakaiannya oleh Hira dan dia kini telah polos begitu pula Hira dan sudah berjongkok dan mulai memainkan senjata milik pria itu


kamu pakai begituan tadi apa Bilal nggak tahu?" tanya Rio pada Hira sambil mengelus rambut sesekali mendesis, melenguh.


Ra kenapa kau nekat gimana kalau Om kebablasan,"


"Gak akan om," kata Hira.


Rio sudah tak tahan lagi di gendong nya Hira ke kamar privasi itu.


Akhirnya mereka bergelut dalam asmara. Rio makin semangat. mereka saling menyenangkan maju kesenangan tiadanya.


Rio mengajar Hira di atas maupun di bawah begitu seterusnya bergonta-ganti. Dari tangan merambat menuju pegunungan hingga ke lembah yang paling indah bermain di sana begitu lama lalu berganti dengan bibirnya merayap dari leher hingga pegunungan.

__ADS_1


Rio bermain di atas dada Hira memainkan puncak terindah bemain dengan lidahnya mengulumnya bergantian.


Rio mulai mencium seluruh tubuh Hira merayap dan mengulumnya memainkan dengan lidahnya merayap terus merayap Hingga ke lobang Indah


Tatkala mengiginkan hangatnya nafas ingin berbagi satu sama yang lain, memberikan kehangatan lewat sentuhan indah bibir dan jemari hangat membelai tubuh yang indah.


layak perbukitan dengan ceruk indah mewarnainya dengan memeluk tubuh Hira yang indah mulai membelai setiap detik nafas nafas Cinta.


Mewarnai sudut-sudut hati memberikan kenyamanan membuat tak mampu beranjak dari pelukan ingin selalu berada di dalam dekapan tanpa jeda waktu yang membuat rindu.


menghirup nafas membaur setiap saat tatkala hati bergejolak Rindu menahan hasrat tak terkendalikan tanpa mau bicara hanya sentuhan isyarat nada yang mampu menjangkau hati lebih dalam hingga dahaga terpuaskan.


dengan air cinta yang mengalir tak putus hingga ke ujungnya membuat rindu tak pernah habis walau telah diberikan setiap saat, setiap waktu.


Detakan nadih mengukir lembut hasrat yang selalu tumbuh dengan luapan emosi cinta yang tak terbendung. Bagai aliran sungai yang mengalir dari perbukitan turun melintasi debaran jantung, membuat irama yang indah di setiap emosi cinta yang menggebu.


Membelai tubuh dalam luapan kebahagiaan, tak pernah berhenti selalu ditumbuhkan setiap waktu, tak peduli hingga senja mulai menghilang dari tatapan mata serta sentuhan jiwa membuat kita merasa selalu bahagia.


tanpa ada rasa sedih yang mengusik setiap kerinduan yang mengalir indah di hati tanpa bisa dicegah dengan sebuah kata-kata yang mungkin tak bermakna karena telah di wakilkan tubuh yang saling bicara Lewat sentuhan.


Rio menyentuh, mencium, mengulum tanpa adanya penyatuan, ini gila benar-benar sangat gila gadis yang selama ini ia kagumi dan cintai datang meluluh lantakkan pertahanannya, satu pertahanan yang harus ia jaga dari wanita yang membuatnya lemah ini yaitu ingin memiliki gadis ini dengan cara terhormat.


"Kenapa kau nekat Hira? Om sudah katakan Jika kau sudah siap katakan pada Om, aku akan datang dan meminangmu pada ayahmu," kata sambil memeluk tubuh Hira yang polos.


"Jika aku tak melakukannya ayah tak akan menyetujuinya," kata Hira dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


"Tidak, Hira, aku tahu siapa sahabatku dia keras diluar tetapi lembut di dalam, justru Om tidak tahu harus bicara bagaimana menghadapi ayahmu? Dia sangat protektif terhadap anggota keluarganya, apalagi kau putrinya, kau benar-benar membuatku gila Hira," kata Rio, Otaknya menolak tapi hati dan tubuhnya menginginkannya.


"Kau sangat indah, benar-benar Indah, kau telah membuatku benar-benar tak berdaya, Hira," kata Rio kembali bermain di area dada Hira.


Kembali gadis itu dibuat mengelincang, melenguh, mendesis, mengeluarkan nyanyian cinta yang membuat Rio semakin menjadi, jika saja gadis yang ada di bawah ini bukan gadis yang ingin ia jaga maka saat ini mungkin senjatanya mampu merobek landasan cinta yang di pertahankan ini.


Malam ini Rio bahagia sekaligus takut tak mampu menghormati kekasihnya ini, dia seperti di beri madu tanpa bersusah payah mencarinya.


Setelah puas ia pun turun dari tubuh wanitanya dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri, mengguyur tubuhnya dengan shower, Apa yang kulakukan? bisiknya dalam hati. Kali ini dia benar-benar tak mampu mengendalikan dirinya sendiri, oh sungguh dia malu pada sahabatnya itu.


Setelah selesai mandi ia keluar dari ruangan kerjanya menuju kamarnya sendiri, lalu berganti pakaian, baju koko ia melaksanakan sholat tahajud dan melaksanakan sholat tobat nasuha, di sepanjang doanya ia meminta pengampunan pada Robbnya hingga air matanya tak terbendung.


Setelah selesai sholat ia pun termenung dalam hamparan sajadahnya, mengapa hari terjadi sesuatu yang seharusnya tidak boleh di lakukannya? Harusnya dialah yang menahan diri bukan malah terhanyut pada permainan Hira, ia tidak tahu apa yang harus di sampaikannya pada Dantai.


Masih berkutat dengan segala apa dipikirkannya tentang nanti, tentang bagaimana menghadapi Hira selanjutnya, agar dia tidak merasa disudutkan akan kedatangannya di sini.


Rio masih ragu untuk kembali ke ruangan kerjanya takut tergoda kembali dengan pesona gadis itu.


Rio berjalan mondar-mandir di ruangannya, masih bingung dan ragu tentang apa yang akan di lakukannya.


Ia menelpon sahabatnya, di malam buta, tak lama sambungan telepon terhubung.


"Assalamualaikum, Dan. Maafkan aku, Hira datang kesini dan terjadi sesuatu, tolong maafkan aku Dan." Hening tak ada jawaban.


"Dan?" panggil Rio

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Datang segera ke sini bersama Hira dan siapkan surat-suratnya yang di perlukan! Jelaskan saja nanti setelah tiba di sini, ku harap kau tak melampaui batas Yo," kata Dantai, lalu kembali hening.


"Dia masih gadis Dan," jawab Rio.


__ADS_2