Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Pemakaman


__ADS_3

Pak To tiba di rumah sakit, dia menghampiri Hira yang duduk di lantai di teras rumah sakit. "Nona ayo pulang! Tuan tante menyuruh saya menjemput Anda." Suara pak Toh membuat ia tersadar bahwa saat ini masih di rumah sakit.


Tanpa bicara dia berjalan mengikuti pak To menuju mobil dan masuk kedalam lalu tak lama kemudian mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju kediaman Salva.


Di dalam mobil pun dia terdiam sambil memegang cincin yang di berikan Jasmine, hingga mobil sampai di pelataran rumah pun tidak belum berbicara sama sekali mobil pun berhenti kira pun keluar jangan berjalan masuk ke dalam rumah menaiki tangga langsung menuju kamarnya bahkan seolah ia telah sibuk dengan alam pikirannya sendiri mungkin Hira belum bisa menerima dan mungkin juga dia menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan Jasmine.


siapa yang melihat keponakannya menjadi pendiam seperti itu merasa sangat tiba tapi untuk merengkuhnya sekarang bukanlah saatnya Salva membiarkan keponakannya itu larut dalam kesedihannya dia ingin memberikan ruang dan waktu yang lebar kepada Hira untuk memahami hal ini walau sebagai seorang anak kecil dia tidak akan pernah mungkin memahaminya Dia sedikit tahu tentang apa yang diberikan Hira karena Ariel pun bercerita dan memintanya untuk mendampingi. sama mengambil satu piring nasi dan lauknya lalu mengetuk pintu kamar Hira dia menunggu sedikit agak lama namun akhirnya pintu itu pun terbuka, Hira keluar langsung memeluk Salva.


"Apa aku salah Tante?" tanyanya


"Tidak Hira," jawab Salva


"Apa karena aku dia sakit, Tante?" tanyanya kembali


"Tidak Hira," jawab Salva


"Apa karena aku dia pergi Tante?" tanya lagi pada tante.


"Tidak Hira," jawab Salva dengan kalimat sama

__ADS_1


"Sebentar lagi mau magrib salat dulu dan habis itu makanlah, ini makananmu tante taruh di meja sedih boleh tapi perutmu harus diisi Hira, jika mau tidur tunggu salat isya dulu baru tidurlah mungkin dengan tidur kamu bisa melupakannya," kata Salva sambil memeluk keponakan sekali lagi lalu membelai rambut sang ponakan lalu keluar dari kamar ponakannya itu.


Dantai segera menghubungi Rudi dan Gibran mereka berdua langsung terbang ke Surabaya Jam 19.00 Mereka pun sampai di kediaman orang tua Rio saat mereka datang jenazah baru saja akan disholatkan setelah itu jenazah diberangkatkan ke pemakaman Dantai Ariel, Rudi dan Gibran ikut menggotong peti jenazah. Mereka semua mengikuti prosesi pemakaman hingga selesai.


Rio masih terpekur di makam Jasmine hingga semua orang sudah pergi selain mereka berlima empat sekawan itu masih menunggu Rio untuk beranjak dari makam sang istri.


Gibran, berjalan mendekati sahabatnya itu view Ayo kita pulang putramu menunggumu Kau boleh datang lagi besok kasihan putramu," kata Gibran sambil membantu Rio untuk berdiri.


Rio berjalan dengan tatapan dan pikiran yang kosong mereka pun kembali ke rumah orang tua video dengan jalan kaki sesampainya di sana disambut oleh r


Rahanda.


"Kamu sudah cukup sangat berusaha nak terima kasih banyak mungkin memang umur Jasmin hanya sampai segini jadi Om menerimanya dengan ikhlas," kata Rahanda.


Kini giliran Dantai memeluk pria itu ayah dari sahabatnya Rio. "Maaf kan putriku, saat dia juga tidak baik-baik saja mungkin akan menyalakan dirinya sendiri, dia hanya seorang anak kecil yang mengekspresikan setiap perasaannya yang dia jika itu membuat Rio tersenyum akan dia lakukan," kata Dantai


"Aku tahu Nak Dan, Om yang salah, menginginkan cucu, hingga Jasmin berfikir dirinya tidak cukup berharga," kata Rahanda.


"Ikhlaskan tuan, saya juga pamit," kata Dantai sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


Dantai dan Aril menghampiri Rio mereka saling berpelukan Begitu juga dengan ke-dua temannya yang masih tinggal di sini menemani Rio.


di luar atau sudah menunggu kamu dengan mobilnya kami pun masuk ke dalam mobil kalau mobil itu pun berjalan meninggalkan rumah orang tua Rio. "Pak mampir ke rumah sakit dulu Ambil mobil saya kata Ariel.


Baik Tuan kata Pak to sampai terus mengemudi, berjalan menembus gelapnya malam tak seberapa lama kemudian berhenti tepat di depan mobil Ariel dia keluar dan dan masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankannya meninggalkan Rumah sakit begitu pula dengan Pak Toh Yang mendahuluinya.


setengah jam kemudian mereka sampai ke rumah lantai dan Ariel pun langsung masuk kamar mereka masing-masing untuk membersihkan tubuhnya setelah itu berganti pakaian. cinta mengenakan pakaian santai setelan kaos dan celana pendek sebatas lutut berjalan menuju kamar putrinya diketuknya pintu itu berulang kali tidak ada jawaban, dia mencobah bukanya kamar tidur dengan perlahan dan ternyata tidak terkunci.


Danta melihat Sang Putri sudah tertidur lelap dengan perut yang kosong karena piring yang ada di meja tak tersentuh sama sekali, dia ingin membangunkannya namun tidak tega akhirnya dia membawa piring berisi makanan itu keluar dan meletakkannya di meja makan. Dantai memutuskan untuk menunggunya esok pagi dan memaksa Sang Putri untuk makan.


Dante kembali ke kamarnya ia sendiri sudah tidak sanggup makan entahlah hari ini begitu berat rasanya buatnya apalagi untuk Rio yang kehilangan sang istri tanpa pernah tahu sebelumnya bahwa sang istri mengidap penyakit bawaan. Penyakit yang menyebabkan pendarahan yang hebat saat melahirkan mengakibatkan hilangnya nyawa.


Andai Rio tahu mungkin keputusannya adalah tidak mempunyai anak. Itu yang mungkin jadi pertimbangan istrinya untuk tidak memberitahunya agar dia bisa memberikan keturunan pada Rio dan juga pada mertuanya karena dia merasa bahwa yang dia dapat saat ini adalah pertolongan dari tuan Rahanda dan Nyonya Mutia.


Dantai membaringkan tubuhnya di atas ranjang mencoba untuk memejamkan matanya saat ini dia belum ingin menghubungi istrinya entahlah otaknya masih penuh dengan peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan begitu saja apalagi putrinya yang masih kecil itu dia terus berusaha untuk mengerjakan matanya dan pada akhirnya ia pun terlelap dalam pikiran yang penuh masalah dan aktivitas hari ini begitu melelahkan.


Menjelang dini hari Dantai bangun dan menjalankan r rutinitas ibadah hingga menjelang subuh setelah itu mereka berkumpul di meja makan.


Dantai mendongak ke atas berharap putrinya akan keluar untuk sarapan Namun dia tak melihatnya sama sekali, putrinya belum keluar kamar dia pun menaiki tangga menuju kamar lalu mengetuk pintu tak lama kemudian pintu terbuka dan Hira keluar dengan senyum dipaksakannya.

__ADS_1


"Semua ada waktunya Hira jika sudah waktunya kita tak akan bisa mengelaknya. Tak ada yang salah dari kejadian kemarin jadi berhenti untuk menyalakan diri sendiri," kata Dantai pada putrinya sambil memberikan sepiring sarapan pagi pada Hira


__ADS_2