
Walau pun ia marah, kecewa tapi ia tetap melayani suaminya dengan mengambilkan makanan untuknya.
Mereka makan dengan tenang tak ada percakapan sekedar basa-basi di meja makan, seolah tak saling mengenal satu sama yang lainnya, makan malam yang diharapkan sedikit memberikan kehangatan justru menjadi sebuah bara yang membakar hati sedikit demi sedikit. Makanan yang di masak dengan susah payah dan dijaga rasanya agar sedap di mata dan di lidah agar turun ke hati dan menjadikan jembatan cinta antara dia dan Rio, tidak bukan itu yang terbangun tapi dinding yang sangat tinggi hingga tak mungkin menggapainya.
Rio melihat makan istrinya sangat sedikit, di menatap Jasmine. "Kenapa makannya sedikit? Yang butuh asupan gizi itu bukan hanya engkau, Jas. Akan tetapi anak yang dalam kandunganmu itu," katanya sambil menyingkirkan piringnya yang telah kosong, lalu mengambil piring Jasmine dan mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk, kemudian mengambil sesendok dan mengarahkannya ke mulut Jasmine. Wanita itu memakannya dengan rasanya yang bercampur aduk, bara yang ada di hati sedikit tersiram oleh perhatihan Rio, walaupun itu hanya untuk anaknya yang masih dalam kandungan. Jasmine tetap bersyukur karena masih sedikit ada perhatian untuk dia dan anaknya.
Setelah beberapa saat kemudian makanan itu pun tandas dan hanya menyisakan piring kosong, Rio tersenyum. "Lihatlah! Anak kita lapar bukan? Kau tidak boleh seperti ini lagi, kau harus benar-benar menjaganya, Jas! Kasihan anak kita, jika kau malas untuk makan." kata dengan nada yang sedikit keras." Jasmine terdiam dan menunduk tajam, air matanya mulai menetes.
Rio menghelah nafas dan mulai menurunkan intonasi suaranya. "Saya hanya ingin kamu benar-benar merawat diri kamu dan anak kita, sekarang istirahatlah! biar ini nanti Narti yang membereskan, jika kau ingin apapun katakanlah! Nanti akan kucarikan, jika ada masalah dengan kandunganmu aku di ruang kerja, kau bisa cari aku di sana," katanya sambil membelai rambut Jasmine yang panjang, diciumnya keningnya lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Jasmine sendirian menuju ruang kerjanya.
Jasmine menghapus air matanya dengan dengan punggung tangannya, seperti di hentakan dari ketinggian, hatinya sudah mulai membuncah kemudian pecah.
Dia memanggil Narti meminta untuk membereskan meja makan sementara itu ia ingin menenggelamkan diri dalam kamar menangis sepuasnya hingga tertidur, Ia beranjak dari tempat duduknya, Langkah kaki di seret menuju kamarnya tidurnya, tanpa menghiraukan tatapan Narti yang ibah padanya.
'Non harus bersabar untuk anak Non, Memang tuan tidak kasar pada Non, tapi sikap beliau memang seperti belum bisa mencintai Non, berusahalah terus Non, saya hanya bisa bantu doa untuk Non', gumamnya dalam hati sambil menatap kepergian Nyoyanya hingga menghilang dibalik pintu kamar tidurnya.
Bik Narti, menyimpan semua makanan di dalam kulkas untuk dipanaskan lagi nanti jika tuannya ingin makan, dia bersyukur majikannya ini tidak terlalu pilih-pilih makanan justru Tuan Rio akan marah jika makanan harus di buang, maka Tuan Rio selalu bilang kalau masak jangan banyak-banyak secukupnya saja. Bik Narti tersenyum saat mengingat pesan dari bos mudanya itu.
Setelah sampai di kamarnya ditutupnya pintunya rapat-rapat lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan berusaha di pejamkan matanya.
__ADS_1
Rasa kantuk membuatnya mulai terlelap, akan tetapi dering notifikasi handphone-nya membuatnya terjaga, di ambilnya gawainya dari atas nakas lalu dilihatnya pesan dari siapa? ternyata dari dokter Dara.
Dokter Dara
Apakah Anda besok bisa menemui saya di tempat praktek saya kalau bisa dengan Tuan Rio, yaa Bu?
Jasmine
Apa ada masalah dengan kandungan saya, Dok?
Dokter Dara
Iya sedikit, itu sebabnya saya ingin Anda datang bersama Tuan Rio
Jasmine
Dokter Dara
Baik saya tunggu jam 10.00
__ADS_1
Jasmine
Ya, saya akan datang terimakasih.
Dokter Dara.
Sama-sama, Bu.
Jasmine menghapus chat Dokter Dara dan meletakan kembali gawainya di atas nakas. Ia termangu, pikirannya mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya akan dikatakan Dokter kepada dirinya.
Jasmine menghapus chat Dokter Dara dan meletakan kembali gawainya di atas nakas. Ia termangu, pikirannya mulai menerkah-nerkah apa yang sebenarnya akan dikatakan Dokter kepada dirinya. Pikiran berkecamuk, jika pada akhirnya nanti ada sesuatu yang paling buruk ia tidak ingin Rio tahu, seandainya dia harus tiada seperti ibunya saat melahirkannya dia akan iklas, Jika di saat dia hidup dengan Rio tak mendapatkan cintanya, setidaknya dia ingin Rio mengenangnya saat dia telah tiada dan memberikan buah hati yang selalu mengingatkannya pada namanya. Itu sebabnya ia ingin tahu sendiri tanpa mengajaknya bertemu Dokter Dara.
apa yang terjadi pada dirinya biar ia sendiri yang menyimpan rahasia ini sampai akhir hayatnya.
Rasa kantuknya pun hilang karena rasa penasaran yang tak terhingga rasanya jam ingin diputarnya cepat agar segera pagi dan bertemu dengan Dokter Dara.
Berpikir namun tak tahu apa yang dipikirkan selain rasa penasaran ada dengan dirinya dan bayinya, tak mau pikiran berubah menjadi kecemasan ia pun memaksakan diri untuk tidur.
Sementara itu, di ruang kerjanya Rio mulai larut dengan pekerjaannya matanya fokus pada angka-angka yang ada di laptop, hingga larut malam. Rio menghentikan aktivitas Ketika jam dinding berbunyi 12 kali.
__ADS_1
Ia menutup laptopnya dan berjalan menuju kamar dia dan jasmine, dibukanya pintu tak terkunci, Rio pun masuk merebahkan tubuhnya di samping istrinya, ditatapnya istrinya, masih ingat di waktu itu malam pernikahannya Jasmine memintanya untuk memenuhi kewajibannya, walaupun ia menolak dengan alasan belum mencintai nya, Jasmine tetap bersikeras agar dirinya mau memenuhi kewajibannya sebagai suami hingga hamil, dan benar saja setelah melakukan hubungan tanpa cinta beberapa kali akhir Jasmine hamil. 'Maaf, jika aku menyakitimu, Jas.' gumamnya dalam hati, Rio mencium perut istrinya baik-baik di dalam jangan nakal kasihan Bunda yaa, " katanya dalam hati. setelah lelah berkutat dengan pikirannya ia pun mencoba memejamkan matanya dan mulai terlelap dalam kelelahan hati dan pikirannya sendiri.
Sementara itu di rumah Dantai, Hira mulai mengemas barang-barang miliknya, gadis kecil itu sudah di biasakan mengurus keperluannya sendiri tanpa bantuan orang lain, begitu pula dengan Emir, dan Dantai selalu mengingatkan putra-putrinya itu dengan hanya membawa hal-hal yang penting saja, jangan ada mainan masuk ke dalam koper jika memang ingin hanya membolehkan satu saja, Dantai mengecek ke kamar anak-anaknya satu persatu memastikan apa yang menjadi perintahnya dilaksanakan dengan baik, tanpa ada yang melanggarnya dengan memanfaatkan kelengahannya.