
Hari-hari berganti hingga tak terasa sudah satu bulan lebih dua Minggu mereka menikah.
Setelah melakukan kegiatan ranjangnya mereka tidur saling berpelukan kehidupan Rio semakin membuatnya bergairah dan semakin mencintai istri kecilnya itu.
Alarm handphone membuatnya terjaga, masih jauh setengah empat dini hari, dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dia pun menyiapkan air hangat dengan sabun cair dan aroma terapi untuk sang istri, setelah itu keluar dari kamar mandi.
Rio membangunkan sang istri. "Hir, mandi sayang, sudah Daddy siapkan air hangat," kata Rio pada istrinya itu.
Hira membuka matanya dengan malas, masih ngantuk Dad, dan kepala Hira sakit," katanya kepada suaminya.
"Nanti, tidak usah bekerja, Daddy akan minta ijinkan kamu di rumah sakit tempatmu bekerja," kata Rio sambil menggendong sang istri masuk ke dalam kamar mandi kemudian menurunkannya di bathtub.
"Daddy sama Billal akan sholat subuh di masjid, jangan lama-lama mandinya," kata Rio dan Hira mengangguk.
Rio pun keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamarnya berjalan menuju kamar putranya, mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu terbuka dan senyuman mengembang di bibirnya dengan baju koko dan sarung serta sajadah dia sudah siap berangkat ke masjid bersama sang Daddy.
"Ayo kita berangkat!" ajak Rio pada putranya sambil berjalan mendahului sang putra keluar dari rumahnya. Bilal segera menutup pintu kamarnya dan menyusul sang Ayah.
Mereka beriringan berjalan ke masjid terdekat dan melaksanakan sholat subuh berjamaah di sana.
Sementara itu Hira yang merasa kurang enak badan segera menyudahi ritual mandinya. Setelah itu, ia berganti pakaian dan mengambil mukenanya kemudian mulai menunaikan sholat subuhnya.
Setelah selesai, Hira merasa begitu mual pada perutnya, dia segera melepaskan mukena dan berlari di kamar mandi, dan memuntahkan seluruh isi perut.
Rio yang baru datang terkejut ia segera meletakkan sajadahnya di atas meja, lalu berlari ke kamar mandi dan mendapati sang istri berjongkok di kloset dan memuntahkan makanan yang di makannya tadi malam.
__ADS_1
Rio memijat tengkuk sang istri setelah itu membersihkan mulut sang istri dengan air, lalu menuntunnya keluar dari kamar mandi menuju ranjang dan membantunya duduk. ia kembali ke kamar mandi membersihkan muntahan sang istri setelah itu kembali ke istrinya.
"Tunggu di sini saya akan buatkan minuman hangat untukmu," kata Rio pada sang istri.
ia segera keluar menuju dapur membuatkan wedang jahe, digepreknya jahe lalu ditaruh di panci kecil berisi air dan direbus hingga mendidih kemudian dituangkan kedalam gelas yang berisi gula setelah itu, diaduknya.
Rio membawa segelas wedang jahe yang masih panas kedalam kamar, lalu menuangkan kedalam piring kecil agar segera hangat setelah itu, menyerahkan pada sang istri untuk segera meminumnya.
"Bagaimana apa sudah enakan?" kata Rio pada istrinya.
Hira menggangguk. Rio menatap sendu sang istri menatapnya curiga, dia takut sekali sang istri hamil, dia begitu percaya pada sang istri bahwa istri sudah melakukan tindakan untuk menunda kehamilan tetapi ia begitu curiga tidak pernah ditemui sang istri mendapatkan tamu bulanannya.
"Hir apa benar-benar kamu sudah melakukan suntik penunda kehamilan atau sekedar membohongi Daddy?" tanya Rio pada Hira.
"Hira tersenyum. "Maaf Dadd, aku ingin segera punya anak darimu, ingin segera memberikan teman untuk Bilal."
Rio mengumpat dalam hatinya dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau tahu Hira, betapa Daddy sangat mencintaimu, masih banyak waktu untuk kamu hamil Daddy tidak melarang tapi bukan saat ini Hira bukan, usia mu belum matang untuk itu kau adalah dokter kandungan harusnya kau mengerti itu!" Aku tidak ingin anak aku hanya ingin kau selalu di sampingku, apa kau hamil? Kau pasti tahu Itu Hira," tanya Rio pada Hira.
"Berjanjilah padaku, jika terjadi hal yang tak di inginkan tolong jangan pertahankan anak ini pertahankan lah diri mu Hira jangan menjadi Jasmine yang ke dua yang merahasiakan semuanya dariku aku sangat takut kehilanganmu," kata Rio sambil mencium seluruh wajah istrinya dia begitu cemasnya akan kehamilan Hira.
"Daddy, jangan cemas aku tidak seperti Tante Jasmine, percaya lah aku baik-baik saja," kata Hira pada Rio sambil berjalan ke arah laci dan memberikan respect pada suaminya.
"Ku kira aku tidak mengalami morning sicknes sehingga bisa merahasiakan ini pada Daddy, ternyata aku salah dan sekarang aku ketahuan," kekehnya sambil memeluk sang suami memberikan pelukan agar suaminya tidak terlalu takut dengan kehamilannya.
Hira mengambil tangan sang suami dan meletakkannya di perutnya.
"Sambut dia Daddy jangan takut, kami akan baik-baik saja," kata Hira pada suaminya yang masih trauma atas apa yang terjadi pada istri pertamanya.
__ADS_1
"Kau benar-benar membuatku cemas, honey," kata Rio di tempelkan keningnya di kening istrinya lalu memagut bibir yang indah itu dan menyesap penuh cinta dan kerinduan kemudian mengusap perut sang istri lalu menciumnya.
"Selamat datang sayang baik-baik di dalam yaa, I love you." Rio menatap sang istri, kembali menciumnya dan berkata, "Aku sangat mencintaimu Hira dan tak ingin kehilanganmu. Habis ini kita ke dokter, habiskan minumanmu terlebih dahulu.
Dantai berganti pakaian santai dan bersiap mengantarkan sang istri periksa.
Mereka pun pergi ke rumah sakit dan sudah berada di ruang tunggu Dokter Erin. Tak lama kemudian nama mereka di panggil dan mereka pun masuk ke dalam ruangan.
"Silakan duduk Dokter Hira, Anak pertama ya, Dok," sapa Dokter Erin.
"Iya, jangan terlalu formal, Dok, suamiku terlalu menguwatirkan kandunganku karena usiaku," kata Hira
"Baiklah," jawabannya dan Hira pun berbaring di ranjang lalu dokter mengoleskan krim dan mulai menggeser alat pada perut bawah Hira lalu melihat monitor.
"Sudah lima Minggu ya, Dok, dan ... ini sepertinya kembar ada dua titik di sini, selamat ya, Dok, Pak," kata Dokter Erin pada mereka.
"Kembar?" tanya Rio
"Iya, apa ada keturunan kembar?"
"Iya, istri saya Dok," jawab Rio
"Di jaga ya, janinnya kuat, ibu juga fisiknya stabil, jaga asupan gizi dan jangan terlalu lelah," kata dokter Erin pada mereka lalu memberikan resep vitamin setelah itu mereka pun keluar dari ruangan.
Dengan menatap sang istri di berjalan berdua menuju loket obat, menyerahkan resep dan mengantri sebentar lalu membayarnya setelah mendapatkan vitaminnya.
"Apa kau bekerja atau ijin saja?" tanya Rio pada istrinya.
__ADS_1
"Sudah terlanjur ke sini aku kerja saja," sahut Hira.
"Ya sudah, aku akan menunggumu di sini sampai pulang," kata Rio pada sang istri, tak peduli raut mukanya menolak.