
Dantai terkekeh mendengar ucapan Anta karena putrinya itu pintar sekali membuat drama hingga omah jadi bingung sehingga Dantai lansung meluncur ke rumah untuk menenangkan bayi itu tapi ketika di ajak ke mobil lansung berhenti begitu saja tangisnya
Di dalam perjalanan pulang Hira tertidur, Dantai meminta handphone Anta untuk melihat ada informasi tentang perkuliahan ataukah tidak, handphone Anta sebenarnya handphone khusus yang sistem kerjanya adalah suara, akan tetapi Dantai gak tahu kenapa dia ingin melihat handphone isterinya, ia terkejut melihat sebuah nomer tak di kenal ada panggilan 3 kali berturut-turut, lalu ada pesan suara. dia pun melihat info mata kuliah hari ini dan ternyata untuk mata kuliah jam terakhir di ganti dengan tugas membedah buku. Dantai memasukan handphone istrinya dalam saku celananya. Lalu fokus kembali mengemudikan kendaraannya.
"Yah, gimana ada kuliah enggak nanti?"
"Eh, iya sampai lupa gak ada, Bun. di ganti dengan bedah buku, nanti Ayah carikan bukunya," kata Dantai
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di halaman rumah mobil berhenti, "Bun, biar ayah aja yang gendong Hira." Anta hanya mengangguk dan menunggu Dantai mengambil Hira.
Dantai keluar dari mobilnya dan membuka pintu tengah, kemudian mengambil Hira dari pangkuan istrinya.
Anta ikut keluar tangannya mengelayut pada lengan Dantai. mereka memasuki rumah di sambut dengan tangisan Emir, Dantai menaruh Hira di dalam box bayi
lalu meraih Emir. "Maaf ya, tadi kamu masih tidur," kata Dantai sambil menimang putranya lalu diberikan kepada Anta untuk diberikan ASI.
__ADS_1
"Bun, ayah keluar dulu ya cari buku buat bunda," kata Dantai sambil mengecup kening Anta.
Dantai keluar dari rumah menuju mobilnya, di ambilnya handphone Anta dari saku celananya di buka pesan suara, "An, saya Pak Aldo. Besok minta ijin gak usah di jemput, nanti saya Antar pulang."
Dantai menghelah nafas, sepertinya ada mulai tertarik dengan istrinya.
Dantai pun menghubungi nomer, tersebut, di tunggu beberapa waktu akhirnya terhubung juga. terdengar suara dari sebrang, "Hello, Anta." Dantai menghelah nafas lalu mulai membuka suara, "Assalamualaikum, selamat siang. Ini dengan Pak Aldo, Saya Dantai suami dari Anta, mohon maaf sebelumnya, sebaiknya saya merasa kurang nyaman jika pak Aldo menghubungi istri saya di luar urusan mata kuliah, Pak." kata Dantai
Deg, hati Aldo terasa berhenti, wanita yang ia kagumi ternyata telah menikah. Sesaat terdiam berusaha mengendalikan diri, "Siang, maaf Pak Dantai, saya mencoba untuk melindungi mahasiswi saya karena dia adalah disabilitas." katanya untuk menutupi rasa tidak nyamannya karena ketahuan menyukai istri orang.
"Maaf saya tak akan membatasi pergaulan Istri saya, Pak Aldo, namun saya kawatir nantinya anda salah paham."
"Iya trimakasih, Pak. selamat siang Pak."
"Selamat siang, Pak Aldo" sambungan telepon pun terputus, Dantai masuk kedalam mobilnya dan mobil itu meninggalkan pelataran sekolah melintasi jalanan yang sedikit terik mobil berhenti di toko buku, ia membeli buku untuk Anta. Setelah selesai membayar ia pun keluar dari toko buku dan masuk lagi dalam mobilnya, lalu berjalan meninggalkan toko buku kembali kerumahnya. Tak seberapa lama ia sampai di pelataran halaman rumahnya, keluar dari mobilnya berjalan masuk rumah dengan membawa buku-buku yang di butuhkan Anta. ia pun masuk ke dalam kamar ia melihat putranya sudah tidur. ia menaruh buku di atas meja lalu menghampiri istrinya. Meraih putra yang sudah tertidur di letakan di dalam box lalu ia mengunci pintu kamar dan menutup sedikit pintu sekat ia menghampiri istrinya, "Bun, ayah haus nih?"
__ADS_1
"Ya... minum Yah." jawab Anta ketus
"Ingin minum susu, Bun." jawab Dantai singkat
"Mau di buatkan?"tanya Anta pada Dantai
"Mau minum punyak Emir dan Hira." kata Dantai pada Anta.
Kening Anta berkerut, belum sempat ia memahami apa yang di kata Dantai Dia sudah diserang oleh bibir di bagian atas dan tangan di bagian bawah serangan dilancarkan oleh Dantai bertubi-tubi hingga membuat tanpa disadari mereka pun sudah dalam ke adaan polos. Dantai pun bermain dengan sangat lihainya mereguk kenikmatan hingga batas dahaga terpuaskan, masih mengungkung, meraih dan saling menautkan rasa yang ada, hingga sama-sama dalam titik puncak yang memuaskan, sampai akhirnya terkulai lemas. Dantai memeluk Anta Dari belakang sambil tangannya bermain di area yang dia sukai hingga mereka pun melakukan lagi semakin bergelora hentakan-hentakannya seirama hasrat yang membara Dantai terus menyerang tanpa ampun seolah beberapa hari tak menemukan air penghilangka dahaga. Anta terbawa suasana menikmati hasrat suami dengan saling berbalas dan menyerang, rindu seolah belum juga mencapai batas *******, Dantai terus menyerang dari bawah dan atas, bibirnya mengembara menyusuri lembah yang selalu di rindukan dan inginkannya, tangan mendaki perbukitan yang indah dan menakjubkan membuat hati meletup-letup, terus dan terus hingga kembali terkulai dalam kenikmatan. nafas yang masih memburu perlahan normal anta seolah sudah tak sanggup terjaga. Namun Dantai melarangnya untuk tidak tidur dulu sebelum bersih-bersih. Dantai bangun dari ranjangnya lalu mengambil handuk dan dililitkan pada pinggangnya. ia pun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. setelah itu menyiapkan air hangat dan aroma terapi, lalu keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri istrinya lalu menggendongnya kemudian di bawanya ke kamar mandi dan di dudukan kedalam bathub berisi air hangat," Bun jangan terlalu lama ya... aku tunggu sholat Ashar. Dia pun keluar kamar mandi, menganti pakaiannya dengan baju kokoh dan sarung lalu kembali lagi ke kamar mandi untuk berwudhu setelah itu menunggu Anta. Anta pun keluar dengan lilitan handuk sebatas dada lalu berganti baju rumahan dan mengambil mukena kemudian memakainya setelah itu, ia memakai mukenanya dan berdiri di belakang Dantai. Mereka lalu sholat berjamaah.
Di tempat lain Dosen yang bernama Aldo, merasa seperti telah jatuh dalam sebuah ketinggian yang membuatnya terluka begitu dalam.
ia bangkit dari ranjang Apartemennya mengambil rokok dan menyulutnya.
Permainan belum juga di mainkan tapi sudah game over. Cinta baru saja di semai belum juga tumbuh tapi tiba-tiba di paksa pergi dari hatinya. Jika saja dia duluan mengenal Anta mungkin yang bersanding adalah dirinya walaupun itu khayalan liarnya tapi sungguh ia ingin di posisi sebagai suaminya, baru saja ia mau memutuskan masuk Islam tapi akhirnya urung.
__ADS_1