
Rio mengajak sang istri untuk bersepeda mengenang masa ketika pertama kali bertemu kembali princess hatinya itu.
"Boy, ikut bersepeda tidak?" tanya Rio pada putranya
"Tidak aku tidak ingin melihat kalian pacaran, bersepeda lah sendiri, aku mau main game saja," kata Bilal pada Ayahnya.
"Ya, sudah jangan menyesal yaa, kalau kamu sendiri di rumah," kata Rio pada putranya.
"Aku sudah besar, Dadd, sudah sebelas tahun," katanya sambil terkekeh.
"Iya, Daddy lupa, bahkan kau sudah mulai berkenalan dengan gadis yang ada di bandara kulihat kamu bertukar nomer telpon dengannya," kata Rio membuat mata Bilal terbelalak
"Daddy tahu?" tanya Bilal terkejut. kok Daddy tahu sih kalau aku berkenalan dan bertukar nomor telepon?" tanya Bilal pada Rio
Rio hanya tertawa lalu menarik tangan istrinya untuk diajaknya bersepeda keliling perkebunan, Hira duduk di besi di depan Rio dan pria itu mulai mengayuh sepedanya mengelilingi perkebunan miliknya.
"Kamu masih ingat princess apa yang kau katakan padaku?" tanya Rio pada Hira.
"Apa, Dad?" tanya. Hira pada Rio
'Kalau begitu mulai sekarang harus latihan Om biar badan tuh sehat. Buat persiapan dapat istri muda, Om. Nanti biar gak loyo,' itu katamu princess," kata Rio sambil tertawa.
"Siapa sih yang ajari ngomong gitu Princees, padahal aku tidak pernah mengajari ngomong seperti, masih sembilan tahun loh waktu itu kamu," katanya sambil terkekeh
"Daddy yang mengajari ku, semua yang aku lakukan Daddy yang mengajarinya,"kata Hira tertawa
"Apa coba?" tanya Rio sambil mencuri ciuman di pipinya.
"Daddy kalau naik sepeda jangan meleng dong kalau jatuh bagaimana?" peringatan Hira dan Rio hanya tertawa saja.
"Ciuman pertama Hira Daddy Yang Ambil," katanya sambil tertawa.
"Masa sih Aku kok lupa kalau aku mengajarimu wah benar-benar berbahaya ini,".kata Rio tertawa
"Memang pandai berkelit. padahal jelas-jelas dia yang mengajarkannya tapi ternyata bilang kalau daddy itu lupa memang dulu yang cium siapa?" tanya Hira.
__ADS_1
"Siapa yaa, kok Daddy lupa sih perna cium kamu," kata Rio tertawa.
"Daddy jangan gitu dong, masak Daddy lupa padahal aku gak lupa loh Dadd," kata Hira.
"Ciumannya lupa tapi rasanya gak perna lupa aku Hir," kata Rio sambil tertawa
"Dadd, nyebelin tahu," gerutu Hara dan Rio tertawa.
"Kita sampai di sini kita berhenti dulu di sini kamu masih ingat kan Hir, waktu bersepeda dengan Bilal kita kesini, 'kan?" kata Rio.
"Iya, betul kita turun nih, Dad?" tanya Hira.
"Iya dong, Daddy capek, tenaga Daddy terkuras habis nih, Ra," kata Rio sambil menunggu istrinya turun dari boncengannya. Setelah itu, ia pun turun dari sepedanya dan di sandarkan di pohon.
Rio duduk dan merebahkan tubuhnya di rerumputan, Hira menyusul sang suami setelah membasuh mukanya di sungai yang jernih ia pun ikut merebahkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada Rio. "Anginnya semilir ya dadd jadi pengen tidur," kata Hira.
Iya juga betul juga kalau capek kan langsung tidur aja tahu-tahu sudah malam, wah bisa berabe, kalau begitu ya nggak usah tidur nikmati aja semilir anginnya sambil lihat wajah kamu yang cantik," kata Rio sambil terkekeh.
"Tadi kenapa gak beli makanan yaa, Dadd, di sini sambil makan makanan ringan pasti enak deh Dad," kata Hira.
"Ahh, sih Daddy mesum amat," kata Hira tersipu.
"Tidak masalah kamu kan istriku dan kalau kamu dimesumin orang lain seperti tadi waktu pagi tadi ada pertandingan aku yang gak rela Hir," kata Rio menatap istrinya.
"Kok di ungkit lagi sih Dad," kata Hira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Habisnya dari tadi kamu protes terus daripada cuma jadi omongan kan lebih baik langsung begini," kata Rio sambil menyambar bibir Hira melum4tnya dengan penuh perasaan dan menyudahinya saat sudah kehabisan napas.
"Bener kan kataku makanan yang paling enak itu adalah bibirmu, Ra," kata Rio.
"Ya memang itu keinginanmu, Dad," kata Hira sambil terkekeh.
"Benar juga Daddy tak pernah bosan dengan bibir indah mu itu, sayang," kata Rio sambil menyambar kembali bibir istrinya.
Rio menatap sekitar terlihat sudah akan gelap dia bangkit dari duduknya sambil menarik tangan istrinya agar ikut berdiri bersamanya.
__ADS_1
"Kita pulang, seperti sudah mau magrib, atau mampir dulu ke warungnya mbok Ja, di sana ada gorengan seperti enak sore-sore Begi makan gorengan princess," kata Rio pada istrinya sambil naik ke sepedanya Hira duduk di besi yang menjulur di depan Rio.
"Katanya enakan bibirku kenapa beli gorengan?" tanya Hira pada Rio
Rio terkekeh."Itu kalau gak ada Bilal."
Jalanan yang sedikit berbatu membuatnya meringis kesakitan karena terbentur besi.
"Kenapa princess?" tanya Rio
"itu anu sakit itunya, Dad," kata Hira manja.
Rio berhenti. "Kalau begitu duduk di belakang saja tempat duduknya empuk di depan keras Hir, dari pada itu mu kebentur besi lebih ke bentur bibir Daddy," kata Rio sambil tertawa.
"Itu karena Daddy marahnya begitu," kata Hira mengerucutkan bibirnya.
"Daddy kalau marah begitu kan enak Hir," kata Rio sambil tertawa.
"Iya tapi kan Daddy masuknya gak lihat dulu sudah bisa di masukin belum jadi lecet," protes Hira
"Nanti deh habis sholat isya daddy lihat lecetnya bagaimana? Terus Daddy obati nanti," kata Rio sambil mengayuh sepeda gunungnya hingga ke warung mbok Ja.
"Wah juragan, sama istri? Mau beli apa, juragan?" tanya mbok Ja ramah.
"Itu gorengan semua mbok lalu sama bubur sruntulnya deh mbok tiga," kata Rio
"Lima Dad!" protes Hira
"Oh lima Mbok, saya lupa kalau kamu anaknya Dantai," kata Rio sambil tertawa.
Mbok Ja pun ikut tertawa walau tidak tahu apa maksud yang di bicarakan mereka.
Setelah semuanya di bungkus dan di bayar mereka pun keluar dari warung itu. Lalu naik sepeda gunungnya kembali menyusuri jalanan menuju rumah.
Mbok Ja yang melihat romansa itu pun berkomentar dengan suaminya.
__ADS_1
"Enak yaa juragan istrinya muda, dia jadi kelihatan lebih muda sekarang," katanya terkekeh.