
Andi dan Harlan masih bercakap-cakap mengenai Maera putri angkat Andi.
"Yang terpenting ia baik-baik saja Besan, itu akan membuat kita legah. Oh yaa, tadi Amru telpon katanya saat ini sudah musim duren dan beberapa sudah bisa di panen, sebenarnya ia akan mengantarkan ke rumahmu tapi aku mencegah nya lebih baik kita ke sana sambil melihat buah yang lain tengah berbuah. Aku juga senang Amru sekarang lebih semangat hidupnya setelah mengelolah perkebunan mu Mas Andi."
"Aku juga senang, dia begitu jujur dalam mengelolah usahanya oleh sebab itu aku mengikatnya dalam sebuah perjanjian, jika ia suatu saat mempunyai perkebunan sendiri atau ladang misalnya, dia tidak boleh meninggalkan perkebunanku," kata Andi sambil tertawa. Hardan terbelalak, seolah tak percaya dengan apa yang di katakan Andi. "Benarkah, apa dia setuju?" tanya Hardan dan Andi masih tertawa sambil mengangguk. "Dia setuju malah tertawa sambil menandatangani surat perjanjian itu, dia bilang itu adalah doa dariku agar dia punya ladang sendiri, itu sebabnya dia tak akan meninggalkan perkebunanku itu jika dia sudah punya segalanya, benar-benar orang yang aneh bukan?" Hardan tertawa mendengar cerita Andi. "Kau benar, Mas. Memang di orang jujur dan sangat baik, kadang kebaikannya itu di manfaatkan orang untuk meraih keinginannya sendiri, seperti yang dilakukan pamannya padanya itu," timpal Hardan dengan wajah prihatin, mengenang pertemuannya dengan Amru saat itu.
"Ini kalau ke sana nunggu Anak-anak pulang yaa, Mas. Akan tetapi mereka harus ganti baju dulu nih, nanti kalau tidak Anta bisa marah, mata-mata banyak," kekeh Andi.
"Ah, gampang itu Mas, biar nanti Sonya yang belikan baju Emir dan Hira." Hardan menekan interkom meminta Sonya untuk datang ke ruang kerjanya. Sonya keluar ruangannya dan menuju ruangan Hardan mengetuk pintu yang terbuka untuk sekedar memberi tanda bahwa dia sudah di depan pintu.
"Masuk!" perintah Hardan. Sonya masuk dan membungkuk hormat. "Iya, Pak ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong kamu belikan baju untuk cucuku yaa, Emir dan Hira, mau kami ajak mereka ke perkebunan, kamu masih ingat cucu saya 'kan?" tanya Harlan pada Sonya.
"Iya, saya ingat yang datang satu minggu yang lalu bersama tuan Datai." jawab Sonya dengan sopan
"Ya betul dan ini adalah besan saya, nanti kalau beliaunya datang langsung suruh masuk saja!" perintah Hardan.
"Baik, Pak." jawab Sonya lalu keluar ruangan.
Mereka pun berbincang-bicang tentang apa saja, mulai dari bisnis hingga kelucuan cucu-cucu mereka sambil menunggu waktu kepulangan Emir dan Hira. Sonya datang membawa paper bag yang berisi baju ganti anak-anak. Saat waktu sholat dhuhur mereka melaksanakan sholat dhuhur berjamaah bersama karyawannya di masjid yang berada di lantai satu. Setelah selesai melaksanakan sholat dhuhur mereka lansung masuk kedalam mobil dan meninggalkannya area parkir kantor Hardan.
__ADS_1
Tak seberapa lama mereka sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah.
Dua Anak kembar berlari riang menuju mobil kakek Emir dengan semangat membuka pintu depan dan Ia terkejut. "Kakek Harlan!" teriak Emir sambil mencium punggung tangan Hardan dan juga Andi. Sementara itu, Hira pun ikut terkejut, hanya bisa terdiam dan mulutnya menganga beberapa saat. "Wowi ... ada lalat tuh!" teriak Emir membuat Hira langsung mengatupkan mulutnya dan tertawa lalu masuk kedalam mobil duduk di bangku tengah begitu pula Emir sebelum duduk Hira mencium punggung tangan Hardan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Anak-anak ayo ganti baju kalian dulu, kakek sudah belikan baju ada di bangku belakang. Hira langsung naik keatas kursi dan meloncat ke kursi belakang ny dia ambilnya paper bag dan di lihatnya terlebih dulu setelah yakin paper bag milik Emir di berikan pada Emir. Mereka segera mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang lebih santai.
Hira memakai stelan kaos lengan pendek dan celana pajang bahan kain, sedangkan Emir mengenakan kaos lengan pendek dan celana pendek sebatas lutut, lalu mereka menyimpan baju seragamnya di dalam tas mereka.
Mobil terus bergerak melintasi beberapa pertokoan, lalu kedalam sebuah perkampungan yang masih dengan rumah-rumah yang belum begitu padat.
"Mana Paman?" tanya mereka dengan antusias.
"Ayo paman antarkan," kata Amru dengan lembut.
Pak Amru berjalan menuju tikar yang sudah digelarnya, di atas tikar sudah tersedia beberapa buah durian, kelengkeng, mangga, rambutan, alpukat dan cempedak.
"Ayo sini Tuan Muda dan Nona Muda duduk di tikar ini, akan saya bukakan duriannya, durian ini enak sekali tuan," kata Amru.
Pak Amru membukakan satu durian untuk mereka. Mereka pun mulai memakan dengan lahapnya. Andi dan Harlan bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Kamu sudah siapkan semua nih ada piring, ada pisau juga kapan kamu ngambilnya?" tanya Andi sambil terkekeh.
"Sudah dari dulu Pak Andi, saya butuh semuanya untuk makan siang karena saya akan pulang sore hari," jawab pak Amru tertawa.
Andi berbincang dengan Amru dengan sangat serius. "Pak Andi ini ada tanah yang di jual seluas empat hektar, kalau Bapak berminat untuk memperluas perkebunan saya akan nego 'kan dengan pemiliknya sudah ada beberapa pohon di sana kita tinggal menambahkan saja lagi dengan buah-buah yang nilai jualnya tinggi Pak."
"Pak Amru sanggup mengelolahnya 'kan? kalau Bapak masih mau akan saya ambil tanah itu saya tergantung pak Amru saja." kata Pak Andi sungguh-sungguh
"Kalau butuh alat untuk kemajuan perkebunan ini katakan saja nanti kita beli pak," kata Andi memberikan kesanggupan pada Amru.
"Saya masih sanggup jika Bapak masih percaya saya," kata Amru.
"Oh, iya saya sangat percaya dengan Bapak apalagi saya sudah tahu pribadi Bapak."kata Andi lagi pada Amru.
Amru berkaca-kaca, ia tak menyangka ada orang yang begitu percaya padanya. Setelah apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah berbincang-bincang hangat pak Amru membawakan beberapa buah yang cukup banyak untuk di bawa pulang.
Hari semakin sore, Harlan dan Andi pun berpamitan, Emir dan Hira masuk dalam mobil Emir menempati bagian belakang dan Hira di tengah memasang bantal di ujung kursi lalu tiduran di sana.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang melintasi perkampungan hingga sampai di jalan raya yang cukup ramai Andi mengantarkan Harlan pulang duluan.
__ADS_1