
Empat tahun kemudian, kaki mungil kecil itu berlarian mengejar yang kakak.
Mami Bang Bilal nakal dia mengambil mainan kami," teriak Azkia dan Asha
"Bang Bilal jangan ganggu adiknya, sayang," teriak Hira pada anak sambungnya itu.
"Siapa yang ganggu kalian, biar Daddy yang tangkap yaa," kata Rio sambil merangkul sang putra dari belakang, dua gadis kecil itu kegirangan mereka mulai menggelitik sang abang, Bilal mulai tertawa saat tangan kedua adiknya menggelitik pinggang dan perut sang kakak.
"Kalian curang mainnya keroyokan," kata Bilal sambil tertawa kegelian.
"Ayo, makan malam! sudah siap jangan gelitikin Abangmu lama-lama, kasihan," kata Hira sambil melihat mereka yang sedang bergurau.
Mereka pun berhenti. "Daddy hebat bisa menangkap Bang Bilal, dengan cepat," kata Azkia
"Itu karena Daddy curang, kan bukan pemain tapi ikut main," kata Bilal sambil mengerucutkan Bibirnya.
"Emang kita tadi lagi main," tanya Asha menatap sang Abang.
"Lah tadi abang bilang kan kalau yang bisa ngambil mainan dari tangan Abang dapat hadiahnya, karena semuanya tak bisa ngambil mainan dari Abang jadi gak dapat hadiah, padahal hadiahnya bagus loh," kata Bilal.
"Abang curang, bukan begitu bilangnya tadi," kata Azki
"Lalu Abang bilang apa tadi, masih ingat enggak," kata Bilal menggoda adiknya
"Azki lupa, Bang." kata Aski cemberut.
"Abang bilang nya pelan kita gak bisa dengar," kata Asha
Bilal terkekeh. Rio hanya tertawa melihat kelucuan mereka yang membuat sang abang sering menggodanya.
Ayo sudah makan dulu jangan berdebat," kata Hira sambil mengambilkan makanan pada semuanya.
"Boy, kau sudah besar harusnya kau ambil sendiri bukan, bukan di ambilkan Mamimu terus," kata Rio pada putranya itu.
Aku masih kecil Dad, masih lima belas tahun, tiga tahun lagi untuk menjadi dewasa," kekehnya sambil menyuapkan makanan di mulutnya.
"Biarlah, Dad, aku senang memanjakannya, di terbiasa denganmu hingga usia sebelas tahun baru empat tahun mendapatkan kasih sayangku," bisik Hira pada Rio agar tidak terdengar oleh anak-anaknya yang masih balita itu.
"Terserah kamu, Mam," jawab Rio melanjutkan makannya.
"Ayo tambah boy, biar kenyang. Nanti kalau pas main tidak mudah lelah," kata pada putra sambungnya.
"Mami kami ikut lihat Abang main kami ngak mau di titipkan sama mbak Nina dan mbak Rita, kita mau lihat, Daddy, Momi.
__ADS_1
Baiklah tapi harus menurut yaa, sama mbak Nina sama mbak Rita loh Dek," kata Hira yang sekarang sudah cukup dewasa, setelah kejadian yang membuat Rio cemburu, sang istri tidak pernah main parkour. Bahkan Rio tak pernah mengijinkan Hira untuk di saat ia sedang mengantar Bilal berlatih dan bermain parkour.
Saat Rio mengantar anaknya ia pun mencoba untuk berlatih dan ikut bermain, memang sangat mengasikan.
Hari ini Hira ingin ikut melihat ketangkasan putra sambungnya itu, pasti sangat menyenangkan melihat kemajuan sang putra. Setelah kejadian suaminya itu cemburu saat dia bermain parkour, ia selalu mematuhi apa yang di katakan oleh suami itu karena sebenarnya dia tak ingin Pria itu kecewa dan tak menganggap dewasa.
"Mbak, ganti baju anak-anak yaa, kasih celana panjang saja," pintanya pada suster itu.
"Baik, Nya," jawab mereka serentak.
Rio dan Bilal sudah siap tinggal menunggu istri dan anaknya.
"Mam, sudah siap belum, jangan cantik-cantik nanti banyak yang lirik, biar Daddy saja yang hanya melihat kecantikan mu," kata Rio pada Hira dan Bilal hanya memutar matanya ke atas mendengar sang daddy luar biasa lebaynya itu.
Rio tertawa. melihat sang putra jengah padanya. Tak seberapa lama kemudian anak-anak balitanya dan suster sudah keluar dari rumah di ikuti sang istri di belakangnya, dia terkesima melihat sang yang memakai hijab, suster dan anak-anak duduk bangku tengah dan Bilal duduk Bangku paling belakang.
"Dek, nanti di sana gak boleh lari-larian yaa, kalau gak mau nurut gak diajak lagi," kata Bilal membuat dua gadis kecil mengangguk lucu.
Hira duduk di samping suaminya. "Mam, cantik sekali, begini terus yaa, Daddy suka Mami pakai hijab," puji Rio pada istrinya lalu menjalankan mobilnya menuju puncak dengan kecepatan sedang, perjalanan ditempuh selama dua jam setelah itu, mereka pun sampai.
Mereka pun keluar dari mobilnya Rio mewanti-wanti agar jangan sampai meninggalkan sang putri.
Mbak jaga baik-baik yaa, jangan sampai, di tinggal, kalau mbaknya ada perlu ganti yaa atau bilang ke kita dan jangan lepaskan tangannya tempatnya ramai soalnya," kata Rio pada susternya.
Terlihat sang putra melepaskan pakaian, teriak histeris dari pihak penonton perempuan, Bilal mulai berlari melompati bebatuan melewati halangan demi halangan terus berlari melompat dengan cepat beberapa menatap was-was aksi Bilal dan beberapa menatap kekaguman atas pahatan tubuh yang indah dari remaja usia 15 tahun itu.
Tubuh yang berkeringat membuat semakin banyak kaum hawa terpesona dengannya. Hira melihat itu dan sekarang dia tahu kenapa sang suami marah pada saat itu, jelas-jelas akan marah ada pria yang menatap mesum.
Terlihat Sindi rekannya dulu mulai melakukan permainan dia pun melepas kemejanya dengan kostum yang sama dengan dulu, banyak pengagum pria mulai memuji lompatannya dan juga lekuk tubuh, masih terdengar olehnya beberapa pria menyayangkan ke tidak hadirannya.
"Sayang yaa, si cantik Hira tidak lagi bermain yaa," kata beberapa pria membuat sang suami menatap padanya dia pun tersenyum baginya sekarang adalah perasaan suami dan keluarga, hingga permainan selesai Rio dan Hira menghampiri Bilal.
Sementara Bilal mengambil baju yang dibawa seorang wanita, tanpa expresi lalu pergi menghampiri kedua orang tuanya dan adiknya, dan gadis itu hanya terbengong.
Sindi yang melihat mereka, menghampiri dengan langkah lebarnya sambil mengenakan kemejanya.
"Hira, 'kan?" tanyanya sambil menatap tak berkedip.
Hira mendongak dan terseyum lalu mengangguk.
Dia ... siapa?" tanya
"Putraku," jawab Hira.
__ADS_1
"Putramu ...?" tanya Sindi
"Putraku," jawab Rio cepat
"Ayo kita pulang Boy!" ajak Rio pada pada putranya.
"Tunggu bukankah anda juga sering ikut? Kenapa anda tadi tidak ikut? Padahal Anda termasuk idola mereka," kata Sindi sambil mengedipkan matanya.
"Maaf Anda salah orang, Mbak, bawa anak -anak ke mobil!" perintah Rio sambil menghindari tatapan tajam istrinya, sementara Bilal hanya tertawa.
"Dadd?" tanya Hira
"kita ke mobil, Princess," katanya lembut sambil memeluk istrinya itu dan berjalan menuju mobilnya.
Rio membuka pintunya dan menyuruh Hira masuk dan duduk lalu menutupnya, kemudian dia berjalan memutar, lalu membuka serta duduk di belakang kemudi memasang sabuk pengaman, Hira menatap tajam, Rio tertawa, ayolah sayang jangan marah aku hanya penasaran saja kenapa kau menyukainya," kata Rio sambil mengemudikan mobilnya.
"Sambil buka baju?" tanya Hira pada suaminya.
"Gerah princess," jawab Rio sambil mengemudi, sementara sang putra hanya tertawa saja di bangku belakang saat Ayahnya ketahuan.
"Ck, kalau aku saja gak boleh," kata Hira kecewa.
"Kita bahas di kamar, sayang, nanti Daddy berhenti paling kalau tidak gak buka baju," kata Rio sambil satu tangannya meremas jemari tangan istrinya.
Setelah sampai rumah Rio menggandeng istrinya masuk ke kamar dan menguncinya sementara anak-anak masuk kedalam kamarnya masing-masing.
"Sini sayang, tubuh laki-laki beda dengan perempuan kalau perempuan itu yang menarik dan harus di tutup dan laki-laki tidak terlalu sayang," kata Rio
"Siapa bilang biasa saja, tubuh Daddy yang six pack itu Daddy pamerkan, yang dapat membuat wanita halu ingin di peluk Daddy," kata Hira kesal sambil melucuti baju suaminya
"Aduh, Mami! Daddy gak kapok bikin Mami cemburu, Daddy malah suka di hukum begini. Wow ... hohoho!" teriak Rio.
.
.
.
Cinta hadir tanpa pernah di duga dan tidak pernah tahu kepada siapa hati berlabuh, ketika coban hadir memisahkan cinta mereka, seorang hanya bisa berharap takdir berlabuh pada nama yang terpahat di hatinya dan cinta akan pulang pada pemilik hati. Hati yang sesungguhnya.
Tamat
Trimakasih telah membaca karya Author 🙏🥰 jangan lupa mampir ke karya Author yang lain yaa, 😍😘
__ADS_1