
Setelah mengikuti materi kuliah Dantai menemui profesor ia ingin bertanya tentang kemungkinan Anta bisa melihat kembali.
Saat ini dia berada di ruangan prof.Samuel.
Prof Samuel pun menjelaskan kemungkinan kecil untuk bisa melihat kerena kerusakan otak besarnya. Dantai pun menyimak dengan seksama penjelasan prof. Samuel.
Setelah selesai dengan prof. Samuel, ia pun keluar dari ruangan beliau hari sudah sore ia pun ke masjid setelah itu berjalan menuju mobilnya, ia pun masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen.
Mobil Dantai pun sampai di area parkir apartemen. Ia keluar dari mobil dan berjalan ke lobi lalu masuk ke dalam lift menuju lantai 10 lalu keluar lift dan berjalan di koridor menuju Apartemen nomer 9 di dalam perjalanannya tanpa sengaja ia di tabrak seorang pemuda. pemuda itu pun meminta maaf dan berlalu.
Dantai menekan password apartemennya, pintu terbuka ia pun masuk dan menutup pintu kembali masuk kedalam kamarnya lalu ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Ia pun mulai memasak makanan untuk diri sendiri, setelah selesai ia tata di meja dengan rapi. waktu Maghrib pun tiba Dantai menunaikan kewajiban hingga waktu isya berlalu. Nada panggilan pun berbunyi tertera "Ibu," Dantai pun menerima panggilan itu setelah menjawab salam.
"Sampai kapan kau tinggal di apartemen, nak?" tanya ibunya
"Sampai aku lulus bu, maaf banyak yang harus aku kerjakan jadi mungkin tidak bisa pulang." jawab Dantai sopan.
"Apa kamu masih marah dengan kami," tanya ibunya lagi.
"Tidak bu cuma ingin fokus dengan kuliah saja besok Dan pulang," jawab Dantai
"Ibu tunggu ya nak, Assalamualaikum." terdengar suara ibunya menutup telponnya Dantai pun menjawab salam dan menutupnya.
Dantai pun duduk di kursi meja makan sambil melamun, pertemuan dengan prof. Samuel membuatnya kecewa Cahaya yang ingin di berikan untuk Anta sulit untuk di ujutkan.
Dantai menghela nafas panjang, ia mengambil piring dan akan menuangkan nasi di dalam piringnya tiba-tiba bel pintu berbunyi, ia pun beranjak pergi menuju pintu dan membukanya. "Mr, Brian, silakan masuk." ajak Dantai dengan sopan Mr. Brian mengucapkan salam yang di jawab oleh Dantai lalu masuk ke apartemen den Boy keponakannya.
"Mari, sekalian kita makan Mr," Ajaknya kepada tamunya,
"Saya gak ngerepotin ini," tanya Mr. Brian.
__ADS_1
" Enggak banget Mr, kebetulan tadi masak banyak, tapi maaf kalau gak cocok di lidah Mr sama ponakan,"kata Dantai berjalan menuju ruang makan dan mempersilahkan tamunya duduk bersama dirinya.
Ada panggang ayam utuh, sambal udang serta lalapan dari selada, kacang panjang dan kol.
"Wah ini nak Dan, masak sendiri serasa seperti pulang dikampung istri. Oh iya nak Dan kenalkan ini ponakan saya, Boy. Ia tinggal di sini juga, nomer berapa Boy? tanya Mr Brian sambil menoleh ke ponakan.
"Nomer 12 om, " kata Boy sambil tersenyum lalu menjabat tangan Dantai dan saling menyebutkan nama masing-masing.
"Hai bukan kau yang menabrak ku tadi?" Dantai, Boy tersenyum dan mengangguk.
Mereka membahas tentang bisnis kuliner di selah makan mereka. Rumah makan di padukan dengan galeri seni yang di pajang di atas ruang privat room di mana lukisan itu bisa di beli dan di bawa pulang oleh pengunjung yang menikmati makanan mereka. Dantai merasa tertarik dengan konsep itu. ia pun menyetujui untuk bekerja sama.
"tapi mohon maaf Mr. Brian saya tidak bisa terjun langsung dalam membantu bisnis ini, karena jadwal kuliah saya yang padat."
"Tidak apa-apa biar nanti Boy yang urus," jawab Mr Brian.
"Dengar-dengar nak Dan dulu juga bermain musik ya...., dan pernah kolaborasi sama pianis muda berbakat kalau gak salah sekitar 2 tahun yang lalu, saya datang loh pada waktu itu, jadi ketika ketemu kamu pertama kali di pantai Change, seperti ingat pernah bertemu, eee...... ternyata di konser itu."
"Anda tak mengingatnya tapi mampu membuat lukisan seindah itu tentang dia?" tanya Mr. Brian.
Dantai tersenyum lalu bercerita," Waktu saya baru bangun dari koma, teriakan dia lah yang membuat saya sadar namun ketika sadar saya tak mengenalinya sama sekali mungkin hanya suaranya yang begitu familiar di alam bawah sadar saya, saya tanya siapa dia? dia mendongak dan menatap saya kosong itu lah ingatan pertama yang saya dapatkan setelah koma dan saya tuangkan dan abadikan di sebuah kanvas."
"Luar biasa cinta kalian dan bagaimana keadaan dia sekarang nak Dan? tanya Mr Brian.
"Dia sedang menjalani terapi Alhamdulillah ada kemajuan Mr."
"Saya doakan cinta anda sampai menuju ke pelaminan." Dantai terkekeh "Saya sudah lamar hingga 3 kali dia belum bersedia menikah dengan saya, ia bilang tak ingin menganggu kuliah saya karena dia akan selalu merepotkan saya, itu katanya. Padahal saya tak bisa berjauhan dengannya."
"Sabar nak Dan, dia butuh untuk menguatkan kepercayaan diri, pelan-pelan dampingi dia buat dia percaya bahwa dia istimewa buat anda," kata Mr Brian.
__ADS_1
"Om ku memang Ahli cinta," kekeh Boy menyeletuk.
"Tapi kau tetap menjomblo sampai umur 27 tahun," Kata Mr. Brian sambil tersenyum sinis pada Boy, Boy menggaruk tengkuknya sambil tertawa.
Mereka pun tertawa setelah selesai membahas bisnis dan cinta, Mr Brian dan keponakan pamit pada Dantai tak lupa mengucapkan terima kasih atas makan malam yang istimewa.
Dantai mengantar tamunya hingga di pintu depan. lalu masuk kedalam apartemen mulai dengan tugas-tugas kuliah setelah selesai ia baringkan tubuhnya dan terlelap dalam kesunyian malam.
Keesokan harinya jam 10.00, Brian dan Boy ke kantor Surya untuk melakukan meeting mengenai bisnis yang akan di pegang oleh Boy.
"Apa Dantai tahu bahwa saya juga ikut dalam bisnis ini?" tanya Surya cemas.
"Dia tahu dan dia bilang itu terserah saya dan Boy karena dia sifatnya hanya pemilik saham dan pemasok lukisan bukan pengelolah," jelas Mr Brian. Di selah rapat mereka tiba-tiba Clara masuk dan langsung protes pada ayahnya.
"Papa! Aku ini sebenarnya anak mu, bukan sih? kenapa aku di taruh di staf biasa keuangan, sehingga pekerjaanku sangat banyak, belum lagi kuliah juga papa pindah di sore hari aku bahkan tidak sempat sarapan, makan siang dan makan malam." katanya sambil menghentakkan pantatnya. lalu melihat sekelilingnya dan ternyata ayah sedang rapat seketika itu ia melotot dan menutup mulutnya," ups...."
Surya menghela nafas panjang," Jika memang begitu sekarang kau sudah lemas, lakukan pekerjaan sekarang juga atau pulang ke Indonesia!" perintah Surya dengan tegas. Clara pun keluar dengan hati dongkol.
"Maaf, saya sedang mendisiplinkan putri saya karena selalu ceroboh." kata Surya dengan sungkan, Mr Brian mengangguk sementara Boy punya ide untuk menjaili gadis itu menyatakan suatu permintaan pada Surya.
"Pak kalau tidak keberatan saya ingin anak bapak bekerja membantu saya, bagaimana?"kata Boy
Apa tidak merepotkan anda, dia susah di atur." kata Surya.
"Tidak pak akan saya didik untuk bidang bisnis ini, kalau bapak tidak keberatan." kata Boy.
"Baik, saya tidak keberatan. mulai kapan ia bisa bantu Anda." kata Surya
"Besok pak jam 7.00, ini alamat kantor saya pak," kata Boy sambil memberikan kartu namanya. setelah mereka bersepakat akhirnya mereka pun pamit dan keluar dari kantor itu. di luar gedung Brian menasehati ponakannya," Jangan macam-macam Boy."
__ADS_1
"Tidak, om aku hanya memberi pelajaran pada orang yang menabrak mobil ku om," katanya sambil tersenyum devil.
"Apa? Dia!?" sahut Brian kaget, hingga membuatnya mengerem mobil dan berhenti mendadak membuat tubuh Boy terhuyung ke depan. Boy menghela nafas panjang dan Brian pun melajukan kembali mobilnya setelah keterkejutannya hilang.