
Lalu ia memakai pakaian kerjanya, setelah siap ia menghampiri istrinya. "Aku akan ke kantor, mungkin akan pulang malam, di saat aku pulang dan kau belum tidur, siapkan dirimu untuk menyambutku seistimewa yang mungkin akan membuat aku tak bisa melupakan mu," kata Rio sambil menatap manik matanya yang coklat itu, dan Jasmine mengangguk dan tersenyum.
"Jangan tidur dulu bersihkan dirimu dulu," kata Rio kembali Jasmine hanya bisa mengangguk. Rio pun tersenyum dia keluar dari kamarnya, dan menemui mbak Narti.
"Mbak Narti, tolong bawa makan siang ke ka kamar yaa, dia tak mungkin keluar makan, pastikan dia makan yaa," katanya sambil berlalu meninggalkan ARTnya itu.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang dan waktu sudah menunjukkan jam 11.00 siang, Rio menatap jalanan yang tak begitu padat, hingga membelokan mobilnya dia gedung perkantoran miliknya, berjalan dengan kaki lebarnya menuju lobby, dan masuk kedalam lift yang mengantarkannya keruangan kerjanya, pintu terbuka ia keluar dan berjalan melewati beberapa ruangan hingga sampai pada ruangan di mana ia menghabiskan waktu di sana dengan pekerjaan yang menumpuk, sesampainya di sana ia mengernyitkan dahinya melihat pintu ruang kerja terbuka dan lebih terkejut di sana sudah duduk Rahanda Rendra dengan tatapan tajam, Rio masuk mengucapkan salam lalu mencium punggung tangan ayahnya. "Ayah sudah lama?" tanyanya berbasa-basi. "Dari mana kamu? Ini sudah siang kau baru datang," tanya Rahanda kepada putranya.
"Tengok anak dulu lah Pa, apa lagi kalau bukan itu?" katanya sambil tersenyum.
Rahanda memukul kepala Rio. "Kau ini papa bertanya dengan serius, kau malah bergurau." Rio mengusap kepalanya. "Sakit Pa," jawab Rio sambil duduk di sofa, dan terkejut di ruangan itu tidak hanya ada papanya, tetapi juga asisten pribadinya. "Loh, kamu di sini juga?" tanyanya sambil menggaruk kepalanya.
"Pa, kalau marah jangan di depan Yudi dong, jatuh wibawa Rio," katanya sambil duduk di sofa di sebelah Yudi. Asistennya itu hanya bisa mengulum senyum.
"Bagaimana bisa wibawamu jatuh, anak buah itu membelahmu mati-matian, bahkan relah menutupi segala apa yang kau lakukan di luar," kata Rahanda sambil menyilangkan tangan di di perutnya.
"Aku tidak melakukan apapun di luar Pa, otak ku masih jernih dan waras, bahkan aku masih mengauli istriku dengan baik, kalau papa tidak percaya boleh tanya mbak Narti," katanya ringan tanpa peduli dengan Yudi yang mulai sedikit segan dengan pembicaraan dua orang yang berpengaruh itu. "Pak, saya akan kembali keruangan saya, kalau Bapak butuh apa-apa, tekan intercom saja," pamitnya sambil berdiri ingin undur diri dari ruangan ini.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? duduk di situ dan diamlah!" perintah Rahanda.
__ADS_1
Yudi menelan salivanya serta menunduk tajam. Rio hanya tersenyum samar melihat sang asisten terkena amukan masa dari papanya.
"Kamu tahu kenapa papa marah?"
"Tidak lah, terus kenapa papa marah?" tanya Rio yang pura-pura bingung.
Pak Rahanda menghela nafas. "Kemarin sore itu acara tujuh bulanan istrimu, kenapa kamu gak pulang?" tanya Rahanda.
"Kalau gak pulang berarti memang belum bisa pulang Pa lagi pula itukan acara ibu-ibu Pa, jadi gak masalah kalau aku gak ikut acaranya, ini yang aku urusi juga hajat hidup orang banyak loh Pa," jawab Rio.
"Sudah deh terserah kamu, yang terpenting urus Jasmine dengan baik," kata Rahanda sambil berjalan keluar di ikuti sang anak.
"Sama supir, sudah ke sana kerjakan tugasmu, jadilah pimpinan yang bijak! Jangan lupa pula apa yang ayah bilang tadi, Jasmine itu yang harus kau ingat."
"Baiklah! Papa hati-hati!" pesan Rio
...----------------...
Di vila Batu Malang, semua sudah berkumpul di meja makan tidak terkecuali nenek Nirma setelah melihat sang cucu bisa melihat kembali hatinya bahagia memberikan semangat padanya untuk sehat dan lebih lama bersama sang cucu juga cicit.
__ADS_1
Andi menebarkan pandanganya menatap semua yang hadir di meja makan dan tak di temukan sosok sahabat menantunya itu yang beberapa hari membantu mengurus anta serta cucunya di sini. "Apa Rio belum bangun? Aku belum melihatnya."
Hira yang dari tadi mencarinya pun ikut menimpali," Iya, bisanya Om Rio bangun pagi-pagi sekali tapi aku tidak melihatnya hari ini."
"Sudah pulang Pi, pagi-pagi sekali," jawab Dantai santai.
"Kok, tidak pamit Hira sih yah?" tanya Hira pada ayahnya.
"Kamu siapanya Om Rio? Apa bisa jamin kamu akan mengijinkan, tidak, 'kan?" tanya Dantai sambil menatap tajam sang putri.
Hira menunduk tajam, airmatanya itu mengalir deras tanpa suara, ia sangat kecewa sama Ayahnya, sama om Rionya yang tak bisa mengerti dirinya, mengerti perasaannya.
"Rio itu sudah menikah Hira, istrinya tengah mengandung, apakah bijak ayah menahannya di sini demi kesenanganmu? Apa kau tidak berfikir bahwa Om Riomu itu juga mempunyai kewajiban terhadap istri, calon anaknya dan juga perusahaan yang punyai ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan Om Riomu itu!" kata Dantai dengan sedikit kemarahan yang memuncak.
Hira bangkit dari duduknya pergi dengan berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya, tak menghiraukan perutnya yang lapar karena begitu mendengar Omnya itu pergi tanpa berpamitan padanya ia menjadi sedih dan rasa laparnya hilang. Entahlah ia tak perna tahu kenapa dia terlalu igois jika menyangkut om tampannya itu, tak ada yang membuatnya terpesona selain om Rio setelah ayahnya. Setiap kali berada disamping lelaki itu begitu nyaman dan bahagia ia tidak pernah tahu harus bagaimana menghadapi hatinya sendiri.
Anta yang akan berdiri menyusul Putrinya di cegah oleh Dantai. "Selasaikan dulu makanmu Bun, biar ia berfikir apa yang ku katakan ini benar, Bun. Aku sampai gak enak hati sama Rio," kata Dantai sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Bik Ija, tolong ini taruh ke kamar Hira, jika dia sudah selesai menangis dan lapar ia bisa langsung makan," kata Rena mencoba menengahi Ayah dan Anak itu dengan mengabilkan nasi dan lauk serta segelas air minum yang di letakan di baki lalu menyerahkan pada bik Ija. Dantai hanya diam saja melanjutkan sarapan paginnya yang terasa berkurang nikmatnya karena masalah Rio dan Hira.
__ADS_1
Setelah selesai menghabiskan sarapannya ia pergi ke ruang kerja, duduk termenung di sana, ingatanya melayang ke beberapa tahun silam ketika masih bersama dengan teman-temannya, candaan dan gurauan menghiasi hari-hari mereka. Sekarang satu temannya telah menjauh dari dirinya untuk membentengi hatinya dari cinta yang di anggapnya salah, tak mau memberikan beban terhadap sahabatnya itu, mengiklaskan keputusan temannya itu walaupun hatinya tak terima.