
Semburat merah di langit baru saja menampakkan cahayanya. Waktu masih menunjukan pukul 05.30. dan masih dalam kekalutan yang sama. Dua gadis berbeda usia terlihat mondar-mandir dalam sebuah kamar. Yang satu sudah mengenakan seragam SMP dan yang satunya masih memakai bath robe. Begitu pula di kamar sebelah seorang pemuda tampak cemas beberapa kali melongok ke pintu yang sedikit terbuka. Ketika dia yakin akhirnya dia keluar dan masuk di kamar sebelah membuat orang di dalamnya terkejut. Namun, setelah tahu siapa yang masuk, merasa lega.
"Va, pastikan Ibu tetap di dapur selama 30 menit, yaa," pinta Dantai dan Salva mengacungkan jempolnya.
"An, kau pakai seragammu dulu deh, terus pakai jaketku. Nanti kita ke garasi kau langsung masuk mobilmu. kau bisa ganti di sana, aku gak mungkin bawah bath robe kembali ke sini, ibu pasti curiga," kata Dantai.
"Ya gak usah di bawa kesini lagi Fif, biar di mobilku aja." jawab Anta sambil menyebikan bibirnya.
Dantai menepuk jidatnya. "Ahh, benar juga yaa, kalau begitu pakai jaketnya sekarang." Salva terkikik mendengar perdebatan mereka. Akhir mereka menjalankan tugasnya masing-masing.
Salva ke dapur sedangkan Dantai dan Anta ke garasi. Dengan rasa takut dan khawatir, mereka mengendap-ngendap berjalan menuju garasi. Kadang berlari, dirasa keadaan cukup aman. Namun, ketika akan mencapai garasi suara bariton mengejutkan mereka.
"Den Dantai, mau kemana?" tanya Pak To.
mereka berdua terjengkit karena kemunculan pak To.
"Pak kebetulan nih, buka pintu gerbang sekalian biar mobil Anta bisa keluar!" pinta Dantai
"Baik, Den!" jawab Pak To. Anta segera naik ke mobilnya dan menjalankannya keluar gerbang rumah Dantai.
Mobil berhenti sebentar dari jarak yang cukup jauh lalu berjalan lagi dan masuk ke pintu gerbang sekolah kemudian berhenti di area parkir sekolah.
Anta tak bergeming dari duduknya, dia bersandar pada sandaran kursi mobil. Mengingat ketegangan yang dari tadi di hadapinya, rasanya dia tak ingin keluar dari mobil dan tak ingin sekolah hari ini, tapi sudah berada di sini.
Anta masih tenggelam dalam pikiran, 'Andai aku tidak melompat pagar dan tak mengambil mangga. Seandai saja biji mangga itu tak merusak lukisan Dantai serta aku tidak bertanggung jawab pada lukisan itu, tak akan terjadi kekacauan seperti tadi.' Andai ... andai kata itu yang terbersit di otaknya. Hingga suara ketukan terdengar di kaca mobil dan terlihat di luar lelaki kemarin dan sampai detik ini mengacaukan hidupnya. Anta menurunkan kaca mobilnya. "Buka pintunya An, aku mau bicara," perintah Dantai.
__ADS_1
Dengan menghembuskan nafas berat dia membuka pintu mobilnya. Dantai mengajaknya turun dari mobilnya.
"Aku, bawakan makanan ayo makan dulu! Dari tadi malam kamu belum makan, 'kan?" kata Dantai sambil menarik tangan Anta dan menutup pintu mobil dengan cepat mengajak ke kantin yang masih sepi. Dengan langkah berat mengikuti langkah Dantai yang lebar. Ditepuknya bahu Dantai dari belakang supaya mengurangi kecepatan langkahnya. Setelah sampai di kantin, didudukannya tubuh gadis itu dengan menekan bahunya pelan. Lalu dibuka tas ranselnya serta mengeluarkan dua buah kotak makan, kemudian Dantai membuka ke dua kotak makan tersebut dan meletakkan di hadapan Anta. Terlihat menu menggugah selera, Nasi hangat dengan porsi besar, dua paha ayam bakar dan sambal bajak udang serta tempe goreng yang masih hangat di pisahkan di masing-masing kotak makan
"Aku gak tau apakah kau suka atau tidak, tapi ini makanan kesukaanku, semoga kau juga suka," kata Dantai sambil tersenyum canggung.
"Kau kira aku kuli apa kau bawakan makanan sebanyak ini," Anta mendengus sambil membuang muka ke arah lain.
Dantai terkekeh, "Kita makan berdua, biar romantis."
"Romantis kepalamu soak!"sarkas Anta.
Dantai terkekeh kembali, "Gak usah nesu-nesu ngono ayu mu ilang, An. Terus tuku neng endi jal? Gak ono sing dodol, An!"
(gak usah marah-marah gitu, nanti cantikmu hilang, An. Terus beli di mana, coba? Gak ada yang jual, An!)
Dantai tertawa keras," gak usah di pikir An, makan dulu!" katanya menyuapkan makanan ke mulut Anta yang terbuka sedikit karena masih bengong mendengar ucapan yang tak di mengertinya tadi. Tiba-tiba wajah Anta memerah sambil mengibaskan tangannya berulang kali. Lalu memukul lengan Dantai dengan keras. Matanya tampak berair karena kepedasan, Dia melongok ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu. Seketika itu derai tawa Dantai terdengar kembali. Dia memberikan air mineral yang sudah di buka tutupnya dan diberikan pada Anta.
"Pedas sekali Fif," katanya setelah meneguk air mineral yang di sodorkan Dantai.
"Maaf," Kata Dantai sambil menatap Anta iba, di ambilnya tempe yang masih hangat di suapkan ke mulut Anta. " ini akan meredahkan rasa pedasnya," lanjut Dantai
"Apa kau tak suka pedas? Kalau begitu pakai lauk ini aja gak seberapa pedas," katanya sambil mengambil nasi dengan lauk panggang ayam memakai tangannya lalu menyuapkan ke mulut Anta lagi. Kemudian dia mengambil nasi dengan lauk udang sambal dan di suapkannya untuk diri sendiri.
Mereka makan sambil bersenda gurau, tak terasa kantin sudah mulai ramai dengan Anak-anak yang tak sempat sarapan di rumah.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat mereka dengan hati yang geram. Mutia Sari anak kelas XI IPS 1, Dia sudah lama menaruh hati pada Dantai sejak duduk di bangku kelas X SMU.Tangannya mengepal menahan rasa marahnya. Sudah sejak lama dia berusaha mendekati kakak kelasnya itu, dengan perhatian yang berlebihan. Akan tetapi Dantai tak pernah menoleh sedikitpun padanya.
Bel masuk berbunyi mereka semua berhamburan masuk ke dalam kelasnya masing-masing, begitu pula Dantai dan Anta.
Flashback on
Setelah Dantai mengantar Anta kedalam mobilnya dan memastikannya sudah berada di luar area rumahnya dia bergegas masuk kedalam, Melewati ruang tamu lalu ruang makan. Di sana dia melihat Salva dan ibunya sudah duduk di sana. Terlihat ibunya menatap tajam seolah meminta penjelasan.
"Dari mana kamu Dan?"
"Suara mobil siapa tadi yang keluar dari gerbang rumah? Suaranya bukan mobil kita, 'kan?" tanya ibu secara beruntun.
"Ooo da-- dari garasi bu, mencari jaket, mungkin tersangkut di motor ku, ternyata gak ada. Mungkin ke tinggalan di kelasku, Bu," jawabnya gugup
"Ka-- kalau suara yang tadi, itu mobil kita, Bu. Pak To lagi memanaskan mobil. Sebentar lagi harus ngantar Salva, 'kan? Mungkin Ibu capek sampai lupa suara mobil kita," lanjutnya dengan hati galau, sambil terus melangkah ke dapur mengambil kotak makan dan kembali lagi ke ruang makan. Lalu mengambil nasi dan lauk dimasukan kedalam kotak makanan tersebut.
"Ooh mungkin benar, Ibu masih lelah jadi lupa suara mobil sendiri," jawab Ibunya sambil terkekeh.
"Kamu gak sarapan di rumah, Dan?" tanya ibu tatapan curiga.
"Iya Bu, hari ini ada yang harus di diskusikan dengan teman-teman jadi aku berangkat pagi," kata Dantai memasukan kotak makannya di tas ranselnya, lalu mencium punggung jemari tangan ibunya. Lalu beralih ke adiknya Salva yang sedang makan. Sambil mengacak-ngacak rambut adiknya, dia berlari menuju pintu belakang.
"Bu! kak Dantai mau lompat pagar!" teriak Salva terkekeh sambil melihat kepergian kakaknya itu. Ibunya berdecak sambil menggeleng 'kan kepalanya.
Dantai sudah berada di area parkir sekolah. Dia melayangkan tatapan di seluruh area dan menemukan mobil merah sport terparkir di pojok area.
__ADS_1
Flashback off
Setelah didalam kelas mereka fokus dengan pelajaran yang di terima hari ini tanpa mengingat insiden tadi pagi.