Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Pesta buah


__ADS_3

Ira mengajak Rena ke kebun belakang di sana banyak aneka bunga yang bermekaran juga ada berbagai pohon buah yang buahnya siap petik dan tak terlalu tinggi pohonnya namun buah sangat lebat.


Berbagai buah ada di kebun itu," Pak Amru tolong ambilkan buah yang sudah masak ya..,"


"Iya bu buah apa yang mau di ambil."


"semua buah yang sudah masak."


"Baik bu."


Pak Amru pun pergi di kedalaman kebun


mengambil pepaya, durian, alpukat, rambutan dan mangga.


Dantai datang membawa tikar yang di gelar di bawah pohon mangga.


Ada sekitar 6 buah durian yang telah masak di bawa pak Amru di dekat tikar.


lalu satu kresek besar alpukat, satu kresek besar mangga masak. satu kresek besar buah rambutan dan sekitarnya 10 buah pepaya.


"Pak Amru banyak sekali pak ?" kata Rena pada pak Amru.


"Ya, nyonya itu yang masak semua." kata pak Amru.


Dantai pergi ke kamarnya, di mana ada Andi dan Anta sedang bercengkrama nampak Andi memijat kaki Anta.


Dantai tersenyum melihat hangatnya kasih sayang ayah pada putrinya itu.


"Pi, Ayo ke kebun belakang pada pesta buah," kata Dantai pada mereka.


"Mas kalau hamil boleh kah makan durian?"


"Boleh sayang, durian bermanfaat bagi kesehatan ibu hamil karena kandungan nutrisinya. Asam folat dalam durian berfungsi mencegah cacat lahir pada calon bayi. Serat yang ada pada durian juga sangat bermanfaat untuk ibu hamil yang berisiko mengalami sembelit, yang tidak boleh itu berlebihan.


"Aku tuh mas belum hamil udah pingin makan durian waktu bik Ana bilang macam buah yang di tanam pak Amru, sayangnya belum ada yang matang."


Mereka pun berjalan sambil bercakap-cakap," jenis apa yang di tanam pak Amru, Dan?"


"Musang king pi."


"Wah itu durian yang terkenal di sini ya katanya dagingnya yang empuk dan tebal, warna kuning pekat, dan dg cita rasa kuat yang enak. Papi belum pernah sih merasakan durian yang jenis itu Dan."


"Nanti kita rasakan bersama pi."

__ADS_1


Mereka pun sampai di kebun belakang sudah berkumpul ibu, ayah,mami salva, nenek dan bik ina yang sibuk mengupas mangga dan pepaya.


Dantai Anta,dan Andi pun bergabung.


"Wah besar juga buah duriannya."


"Iya, pak Andi , ini Amru ini jagonya dalam tanam menanam buah. dulu di desanya dia adalah petani buah yang sukses tapi entah bagaimana sawah satu hektar itu di klaim sama pamannya ketika ayahnya baru saja meninggal. hanya tinggal rumah mu ya Ru yang masih tertolong."


"Iya betul, tuan rumah itu sekalian saya uang saya dipositokan di bank."


"Ru, kamu jangan panggil tuan sama aku loh, awal di sini yang ku kenal cuma kamu sama Surya loh, kita itu teman walaupun kamu masih mudah Ru."


"Iya tuan, tapi kalau manggil nama saja saya juga gak enak tuan."


"Panggil Bapak saja paman lebih enak dan lebih mesra." kata Dantai terkekeh. Pak Amru mengangguk.


Pak Amru membelah beberapa buah durian dan di taruh di tikar di depan mereka.


"Mas baunya menggugah selera Dantai mengambil satu durian yang sudah di belah pak Amru di taruh di hadapan Andi dan Anta, Andi mengambil satu dan di suapkan ke Anta," Enak?"


"Iya, pi biar Anta makan sendiri pi, papi juga harus merasakan rasanya buah durian ini."


Andi memberikan satu buah durian pada putrinya, lalu mengambilnya untuk di makan, begitu seterusnya sampai satu buah tandas.


"Kalau itu cari yang gak terlalu masak enak non."


"Sudah sana ambilkan Ru biar ini yang belah Dantai kalau kami mau lagi di ahlinya dalam hal belah duren." kata Harlan sambil tertawa, mereka pun tertawa kecuali Anta dan Salva.


Dantai melirik Anta yang merona saat itu.


"Ini sudah lama ber kebunnya pak Harlan?"


"Ya sekitar dua tahun lebih lah ketika Amru kena musibah berturut-turut itu."


"Ini kalau hasil panennya banyak apa di jual juga?"


"Iya itu Amru yang jualkan hasil panennya, hasil saya bagi dua karena saya suruh ambil semua hasil dia gak mau, kata itu dia tidak tuan itu ada hak tuan.


Pak Amru pun kembali dengan membawa buah mangga setengah masak.


dan di berikan pada Ana istrinya untuk di kupas.


"Na, ini biar ibu dan bu Rena saja yang kupas kamu bikin sambal sana!"

__ADS_1


"Iya, nyonya." Bik Ana beranjak dari duduknya pergi ke dapur untuk membuatkan sambil.


"Pak Amru kemari pak saya kok jadi pingin omong-omong dengan Bapak."


Pak Amru berjalan menghampiri Andi.


"Iya, tuan." Amru duduk di sebelah Andi.


"Begini Ru kamu kerja ke Harlan ini hanya urus kebon saja kan?"


"Iya pak,"


"Ru kamu carilah tanah sawa yang dekat sini 1 apa 2 hektar yang dekat sini Ru, nanti kamu tanami pohon buah yang sekiranya menurut kamu berpotensi semua modal dari saya kamu bertugas menanam saja jika satu orang tidak bisa mengatasi kamu cari orang untuk membantu mu di awal tanam dan akan panen, perhitungan keuntungan sama deh dengan pak Harlan namun itu harus di ambilnya biaya pekerjaan loh Ru."


"Kalau itu tanya saja pada tuan Harlan."


"Ru tak sawat sama biji duren kalau kamu masih Panggil tuan, panggil pak saja, sama ibu juga panggil bu saja, lah kalau kamu mau yo ambil saja Ru ini kesempatan pak Andi nawarin kamu, belum tentu dia nawarin kamu lagi kalsu kamu menolak."


"Iya pak saya mau."


"Wah bagus ni kalau begitu, nanti kalau kamu sudah dapat tanahnya bilang saja sama Dantai biar dia yang urus, nanti kamu hubungi papi lo Dan, nanti uang papi transfer ke rekening mu, karena ini bisnis papi sama Amru."


"Iya pi pasti itu," Kata Dantai sambil tertawa.


"Ini non sambelnya sudah jadi."


"Sini saya yang potong nyonya."


"Tolong ya Na, Ru saya tekankan lagi ke kalian ya..saya dan istri saya gak mau di panggil tuan dan nyonya panggil Bapak dan ibuk saja kalau kalian gak nurut kalian saya pecat."


"Iya pak kami nurut," kata mereka bersamaan


Ana mengupas mangga setengah matang lalu dipotong-potong di taruh di wadah ukuran besar bersama potongan pepaya


lalu ditaruh didekat wadah sambal.


Anta mengambil mangga lalu mencelupkan ke sambal yang di buat bik Ana.


"Enak sambal buatan bik Ana, top markatop."


"Trimakasih, Nona."


para wanita menikmati rujak buat bik Ana itu.

__ADS_1


__ADS_2