Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Kembali ke Singapura


__ADS_3

Anta sudah duduk di lantai bermain dengan anak-anak yatim piatu Kasih Bunda. Dantai keluar menghampiri Dokter Rizal," Apa Anda tidak tahu gadis yang selalu menatap anda dari dulu hingga sekarang." Kata Dantai sambil berdiri bersandar pagar bambu.


"Saya tahu tapi kata bu Sri saya di temu kan di sini bersama sari aku takut kami bersaudara.


Dantai terkekeh," Kamu seorang dokter tentu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk mengetahui apakah Sari dan kamu bersoudara."


Dokter Rizal menatap Dantai," Tes DNA masut mu?"


"Apa lagi kalau bukan itu." kata Datai sambil duduk di bangku teras.


"Baik lah akan ku lakukan." mereka pun kembali kedalam untuk kembali bermain dengan anak-anak.


Dantai mengambil gitar milik Rizal dan mulai memetik gitarnya dan Anta bernyanyi bersama disela-sela keseruan itu Rizal menarik beberapa helai rambut Sari lalu memasukan dalam saku bajunya. Sari yang merasa rambutnya ke tarik pun melihat ke belakang," Kak Rizal ngapain ?"


"Enggak apa-apa juga gak ngapa-ngapain."


"Masak sih rambut aku berasa di tarik loh." kata Sari sambil menatap Rizal.


"Aku gak ngapa-ngapain Sar." kata Rizal lagi


Sari pun akhirnya mengalah gak mau berdebat lagi kembali bernyanyi bersama dengan adik-adik yang sama-sama punya nasib yang sama.


Hari semakin siang Dantai dan yang lainnya berpamitan ibu pemilik yayasan, ia memberikan amplop berupa santunan pada bu Sri," ini untuk apa nak Dan?"tanya bu Sri.


"Untuk adik-adik bu, saya akan menjadi donatur tetap di sini."


"Trimakasih nak Dan."

__ADS_1


"Sama-sama bu." lalu Dantai dan Anta keluar dari rumah itu dengan bergandengan tangan memasuki mobil mereka, Sari berjalan di belakang mereka Rizal menghentikan Sari sebentar dengan menarik tangannya dari belakang, Sari ketarik kebelakang hingga menabrak dada bidang Rizal," Ada apa kak?"


tanya Sari sambil menatap heran.


"Tunggu aku memastikan sesuatu ya.." kata Rizal menekan bahu Sari agar tetap dalam pelukannya sambil tersenyum.


"Apa?" tanya Sari penasaran dengan hati yang berdebar-debar.


"Sudah sana di tunggu pasien mu di mobil," kata Rizal sambil melepaskan pelukannya lalu mendorong pelan agar Sari segera menyusul Anta dan Dantai. Dantai pun membunyikan klason agar Sari segera masuk, Anta mencubit pinggang Dantai, Dantai pun tergelak, nampak Sari berlari menuju mobil lalu membuka pintu tengah dan duduk di dalamnya.


"Sudah?"


"Apanya,Den?"


Dantai tergelak dan tak menjawab pertanyaan Sari dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan yayasan Kasih Bunda.


mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan yayasan Kasih Bunda dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota malang menuju vila Anta.


Andi memeluk Anta, " Bagaimana di sana apa kau senang?"


"Iya Ayah aku senang," kata Anta, Andi merangkul sang putri berjalan memasuki vila Dantai tersenyum berjalan di belakang mereka mensejajari Sari.


"Nak Dan makan siang dulu sebelum pulang ya," pinta Andi pada Dantai


"Iya om." kata Dantai sambil berjalan mengikuti mereka.


Meja makan telah tersedia menu makanan yang di siapkan bik Ija.

__ADS_1


Mereka makan dengan tenang sehabis makan mereka pun sholat berjamaah setelah itu Dantai pun berpamitan pada Andi dan Anta,"Setiap akhir pekan aku akan kesini." Anta mengangguk lalu Dantai mencium punggung tangan Andi," om Dan pulang dulu." Andi mengangguk sambil menepuk bahu Dantai.


Dantai pun pergi di Antar pak Man ke Bandara Juanda, mobil pun keluar dari halaman vila dan berjalan melintasi jalanan kota Batu Malang menuju ke Bandara Juanda.


Pukul 15.00 Dantai tiba di Bandara, ia pun menuju masjid dan menunaikan shalat Ashar lalu bergegas masuk ke dalam pesawat yang akan berangkat jam 15.30.


Dantai sudah berada dalam pesawat dan menunggu pesawat lepas landas, tak lama kemudian pesawat pun lepas landas membawa Dantai ke Singapore.


di dalam pesawat ia pun memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya 2 jam kemudian ia sudah sampai di Bandara lalu memesan taxi, tak lama kemudian taxi pun datang, Dantai masuk kedalam taxi dan taxi itu pun berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan Bandara menuju Apartemennya.


Taxi pun berhenti di depan gedung apartemen, Dantai pun keluar dari taxi dan berjalan Menuju lobi apartemen, lalu ia memasuki lift dan lift berjalan menuju lantai 10, begitu di lantai 10 lift itu berhenti dan terbuka lalu Dantai berjalan menuju apartemen, lalu menekan pascode apartemennya, pintu terbuka Dantai masuk kedalam lalu menutupnya kembali lalu langsung ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, lalu ia pun melaksanakan solat magrib setelah selesai ia menunggu waktu isya' dengan membaca Alquran, ketika waktu sholat isya' tiba ia pun sholat isya' setelah selesai ia pun pergi ke ruang kerjanya.


Di tempat lain ia pun segera pergi kesebuah rumah sakit untuk mengecek DNA sari apakah sama dengannya.


Masih segar dalam ingatannya 2 tahun yang lalu ia ingin melamar Sari,bu Sri mengatakan bahwa ia dan sari di temukan duduk di depan rumah panti dengan mengendong Sari yang masih sekitar 6 bulan dan ia masih berusia 4 tahun.


Itulah bu Sri mengira bahwa ia dan Sari adalah adik dan kakak tak ada petunjuk lain mengenai mereka berdua. itu sebabnya membuat bu Sri tak menyetujui hubungan mereka sebelum suatu yang pasti mengenai apakah mereka punya hubungan darah?


Saat itu hatinya patah, dan memutuskan menerima tugas di desa terpencil.


Langkah kaki Rizal menyusuri lorong rumah sakit, waktu masih pukul 14.00, ia berbelok kesebuah ruangan mengetuk pintunya, dan pintu itu terbuka," Hai Rizal ada apa ayo masuk saja," Rizal pun duduk lalu mengutarakan apa yang menjadi keinginannya, dia pun memberikan rambut Sari dan dirinya setelah berbincang-bincang sebentar ia pun pamit pada temannya itu.


Di vila di kediaman Anta dan Sari, Sari terlihat lebih pendiam di saat bertemu dengan Rizal, masih tergiang suara Rizal,"Tunggu aku memastikan sesuatu ya.." dia terus berfikir keras hingga tak terasa sendoknya menyendok sambal lalu menyuapnya rasa pedas membuatnya sadar bahwa saat itu sedang melamun. Andi menyodorkan gelas berisi air putih, ia pun berteimakash lalu meneguknya sampai habis.


"Kalau makan jangan melamun jadi kena ranjau kan,"Kata Andi tertawa.


"Iya om," jawab sambil tersenyum malu.

__ADS_1


Setelah makan malam bersama Andi menuntun Anta ke kamarnya," Pi tolong Anta carikan seseorang yang bisa mengajarkan berjalan tanpa tongkat dan instruktur bela diri."


"Ok! Papi akan cari kan."


__ADS_2