
4 tahun kemudian Anta sudah dari universitas di Curtin Singapura, dengan predikat cumlaude. Saat ini dia memenggang seluruh perusahaan Papinya yaitu Andi. Anta memiliki seorang asisten bernama Dewi, kemanapun ia pergi untuk urusan bisnis selalu bersama Dewi.
Dantai pun sudah lulus kuliah National University of Singapore (NUS) dengan predikat Cumlaude. Ia menempuh pendidikan di fakultas kedokteran selama delapan tahun dengan gelar MBA, dokter Ahli saraf. Saat ini Dantai sudah bekerja di rumah sakit terbesar di Singapura. Di selah kesibukannya ia selalu mempelajari kasus tetang kebutaan sang istri, Dantai mengambil sepesialis saraf karena mengingingkan kesembuhan sang istri dan setiap sujud di sepertiga malamnya untuk mendoakan sang istri untuk bisa melihat kembali seperti dulu.
Si kembar berusia lima tahun, semakin lincah, mereka mempunyai sendiri-sendiri Hira mempunyai bakat seperti ibunya karena setiap saat bersama dengan Mami Rena. Momy seperti menemukan emas dalam diri Hira, setiap saat Papi selalu mengingatkan agar tak punya ambisi terlalu berlebihan.
Emir justru mempunyai kedua bermusik dan melukis, beberapa kali lukisan di bidik oleh pengusaha ternama, Hira sebenarnya juga bisa melukis tapi dia tidak seberapa menyukai bidang ini dia lebih suka dengan musik, bahkan beberapa alat musik telah di kuasai dengan baik. Kadang rekan pengusaha meminta gadis itu untuk tampil di pesta-pesta ulang tahun mereka atau anggota keluarga mereka. Ya bakat dari kedua orang tuanya menurun pada mereka, kada sekali-kali pengusaha-pengusaha itu menginginkan penampilan mereka berdua yang memukau. Beberapa produser melirik mereka, namun Dantai tak mengijinkannya. Dantai tak ingin dunia masa kecil anaknya hilang begitu saja dengan dunia kerja yang belum saatnya mereka geluti, itu karena Dantai pernah merasakan keadaan di mana dunianya masa kecilnya terampas hanya dengan kata ingin mengangkat derajat orang tuanya. Dia ingin anaknya ingin hidup seimbang.
Maera sudah kelas satu junior high school, semakin bertambah usianya semakin cantik paras wajahnya. Aldo semakin posesif dalam menjaga Maera.
Aldo sudah memeluk agama Islam 4 tahun yang lalu. Setiap saat ia selalu mengatakan bahwa akan menikahi Maera ketika dia duduk di bangku Senior High School.
Setelah dari kampus seperti biasa ia menjemput Era. Ia melajukan mobilnya menuju sekolah Era, di melajukan dengan kecepatan sedang, terus berjalan menyusuri jalanan Singapure.
hingga akhirnya ia sampai di pintu gerbang berbinca-bincang teman prianya. Aldo berhenti tepat di depan mereka berdiri. Era pun pamit pada temannya itu tetapi lelaki remaja itu bertanya, "bagaimana apa kau trima?"
"Tidak aku sudah mempunyai calon suami." kata Era pada remaja pria itu.
Era pun masuk ke dalam mobil Aldo dan duduk di samping Aldo.
Aldo menoleh sekilas lalu mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang, hingga membuat Era takut.
"Bang, Era takut, jangan terlalu kencang."
__ADS_1
kata Era membuat Aldo mengurangi kecepatan laju mobil lalu menarik nafas dalam-dalam ia masih fokus dengan kemudinya tak lama kemudian mereka sampai di Apartemen Aldo.
"Loh, Bang. Kok berhenti di sini Era gak di pulangkan ke rumah Papi."
"Nanti, Ra. Saat ini Abang ingin bicara sama kamu, Ayo ikut, Abang."
Era pun pasrah ia keluar dari mobil dan mengikuti Aldo dari belakang dia tersenyum saat melihat Aldo seperti hendak marah padanya, ketika sudah tertinggal jauh ia berlari menyusul Aldo dengan nafas yang masih memburu ia memasuki lift, setelah berada di dalam pintunya tertutup kemudian bergerak keatas menuju lantai di mana Apartemennya berada. Setelah berhenti pintunya pun terbuka Aldo berjalan mendahului Era lalu berhenti di flat kemudian ia menempelkan Cardlock ke pintunya dan terbuka. Di hempaskan pantatnya ke sofa.
Era pun masuk kedalam, dan Aldo memintanya untuk menutup pintu lalu Aldo menarik tangan Era hingga jatuh terduduk di pangkuan Aldo. Aldo memeluk Era, dan merapatkan pipinya ke pipi Era membuat jantung Era berdebar kencang. "Bang, Era itu sudah besar tidak boleh lagi di pangkuan dan dalam posisi seperti sekarang."
"Ra Abang sudah tak sanggup menahan, Abang ingin menikahi mu besok," kata Aldo pada Era dengan tetap memeluknya.
"Tapi, Era. masih ingin sekolah, Bang." kata Era pada Aldo.
"Mau ya, Ra. aku akan menelpon om Andi dan mengutarakan keinginan Abang." kata Aldo sambil bibirnya menyusuri leher Era, membuat tubuhnya meremang.
"Bang, Jangan, tidak boleh karena belum sah, "gumamnya pelan.
"Maka menikahlah denganku Ra, kalau perlu, hari ini juga." katanya masih dengan aktivitas yang sama membuat Era benar-benar tak berkutik.
"Era takut, Abang h@milin," kata Era dengan suara yang sangat pelan.
"Kalau cuma begini tak akan hamil sayang," kata Aldo sambil tertawa.
__ADS_1
Aldo melepaskan pelukannya ke Era. Era pun bangkit dari pangkuan Aldo dan memakai kembali hijabnya. Dengan cepat ia duduk di sofa di sebelah Aldo.
Dia menormalkan kembali nafasnya. Aldo tersenyum sambil membelai kepala tertutup hijab.
"Sudah makan belum, kalau belum kita pesan atau makan di restoran," tawar Aldo. pesan aja Bang. Makan di rumah saja.
"Baik aku akan pesankan, jika makanannya sudah sampai, kamu bayar ya, ambil uang di dompet Abang, Aldo mau menelpon om Andi dulu." kata Aldo mulai melakukan panggilan. Tak seberapa lama akhirnya tersabung, "Assalamualaikum, Om."
"Wa'alaikumsalam, Ada apa Al?"
Begini Om saya berubah pikiran mengenai menikahi Era, setelah lulus junior high school, tapi sekarang juga" kata Aldo dengan seriusnya.
"Apa?! Kalian melakukannya?" tanya Andi.
"Tidak, Om. Tapi aku gak kuat tiap lihat Era lihat bersama dengan teman prianya. Tolonglah, Om. Ijinkan aku untuk sekolah biar dia home schooling saja."kata Aldo.
"Tapi Dia masih kecil, Al. Kamu ngerti'kan maksud, Om." kata Andi.
"Iya, Om. Al gak akan sampai kesana, Ayolah Om, aku sanggup menyekolahkannya." kat Aldo menyakinkan Andi.
"Lalu bagaimana dengan Era sendiri dia setuju tidak?" tanya Andi pada Aldo.
"Era sudah setuju, Om." kata Aldo pada Andi.
__ADS_1
"Kalau Era sudah setuju, ya Om bisa apa, tapi sebelum kau nikahi dia kau harus menandatangani perjanjian bahwa kau bisa mengendalikan diri mu dan menahannya hingga, Era. Benar-benar matang, ngerti kamu Al." kata Andi dengan tegas. Baik om saya bersedia menanda tangani surat perjanjian itu. saya akan selalu menunggu sampai Era siap untuk melakukan dengan saya." kata Aldo lewat sambungan telepon seluler.