Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Perasaan yang Tak Terbaca


__ADS_3

Setiap kali Hira berada disamping lelaki itu begitu nyaman dan bahagia ia tidak pernah tahu harus bagaimana menghadapi hatinya sendiri.


Anta yang akan berdiri menyusul Putrinya di cegah oleh Dantai. "Selasaikan dulu makanmu Bun, biar ia berfikir apa yang ku katakan ini benar, Bun. Aku sampai gak enak hati sama Rio," kata Dantai sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Bik Ija, tolong ini taruh ke kamar Hira, jika dia sudah selesai menangis dan lapar ia bisa langsung makan," kata Rena mencoba menengahi Ayah dan Anak itu dengan mengabilkan nasi dan lauk, segelas air minum serta susu yang di letakan di baki lalu menyerahkan pada bik Ija. Dantai hanya diam saja melanjutkan sarapan paginnya yang terasa berkurang nikmatnya karena masalah Rio dan Hira.


Setelah selesai menghabiskan sarapannya ia pergi ke ruang kerja, duduk termenung di sana, ingatanya melayang ke beberapa tahun silam ketika masih bersama dengan teman-temannya, candaan dan gurauan menghiasi hari-hari mereka. Sekarang satu temannya telah menjauh dari dirinya untuk membentengi hatinya dari cinta yang di anggapnya salah, tak mau memberikan beban terhadap sahabatnya itu, mengiklaskan keputusan temannya itu.


Bik Ija mengetuk pintu kamar Hira beberapa kali tetapi tak kunjung terbuka, diketuknya kembali hingga bik Ija memanggil namanya. "Non Hira buka pintunya, Nyonya Rena menyuruh mengantar makanan untuk Nona, Bibik gak bisa jamin kalau beliaunya tidak marah," jelas bik ijah di balik pintu. Terdengar suara langkah kaki yang diseret lalu pintu pun terbuka tanpa berkata apa-apa Hira mengambil baki dari tangan bik Ija kemudian menutup pintunya dengan kakinya ia pun melangkah menuju meja dan meletakan di sana setelah itu, kembali lagi untuk mengunci pintunya dan ia pun duduk di bibir ranjang tanpa melakukan apa-apa.


Dia melihat piano di pojok ruangan, dia turun dari ranjang dan berjalan ke arah piano, ia membuka tutup tuts-nya dan duduk di depannya dan mulai memainkan nada-nada yang ia ciptakan di tengah kegalauannya.


setelah puas bermain nada ia pun mengambil makanan yang dibawakan bik Ija, ia makan dengan lahap lalu meminum susu coklat kesukaannya walaupun sudah dingin tak masalah buatnya. Entah kenapa hari ini ia tak ingin bertemu dengan siapapun, ia tidak marah pada ayah, bunda juga om Rio ia marah pada diri sendiri.


Anta melihat pintu kamar Hira tertutup rapat, ia menghela nafas panjang, menghilangkan sesak di hatinya. Tangan kecil tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Biarkan dulu dia, Bun. Nanti juga keluar, Bunda jangan kawatir! Hira mungkin sedang berfikir."


Anta menoleh kebelakang dan terseyum pada putranya itu lalu membalikan tubuhnya dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya. "Maaf liburan yang membuatmu bosan bahkan kita belum ke mana-mana." "Hira sudah ke mana-mana," kata Emir terkekeh di ikuti derai tawa Anta.


"Kau tidak ingin kemana-mana?" tanya Anta pada putranya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ingin tapi jika tidak memungkinkan tidak apa-apa, Bun. Kesembuhan Bunda adalah hal yang terindah untuk Emir," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda sang Bunda.


Anta tertawa kembali. "Trimakasih sayang, kembali lah ke kamarmu, Bunda mau lihat ayahmu di ruang kerjanya." Emir mengangguk meninggalkan Anta dan masuk kedalam kamarnya sendiri, Anta menuruni tangga menuju ruangan kerja suaminya.


Anta membuka ruangan itu dengan pelan terlihat sang suami sedang memandang sebuah foto di pigora yang dia pegang.


"Yah," pangil Anta. Dantai pun mendongak dan terseyum. "Kemarilah!" pintanya sambil melambaikan tangan pada Anta. Wanita itu berjalan menghampiri suaminya, lalu duduk di pangkuannya.


"Ada pertemuan ada pula perpisahan, Dan. Hargai keputusannya, mungkin itu yang terbaik bagi dia dan Hira," kata Anta menguatkannya.


"Yaa, lihatlah foto ini An, seolah kami tak akan berpisah," kata Dantai menerawang.


"Ayo ikut aku, akan kau buat kau relex sedikit!" katanya sambil menarik tangan Dantai dan menyeretnya mengajaknya pergi entah kemana, mereka pun masuk ke mobil. "Mau kemana kita, An?" tanya Dantai yang sudah duduk di belakang kemudi.


"Ok! Kalau itu aku akan bersedia kapan pun kau ingin," kata Dantai mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju hotel.


...----------------...


Di Surabaya Salva sudah pulang dari sakit dua hari yang lalu, ia melahirkan bayi perempuan yang cantik dan lucu, di rumah juga ada Harlan dan Ira ia berangkat sehari setelah mendapat kabar dari Aril bahwa putrinya telah melahirkan.

__ADS_1


Setibanya di Surabaya mereka pun mendapat kabar yang tak menyenangkan tetapi mereka merasa leggah dan bahagia ketika pengelihatan Anta kembali, sesuatu yang sangat membuat mereka bahagia, hari sebenarnya ingin kemalang untuk melihat menantunya itu tapi Salva mencegahnya. "Bu, biar Kak An dan Kak Dan menikmati hari bahagia berdua dulu, tujuh tahun lamanya Kak An kehilangan pengelihatan, tak muda bagi Kak An untuk percaya begitu besar cinta, ketakutan akan dicampakan dan ditinggalkan akan terus menghantui kak An setiap saat. Jadi biarlah hari ini menjadi hari bahagia Kak An dan Kak Dan saja.


Maka mereka pun mengurungkan kepergiannya untuk menemui putra dan anak menantunya itu. Mereka bermain bersama Cucunya Izyan yang juga sangat cerdas, Beberapa kali Izyan mengajaknya bermain game dan lagi-lagi Harlan dikalahkan oleh cucunya itu.


Ira sibuk dengan bayi perempuan yang cantik dan gembul itu, mereka menamai bayi mungil itu Kaila Area Putri Aril. Satu minggu lagi akan di adakan aqiqahan sekaligus memberikan nama bayi itu.


Kesempatan yang bagus juga karena besan ada di sini juga.


Ketika Ira sedang bersama bersama cucunya tiba-tiba sang cucu menangis ia pun menghampiri sang putri saat itu berada di kamar bersama suaminya.


Ira mengetuk pintu dan kemudian terbuka Aril yang sudah rapih berdiri di hadapannya.


"Sudah mau berangkat," sapa Ira pada menantunya.


"Iya, Bu. Ibu masuk saja aku akan segera berangkat," ijinnya. "Dek, Ambil dulu Kaila, sayang sepertinya haus," perintah Aril.


Aril mencium punggung tangan Ira sambil menunggu istrinya mengambil alih bayi Kaila, Setelah Kaila berada di gendongan Salva ia mengecup pipi gembil bayi itu dan mencium kening istrinya itu.


"Bu, Aril berangkat dulu yaa," pamitnya pada mertuanya itu.

__ADS_1


"Ya, Nak hati-hati yaa!" ucap Ira


Aril mengangguk lalu keluar kamar berjalan mencari putra dan mertua laki-lakinya. "Hai jagoan ayah, Ayah berangkat jangan nakal sama kong, yaa," pesan pada Izyan. anak itu mengangguk dan mengambil punggung ayahnya lalu menciumnya, lalu Aril mencium punggung tangan Harlan. "Yah aku berangkat dulu ya," pamit Aril.


__ADS_2