Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Rencana Liburan


__ADS_3

Hira pun tidur dengan pulasnya. Andai orang tuanya tak memaksanya untuk menikah mungkin ia akan menunggu Hira sampai dewasa.


Rio masuk ke dalam ruang privasinya ia menatap gadis kecil itu. Sungguh ini membuatnya gila. Dia tak tahu kenapa begitu mendambakan putri kecil sahabatnya. Orang tuanya menganggap dia sudah tidak normal lagi menyukai seseorang anak kecil bahkan mulai dari dia masih bayi. Akan tetapi itu di rasakan hanya dengan Hira. Di pandangnya wajah gembul itu dan di cium pipinya, hingga terdengar suara Dantai bertanya pada putrinya, seketika itu panggilan video diputuskannya untungnya dia sudah memotret beberapa kali, hingga membuatnya bisa melihat dengan puas foto Hira yang menggemaskan. Rio merebahkan badannya di atas ranjang mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang sudah sangat lelah sambil memandang wajah Hira yang membuat gairah hidupnya dan semangat kerjanya bertambah, beberapa ide muncul begitu saja ia menulis note di buku agenda yang di kamar privasi setelah dirasa lelah ia pun tertidur.


Dantai melihat putrinya tertidur pulas dengan handphone yang menghadap di persis di posisi Hira tidur, di lihatnya layar dalam keadaan gelap kemudian ia melihat riwayat panggilan ternyata video call dari Rio beberapa saat yang lalu baru di matikan dari sana, Dantai tersenyum lalu meletakan handphone putrinya. Ia mengganti lampu dengan cahaya yang redup kemudian ia keluar dari kamar Hira dengan perlahan. dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri dibukanya pintu dan ia melihat istrinya sedang mengoleskan krim malam pada wajahnya, ia menghampiri istrinya. "Bun, bagaimana kalau kita pergi ke malang saja? berwisata ke sana sambil mengunjungi teman-teman kita yang ada di sana, juga menjenguk ponakan kita."


"Ku rasa itu ide yang bagus toh di sana aku juga tidak bisa lihat apa-apa." katanya dengan senyum yang di paksakan."


"Hai, bicara apa ini? Apa ada yang membuatmu marah hari ini?" tanya Dantai.


"Tidak ada," katanya pada Dantai


"Kemarilah!" pinta Dantai dengan menarik tangan Anta mengajaknya untuk duduk di sofa dan memeluknya erat. "Biasanya jika kau bilang tidak ada berarti ada sesuatu yang membuat istriku ini uring-uringan."

__ADS_1


Anta menggeleng tetap tak mau cerita apa yang telah terjadi. "Tidak ada Dan, sungguh." Anta menyusupkan wajahnya kedalam dada bidang Dantai mencari kenyamanan untuk sekedar menghilangkan rasa marahnya pada seseorang.


"Ok! Jika begitu akan ku tanya Dewi dan akan ku pecat dia, karena tidak memberikan laporan apa-apa." Anta merenggangkan pelukannya dan mendongak keatas. "Jangan Dan! Aku akan bercerita, Anta pun menceritakan apa yang terjadi dipertemuannya dengan klien-nya. "Apa yang dikatakannya?" tanya


Anta mendongakkan kembali, apa kau tidak marah?" tanya pada Dantai.


"Ku coba untuk tidak marah. Ayo katakanlah, jangan ragu!"


"Dia mengatakan bahwa aku sangat piawai dalam mengelolah bisnis. Akan tetapi sayangnya aku tidak bisa melihat betapa tampannya dia dan lebih cocok jadi suamiku. Bagaimana aku tidak marah kalau dia mengatakan itu padaku."


"Aku tidak marah padamu, Bun. aku marah pada laki-laki yang menggodamu itu. Benar keputusan Bunda untuk kerja sama dengannya," katanya pada istrinya untuk menenangkan hatinya yang sedang bergemuruh.


"Iya, aku marah pada saat itu dan memutuskan untuk menolak kerjasamanya lalu meninggalkan restoran dengan Dewi," kata Anta menjelaskan pada Dantai.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita tidur saja, keputusan yang kau ambil benar dan sekarang istirahatlah kau sudah bekerja keras tadi."


Mereka pun naik ke peraduan tak lupa sebelum tidur Dantai memberikan kehangatan yang mengasikan sekedar untuk melepaskan masalah dan kepenatan sehabis bekerja, hingga beberapa kali terjadi pelepasan cinta dan gairah.


Setelah ritual yang menyenangkan itu selesai Dantai menggendong Anta ke kamar mandi lalu didudukan di closed. Dantai mengisi bathub dengan air hangat dan aroma terapi lalu menoleh pada sang istri. "Mandilah, aku akan mandi di sana di shower."


Beberapa menit kemudian mereka keluar dan berganti pakaian lalu kembali naik keranjang mereka dan merebahkan tubuhnya di sana.


Merekapun tidur saling berpelukan hingga suara adzan subuh membangunkan mereka. Dantai pun pergi ke masjid menunaikan sholat subuh bersama mertua dan anak lelakinya. Sedangkan para wanitanya sholat berjamaah di musholah rumah.


Setelah selesai menunaikan sholat subuh para wanita menyiapkan sarapan pagi lalu mereka sarapan bersama setelah mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Dantai pergi ke rumah sakit, sih kembar diantar kakeknya ke sekolah dan Anta ke tempat kerjanya bersama asisten pribadinya.


Dantai harus segera pergi ke rumah sakit karena ada jadwal operasi di pagi hari.

__ADS_1


Seperti biasa Andi mengantar anak-anak ke sekolah, seperti biasa mobil akan ramai dengan celotehan mereka dan itu sangat menghibur. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang dan berhenti di depan pintu gerbang sekolah, mereka mencium punggung tangan Andi, lalu keluar dari mobil lalu masuk melewati gerbang sekolah. Setelah dirasa Cucunya sudah berada di dalam sekolah Andi melajukan mobilnya menuju perusahaan besannya Hardan, ia begitu rindu dengan besannya itu.


__ADS_2