
Pagi itu sebelum berangkat kuliah menyempatkan diri untuk bersama anak-anaknya menggendongnya bergantian.
Mami Rena sibuk di dapur bersama neneknya untuk menyiapkan sarapan pagi.
Mama Rena memang sengaja tidak mengambil asisten rumah tangga karena ingin quality time terhadap anak dan cucunya.
Makanan sudah siap di meja makan. Anggota keluarga sudah duduk kursinya masing-masing dan mulai sarapan bersama dengan tenang.
Setelah sarapan pagi mereka melakukan aktivitas masing-masing, Dantai mencium kening ke 2 anaknya dan kening istrinya lalu Ia berangkat kuliah.
Begitu juga Andi yang baru menyandang gelar kakek sejak 2 hari yang lalu.
Ia menghampiri ke dua cucunya dan mencium kening mereka, ketika melihat mereka rasanya Andi ingin mempunyai banyak waktu untuk mereka.
Andai saja dia punya anak laki-laki mungkin bisnisnya saat ini sudah di serahkan kepada anak laki-lakinya.
Benar saat ini dia sudah punya menantu yang juga begitu piawai dalam bidang usaha tapi dia tidak merusak mimpi menantunya itu. yang berkeinginan untuk menjadi seorang dokter, kalau pun ia meminta Dantai membantunya untuk mengelolah usahanya mungkin ia pun tak keberatan, Andi tak ingin egois dalam hal ini.
Andai Rena masih mau punya anak mungkin ia akan berencana untuk menambah anak.
Andi berjalan ke dapur menemui istrinya,
"Mam aku berangkat dulu ya," kata Andi sambil menyodorkan tangan pada Rena. Rena mengambil tangan suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya.
Andi mencium kening istrinya lalu Andi menghampiri sang ibu mencium punggung tangan dan kening ibunya," Ibu jangan capek-capek ngurus kembar biar si kembar tidur dalam box." Ibunya mengangguk," Kamu juga Di, Cari orang yang bisa di percaya di sana agar kamu lebih ringan dan kau bisa pantau di rumah saja."
"Iya bu akan pikirkan usulan ibu."
Andi keluar dari rumahnya bejalan ke arah mobilnya, masuk ke mobil lalu mobil berjalan meninggalkan rumah membelah jalanan kota Singapura melewati gedung-gedung tinggi perkantoran menuju Bandara Internasional Singapura, hari ini Andi mempunyai perjalanan bisnis ke Jakarta.
Di Rumah Anta sedang bercengkrama dengan putra-putrinya bersama dengan ibu dan neneknya.
Dalam kesempatan kali ini Anta pun ingin menyampaikan keinginannya," Mam aku ingin kuliah di Curtin Singapura, mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen, kurasa itu jurusan yang paling cocok untuk mam."
"An, Apapun yang ingin kau lakukan lakukanlah An, jangan pernah matikan kemampuan hanya karena kau kehilangan pengelihatan mu, yang terpenting mintalah ijin pada suami."
__ADS_1
"Baik mam aku akan bicarakan ini sama mas Afif nanti, ku rasa Ia akan setuju."
"An, masalah anak-anak mu serahkan saja pada mami."
"Makasih mam, Anta sayang mami." Rena memeluk anak semata wayangnya yang malang itu, Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya mencoba untuk tidak menangis agar Anta lebih kuat lagi menjalani hidupnya.
...****...
Waktu berjalan begitu cepatnya Dantai yang berkutat dengan mata kuliah baru keluar pukul empat sore.
di saat akan memasuki mobil handponenya berdering menandakan ada panggilan.
Terpampang nama dokter Rizal di layar panggilan hpnya. di terimanya panggilan dokter Rizal," Assalamualaikum, dok ada angin apa tiba-tiba telephon aku?
"Wa'alaikum salam, ada angin sepoi-sepoi membisikiku Dan," katanya sambil terkekeh," Istriku minta berkunjung ke rumahmu setelah melihat status wa mu kemarin, Ia jatuh cinta sama anak mu si kembar itu makanya minta langsung segera ke Singapura. Masalah aku kan gak tahu rumah mu Dan."
Dantai tertawa," Itu gampang lah bang, keberangkatan jam berapa? nanti sampai Bandara Singapura aku jemput."
"Oke lah kalau begitu, jadi lebih muda rencana besok penerbangan jam 10 pagi Dan."
"Baik bang besok aku jemput, begitu sampai hubungi aku bang dokter."
"Ya, ya aku tahu abang bukan bento bukan pula jin," sahutnya sambil tertawa.
"Trimakasih waktunya Dan, besok kita ketemu ya Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam bang."
Dantai masuk dalam mobilnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan kampus melaju di jalan raya yang tak terlalu padat. Dantai menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang, 30 menit kemudian dia sampai di halaman rumahnya, mobil itu pun berhenti.
Ia keluar dari mobilnya berjalan melewati halaman rumahnya, berhenti di depan pintu sambil mengucapkan salam setelah mendapatkan jawaban ia pun masuk ke dalam rumahnya
Ia terus berjalan melewati beberapa ruangan lalu masuk ke kamarnya, sampai di kamar disambut istrinya dengan mencium punggung tangannya, Dantai mencium kening istrinya kemudian menaruh tasnya dia atas sofa," kembar masih tidur?"
"Iya, mas mandi sana dulu, biar segar."
__ADS_1
"Iya," jawabnya sambil duduk di sofa, melepaskan sepatunya lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
10 menit kemudian ia selesai mandi, segera berganti pakaian dengan pakaian rumahan. lalu menghampiri istri yang sedang berada di kamar anak kembarnya.
Ia memeluk istrinya dari belakang. "Harumnya istri ku ini."
Anta terkekeh," apa kemarin aku ngak harum."
"Kemarin kamu harum, sekarang, besok, dan seterusnya kamu selalu harum, walau bau asam karena gak mandi kamu tetap harum."
Anta terkekeh,"Gombal, kamu memang pinter merayu.
Dantai tertawa," Enggak memang aku suka aroma mu."
Anta tertawa dan memukul lengan Dantai.
"Mas aku ingin kuliah di Curtin Singapura, mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen."
"Aku mengijinkan mu bun, setidaknya ada mimpi yang masih kau kejar bun."
"Trimakasih telah mendukung ku selama ini."
"Sama-sama bun, kamu itu cinta ku bun bagaimana mungkin aku tak mendukung mu sayang, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga."
"Ya, aku tahu," jawab Anta.
"Bun besok dokter Rizal datang ke rumah bersama Sari untuk mengunjungi si kembar."
"Oh ya, aku itu kangen loh mas sama Sari, sudah lama gak ketemu, katanya dia sedang hamil ya mas,"
"Iya bun, nekat mau kesini, sampai dokter Rizal mengambil cuti 2 hari."
"Oh alah mas, ya memang gitu mas kalau orang hamil itu gak di turuti ya gitu. Rasanya kesalnya itu loh mas gak ilang-ilang sampai besok kadang,"
"Apa bunda dulu hamil kembar juga sama begitu?"
__ADS_1
"Aku sih enggak mas kan aku gak bisa lihat mana ada keinginan mas. Keinginan itu dari kita melihat lalu jadi ingin untuk makan, untuk memiliki dan lain-lain mas"
"Bun, jangan bilang begitu, ayah akan selalu mencinta mu, satu lagi bun mulai sekarang rubah panggilan bunda, panggil aku ayah, karena kita sudah punya anak."