Aku Akan Pulang Padamu

Aku Akan Pulang Padamu
Hira dan Bilal


__ADS_3

Emir dan Hira di Elementary school dengan usia lima tahun dan ditempuh hanya 2 tahun usianya baru 7 tahun tapi dia sudah mengecap pendidikan di Yunior high school dan Senior high school hanya di tempuh 2 tahun kecerdasan yang di atas rata-rata membuat diusia 9 tahun memasuki bangku perkuliahan. Hira menjadi sosok gadis yang menyukai petualangan postur tubuh yang tinggi dan sedikit berisi mengaburkan usia yang sesungguhnya. Hira sangat menyukai olahraga ekstrem. berbagai olahraga ekstrem telah dia kuasai seperti menyelam, panjat tebing, sepatu roda, parkour.


Hari ini adalah hari liburnya ia ingin pergi ke sebuah tempat yang buat dia lebih rileks dan yang dia pilih adalah Bandung. "Ayah apa boleh aku pergi sendiri ke Indonesia?"tanya Hira pada ayahnya.


"No, harus ada orang dewasa untuk mengawasimu," kata Dantai.


"Ayolah ayah aku sangat pandai aku tidak akan hilang, aku sudah sering bepergian ke mana-mana lalu apa bedanya dengan Indonesia Ayolah izinkan Aku untuk ke sana," bujuk Hira


"Oke jangan buat huru-hara ya di sana," kata Dantai.


Terimakasih, Ayah, Hira sayang ayah sekali kemudian berlari ke kamarnya dan bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat yang dia inginkan.


Berbeda dengan Emir dia lebih menyukai di rumah dan melukis beberapa lukisannya sudah menjadi koleksi dari beberapa pengusaha, dia tidak suka berpergian, kalaupun harus dia lebih suka di sebuah pantai, pegunungan dan gua, yang mempunyai keindahan yang artistik.


Anta berada di ruang kerjanya sedang memantau perkembangan perusahaan lewat email yang dikirimkan oleh asistennya dan Dantai masuk ke dalam menghampiri meja kerjanya. "Bun tadi Hira ingin pergi ke Indonesia dan aku mengizinkannya apa boleh?" katanya pada Anta.


'Apa kita bisa mencegahnya," tanya Anta pada Dantai.


"Dantai terkekeh dan berkata, "Mirip denganmu Kau tidak bisa dicegah waktu itu bukan?"


"Anta pun tertawa. "Betul itu katamu."


"Apa Kita juga harus bulan madu lagi anak-anak sudah besar mereka sudah bisa pergi sendiri-sendiri," kata Dantai


"Itu menurutmu, tapi menurut orang-orang lain mereka itu masih kecil usianya masih 9 tahun tapi aku tidak tahu kenapa mereka sendiri begitu berani untuk pergi sendiri ke mana-mana. Kau yang mengajari itu Dan," kata Anta sambil terkekeh


Ketika mereka asyik berbincang-bincang terdengar ketukan pintu dari luar.

__ADS_1


"Masuk!" kata mereka berdua. Pintu pun terbuka terlihat Hira berjalan menuju mereka aku mau pergi ayah, Bun."


"Apa Bunda mengizinkan?" tanya Anta


"Apa perlu izin Bunda?" tanya Hira kembali


"Ayolah Bun biasanya juga kan aku pergi sendiri lalu apa masalahnya? bujuk Hira


"Terserah kau sajalah Bunda pusing," kata Anta


"Berarti boleh kan Bun?" tanya Hira kembali.


"Ya, pergilah hati-hati jangan bikin rusuh," pesan Anta


Hira pun terkekeh, "Apa Aku seorang mafia hingga kalian terlalu berpesan seperti itu padaku kalau aku sedang berpergian," tanya Hira


"Oke mafia kecil ini akan bertualang di suatu tempat, terima kasih telah mengizinkanku, aku berangkat, Ayah, Bun," pamit Hira pada mereka.


Hira pun memesan taksi untuk mengantarkannya bandara.


Tak seberapa lama kemudian dia pun sudah berada di dalam pesawat dengan santainya dia duduk sambil mendengarkan lagu di headsetnya, dua jam lebih berlalu, akhirnya ia pun sampai Bandara Internasional Husein Sastranegara.


Setelah sampai di Bandung Ia pun mencari sebuah villa yang letaknya di dekat sebuah perkebunan teh, tak dikira bahwasanya vila itu adalah milik Rio yang juga berdekatan dengan rumahnya.


Dengan di antar sebuah taksi Hira pun sampai di vila tersebut, dengan menyeret kopernya Ia pun masuk ke dalam villa itu, Tak ada sedikit rasa takut pada gadis itu, begitu sampai ia terkagum dengan dekorasi interiornya, ia pun berjalan memasuki kamarnya.


Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul 10.00 pagi, dia pikir hari belum terlalu panas sehingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan menggunakan sepatu rodanya, ia ingin mencari tantangan tersendiri dengan Medan yang begitu sulit.

__ADS_1


Dia pun berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos sedikit ketat membalut tubuhnya yang tinggi itu, terlihat sekilas seperti remaja berusia 16 tahun namun dia masih berusia 9 tahun.


Dia menggunakan sepatu roda dengan cepat lalu segera keluar dari villa menyusuri kebun teh dengan sepatu rodanya jalan yang kecil dan tidak beraspal sedikit menyulitkan untuk sepatu rodanya akan tetapi dia sudah terbiasa dengan tantangan-tantangan yang lebih sulit dari ini.


Ketika dia asik bersepatu roda tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berlari menuju jalan yang dilewati dengan sigap dia menangkap anak kecil itu dan di dekap dalam gendongannya sementara Rio yang tahu bahwa ada remaja yang menabrak putranya dengan sepatu roda begitu paniknya dia dan segera mengejar anaknya. Setelah tiba, dia tidak menemukan putranya itu.


Dia semakin panik lalu menyusuri jalan setapak yang dilewati gadis bersepatu roda itu, akhirnya dia menemukan gadis itu tengah duduk bersama anaknya sambil bersenda gurau.


"Bagaimana, apa seru tadi?" kata gadis itu pada anak lelaki kecil itu.


"Sangat seru aku menyukainya Kakak, apa kau bisa mengajariku? tanya anak lelaki kecil itu.


"Tentu asalkan kau meminta izin dulu pada ayahmu, aku tidak mau kalau ayahmu nanti nyalakan ku bisa-bisa nanti ayah dan ibuku padaku marah padaku dan dia akan berteriak begini, 'Hai mafia kecil Apa kau sedang melakukan huru-hara?' Agar tidak marah padaku," kata Hira lagi.


"Benarkah begitu kalau sedang marah, aku tidak punya ibu kakak, yang marah hanya ayahku saja kalau aku melakukan suatu kesalahan tetapi beliau tidak pernah marah walau aku selalu berlari-lari ke sana kemari jatuh berkali-kali Ayah tidak pernah marah," kata Anak lelaki itu.


"Oh maaf kakak tidak tahu tetapi ayah mu itu adalah Ayah yang hebat dia bisa jadi ibu dan Ayah, jadi tidak masalah kamu tidak punya ibu," kata Hira menghibur anak lelaki itu


"Iya kah di sekolahku aku selalu di olok-olok, katanya, 'kamu tidak punya ibu maka jadi anak nakal tidak ada yang bisa mendidikmu dengan lembut,' begitu," kata anak lelaki itu.


"Kapan kau akan sekolah? Pergilah bersamaku katakan kalau aku ini ibumu bereskan," kata Hira lagi


Anak kecil itu melihat Hira dari atas ke bawah lalu kemudian dia tertawa. "Bagaimana bisa aku membawamu dan mengaku sebagai ibuku kamu terlalu muda untuk jadi ibu," kata anak lelaki itu dengan lugunya Hira pun tertawa.


"Oh iya siapa namamu kita belum berkenalan, nama aku Hira," kata Hira memperkenalkan dirinya.


Namaku Bilal Marva kata Dedi arti namaku adalah air sungguh indah," kata anak lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2