
Jasmine mengambil tas kerja suaminya lalu di letakan di atas meja kemudian ia melepaskan jas suaminya. "Jika kau berada di rumah artinya kau milikku, saat ini kau adalah milikku maka menurutlah apa yang akan ku lakukan padamu," kata Jasmine sambil membuka satu-satu kancing kemeja Rio,
lalu melepas ikat pinggang dengan cepat kemudian membuka resleting celana tangan satu menyusup masuk ke cel@n@ sang suami yang satunya bermain didadanya. " Apa mau ku mandikan, sayang?" tanya Jasmine pada suaminya
Rio memejamkan matanya, lalu dengan suara serak menahan hasrat ia bertanya, "Boleh, apa kau berani?"
"Tentu, aku istrimu akan ku lakukan apa pun untukmu, tak peduli harus merendahkan diriku," kata wanita yang menjadi istrinya itu.
"Aku tidak akan merendahkanmu, Jas. Percayalah," katanya sambil mengendong sang istri keperaduan lalu melepaskan semua kain yang melekat di tubuh istrinya, sambil berbisik, "Kita bermain dulu, baru kau mandikan aku."
Ketika sudah tidak ada benang yang menempel di badan keduanya, mereka pun saling merajut kasih, Rio berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk istrinya walaupun hatinya belum bisa memasukan nama istrinya di sana.
Rio begitu bergairah saat ini entah mungkin sedikit demi sedikit ia telah memberikan hatinya untuk istrinya atau Jasminelah yang memberikan pelayanan istimewa untuk suami, yang jelas saat ini Rio terpuaskan.
Rio menatap istrinya yang kelelahan, di ciumnya keningnya. "Trimakasih, kau terlihat sangat lelah biar aku saja yang memandikanmu," katanya sambil tersenyum.
"Tidak perlu! Aku akan mandi sendiri," katanya menahan rasa malu.
Rio tak menghiraukannya ia masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat dan aroma terapi, lalu keluar lagi mendekati istrinya yang masih berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya, tanpa bicara ia menyingkap selimut itu dan menggendong tubuh polos istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
"Kau yang menantang maka kau yang harus bertanggungjawab, Ayo kita mandi bersama dan buktikan kau bisa memasuki hatiku lebih dalam lagi!" bisiknya pada Istrinya.
__ADS_1
Rio menaruh tubuh istrinya kedalam bathub lalu ia sendiri masuk ke dalam dan duduk di belakang istrinya. Dia memulai menyabun punggung sang istri, sambil berbisik kata-kata yang menenangkan istrinya, "Aku akan berusaha mencintaimu, Jas. Demi anak kita."
"Hanya demi anak ini, bukan untuk memujaku," katanya sambil meletakan tangan suaminya keperut, terasa nyeri di akhir kalimat. Namun, ia tahu tak akan semudah itu memaksa hati untuk mencintai, jika memang hanya untuk sebagai gugur kewajiban seorang suami terhadap istrinya ia pun relah.
Jasmine akan menunggu cinta hadir di hati suaminya walau harus menunggunya di surga nanti, Yaa, dia hanya punya waktu tiga bulan untuk melayani sang suami dengan baik dan setelah itu merelakannya untuk orang yang di cintai suaminya itu.
Jasmine kembali mendengar bisikan suaminya dengan tangan yang mulai menyentuh dadanya, "Bersabarlah saat ini aku tengah berusaha mencari keindahan yang ada dirimu, Jas. Lalu mengumpulkannya dan setelah itu akan ku bisikan debaran jantungku untuk mu."
Tangan itu mulai menyabun bagian perutnya lalu ke bawah, jasmine memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut suaminya. Apa kau sudah menemukannya?" tanya jasmine kembali.
"Aku menemukannya, walau itu hanya satu, aku sangat menyukainya," kata Rio pada istrinya.
"Apa?" tanya Jasmine pada suaminya
"Sejak kapan?" tanyanya kembali.
"Hari ini, entah kenapa aku terpesona padamu saat kau memakai pakaian tadi, kau begitu cantik, bahkan sangat cantik, keberanianmu menggodaku sungguh di luar dugaanku. Sekarang giliranmu, sabuni aku! Aku ingin tahu seberapa beraninya dirimu, bukankah kau yang memberi ide ini? Balikan tubuh mu menghadaplah padaku!" titahnya pada istrinya.
"Bagaimana aku bisa menyabun punggungmu?" tanyanya pada Rio
"Berpikirlah dan carilah caranya!" bisik sang suami padanya
__ADS_1
"Baiklah kau pikir aku tak berani melakukannya! Majulah sedikit akan kuselesaikan tugasku," jawabnya pada suaminya. Rio pun maju dan Jasmine pun duduk di paha suaminya memeluknya dari depan dan mulai menyabun punggung suaminya. Rio terkekeh. " Jangan terlalu menekan perutmu kasihan anak kita," kata Rio mulai menikmati sentuhan istrinya.
"Semoga setelah ini kau bisa mencintaiku," Bisik Jasmine
Jasmine mulai memberanikan menggoda suaminya kembali." Hai apa yang kau lakukan, Jas?" tanyanya dengan suara serak menahan hasrat.
Cukup, Jas. Berdirilah sebentar," kata Rio
Jasmine berdiri, Rio pun juga. Tanpa di duganya suaminya itu menggendongnya dan membawanya ke shower. Membilas tubuh mereka setelah itu, ia menyambar handuk dan mengeringkanya. Kemudian, ia menggendong kembali sang istri dengan hati-hati, sambil berbisik, "Kau membuatku menginginkan kembali, Jas."
Lalu Rio merebahkan Jasmine ke ranjang dan kembali mereguk cinta yang dibangkitkan kembali oleh wanita yang menjadi istrinya. Dia kembali meraih kenikmatan yang ditawarkan secara halal oleh wanita itu yang mencoba mendesak cinta lamanya dan di gantikan dengan yang baru yaitu cinta Jasmine.
Sebagai istri ia ingin menjadi ratu di hati suami walau hanya sebentar saja itu sebabnya selalu berusaha memancing gairah suaminya itu.
Rio bergelut dengan peluh berbalut hasrat dan cinta yang mulai sedikit tumbuh di hatinya, hingga ia terkulai dengan lemas dalam kepuasan dan gairah. Rio menatap sang istri yang begitu kelelahan. Lalu menyentuh perut istrinya, Apa ini tidak apa-apa?" tanyanya menguwatirkan kandungan istrinya. Jasmine menggeleng. "Jika terjadi sesuatu, tolong katakan padaku!" pintanya sambil mengecup keningnya. "Yo, sekarang aku tahu kelemahanmu," kata Jasmine lirih.
"Benarkah, tapi jangan kau lakukan lagi, aku takut terjadi sesuatu pada kandunganmu, mengerti?" pintanya pada istrinya.
"Ya, Aku mengerti?" Rio bangkit dari tubuh istrinya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu mengganti air hangat di bathtub dengan yang baru kemudian menuangkan aroma terapi di dalamnya. Setelah itu, ia keluar dengan mengenakan handuk sebatas pinggangnya menghampiri sang istri yang terlihat akan terlelap, menepuk pelan pipi sang istri pelan. "Jas, bersihkan dulu dirimu sudah ku siapkan air untukmu, apa harus ku gendong lagi?" tanyanya sambil terkekeh.
Jasmine terseyum, "Tidak perlu, aku sendiri saja," katanya
__ADS_1
Jasmine membalut tubuhnya dengan selimut dan akan melangkah menuju kamar mandi, tiba-tiba Rio menghentikannya. ia berjalan kearah istrinya."Kenapa harus kau tutup dengan selimut? Kalau kau terjatuh bagaimana? Tidak perlu pakai apa-apa, hanya aku yang ada di sini, melihatmu tanpa pakaian sudah biasa jadi untuk apa malu," katanya sambil melepas selimut yang membalut tubuh istrinya lalu menggendongnya dan menurunkan ke dalam bathtub. "Mandilah jangan terlalu lama, dan jangan tertidur! Panggil aku jika sudah selesai!" perintahnya lalu keluar dari kamar mandi.
Rio berganti dengan pinyama tidurnya, merebahkan tubuhnya di ranjang sejenak. Namun, akhirnya tertidur.