
Aril memacu mobilnya menuju rumahnya, ia sudah tak sabar bertemu dengan sahabatnya itu. Juga istri dan anaknya yang selalu menjadi mood Booster itu.
Cuaca tidaklah terlalu panas karena hari belum terlalu siang, masih jam 11.00, hari ini tidaklah terlalu padat hanya ada jadwal operasi dua pasien saja, dan selebihnya adalah Free.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang membawanya ke rumahnya tak seberapa lama ia pun sampai di depan halaman rumah yang luas, Aril keluar dari mobilnya dengan sangat tergesa-gesa berjalan menuju pintu depan rumahnya lalu mengucap salam, Datai yang mendengar suara salam dari luar menjawabnya dan segera keluar menghampiri sahabatnya itu.
Terlihat Aril berjalan kearahnya sambil tersenyum, dua sahabat itu saling berpelukan. "Kok sudah pulang?" tanya Dantai pada Aril. Aril tertawa. "Hari ini jadwalku tidaklah padat, Dan. Hanya jadwal operasi saja, ada dokter baru juga di sana pindahan dari rumah sakit cabang. Sehingga pasien sudah terbagi dengannya."
"Cantik?" tanya Dantai menyelidik.
"Masih cantik adikmu Dan," kata Aril sambil tertawa.
Salva keluar dari dalam membawa baki berisi dua gelas teh hangat, lalu diletakan di atas meja. Aril menatap sang istri dengan penuh cinta.
"Sini sayang duduk sini,"pintanya pada istrinya. Lalu menebarkan pandanganya ke seluruh Arah. "Kemana istrimu, Bang. Kok gak kelihatan." Dantai tertawa keras. "Kalau ada Salva aja kamu panggil aku, Bang."protesnya pada temannya itu.
"Ya, bagaimana lagi, aku kan lagi kangen sahabatku, bukan kakak iparku," katanya tertawa.
Salva tertawa. "Emang Papa panggil apa sama Abang?"tanya Salva pada suaminya itu. Aril menoleh pada Salva.
"Gimana kandungan sayang, belum ada kontraksi kan?" tanyanya dengan wajah sedikit kawatir, Apa mama suruh datang kesini yaa?" tanyanya pada Salva.
"Aku gak apa-apa, aku tanya tadi Papa panggil apa sama Abang?" tanyanya lagi pada suaminya. Aril tertawa panggil nama saja. Ehh, dianya protes." katanya masih dengan tawa renyahnya.
Salva pun ikut tertawa.
"Benaran ini, Papa kawatir pas kamu kontraksi Papa lagi gak ada di rumah, belum bisa cuti aku, sayang," kata Aril menatap lekat.
"Aduh, lebih baik aku mencari istriku saja dari pada aku di sini melihatmu pacaran sama adikku," kata Dantai sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam mencari istrinya itu.
__ADS_1
Aril dan Salva tertawa melihat kakaknya merajuk. "Bang, di minum dulu tehnya nanti dingin loh," kata Salva tertawa.
"Nanti sajalah aku mau mencari istriku, di ajak kemana dia sama Bik Mirna," katanya sambil berjalan menuju dapur yang berdekatan dengan ruang makan.
Ketika sampai di ruangan makan terlihat istrinya sedang duduk sambil memakan puding mangga yang dibuat khusus untuk Anta. yaa gadis itu memang sangat menyukai mangga karena buah mangga lah yang mengantarkannya bertemu dengan gadis tomboy dan unik.
Ia berjalan mendekati istrinya dan duduk di disampingnya ditahannya tangan istrinya yang akan menyuapkan puding ke mulutnya lalu di tarik tangan Anta hingga mencapai mulutnya dan hap! Puding itu masuk kedalam mulutnya.
Anta memukul tangan Dantai. "Kalau mau, bilang jadi ... kaget 'kan aku."
Dantai pun tertawa. "Sebenarnya aku malah ingin puding yang di suap dari mulutmu, sayangnya banyak CCTV jadi gak jadi."
Anta tertawa. "Kita, 'kan liburan sama anak-anak bukan lagi bulan madu."
Dantai pun tertawa kembali. "Kapan-kapan bagaimana kalau kita pergi bulan madu?"
"Buat apa aku tak bisa melihat apa-apa lebih baik kita di rumah, di sana urusannya tempat tidur juga," kata Anta pada Dantai.
"Lalu aku harus bilang apa? setiap kali kau ingin membahagiakanku hatiku terluka karena tak punya harapan untuk bisa melihat, uang banyak pun tak ada artinya, Dan. Tidak bisa membeli cahaya untuk mataku.
"Apa cintaku tidak cukup membuatmu bahagia, Bun?" tanya Dantai pada Anta.
"Cukup bahkan terlalu berlebihan, Dan," katanya sambil meraba wajah Dantai.
Sementara itu, Hira mulai bosan dengan permainan anak-anak pun, pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya ia pun mencoba melakukan panggilan pada Om Rionya.
Beberapa kali ia mencoba melakukan video call akhir tersabung juga, Layar handphone-nya pun menampakan wajah seorang lelaki dewasa, tengah duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Assalammualaikum, Princess. Apa kabarmu?"tanya Roi pada Hira.
__ADS_1
"Baik, Om. Hira sudah sampai di Surabaya, apa Om sibuk?" tanya Hira sambil menyunggingkan senyumnya.
"Apa Hira ingin bertemu Om?" tanya Rio pada Hira.
"Apa Hira menganggu pekerjaan Om?"tanya Hira pada Rio.
"Tidak, setelah makan siang yaa, Om akan ke rumah," katanya lembut.
"Iya Hira tunggu yaa, Om. Assalammualaikum,"kata mengakhiri Video call dengan Rio sambil tersenyum manis di jawab oleh Rio dengan senyum tulus.
Hira tersenyum puas hari ini dia akan bertemu dengan om Rio dengan bersenandung ia pun menuruni tangga, menuju ruang bermain di sana terlihat Om Aril sedang melihat putranya dan Emir menyusun lego sesuai yang di inginkan mereka. Hira menghampiri Om Aril dan menyapanya.
"Om, Sudah pulang?"tanya Hira sambil mencium punggung tangan Aril.
"Sudah, dari tadi loh Om cariin ponakan om yang paling cantik ini, tapi kok gak ada, kemana sih?"tanya Aril pada Hira
Hira pun terkekeh. "Tadi lihat kamar Om, ingin tahu seperti apa kamarnya Nenek dan Kakek."
Tak lama kemudian terdengar suara Adzan duhur. Mereka pun menunaikan ibadah sholat dhuhur di mushola rumahnya.
Setelah itu mereka sudah duduk di depan meja masing-masing untuk makan siang bersama kali ini bik mirna memasak soto ayam kampung lengkap dengan taburan kerupuk udang dan sambal miri yang pedas.
Mereka makan siang dengan tenang hanya terdengar beberapa kali suara Izyan yang tengah protes pada mamanya saat dia di suapi Salva. Aril makan dengan cepat, lalu menggantikan Salva menyuapi Izyan.
"Izyan harus banyak makan sayur biar badan sehat, dulu waktu Izyan masih di perut Mama, juga sama. Mama makan sayur yang banyak," kata Aril menasehati putranya sambil menyuapi sang putra sedang Salva sudah mulai menyuap makanan sendiri sambil melihat putra yang begitu penurut jika bersama Papanya.
Setelah makan siang, Salva ijin kepada Abangnya dan suaminya untuk beristirahat sebentar karena kepala sedikit pusing. "Dek, kalau kurang enak badan, istirahat saja, Abang kamu ini bukan tamu yang harus di sambut, jadi santai saja," katanya pada Salva.
"Iya, Bang. Maaf yaa gak bisa temani Abang ngobrol," sahut Salva.
__ADS_1
"Ril, periksa dulu tuh adiku,"katanya sambil memukul tangan Aril
"Iya, Bang. Galak amat sih, sebentar aku tinggal dulu," katanya pada Dantai.