
Waktu berjalan dengan cepat, Dantai dan keluarga kecilnya mengisi hari dengan berwisata di kota malang, mengunjungi rumah yatim piatu, bertemu dengan sari dan Dokter Rizal. Hira sudah kembali ceria, tak lagi menelpon om Rio, dan berusaha untuk melupakannya, gadis kecil itu berusaha memahami pemikiran orang dewasa yang menurutnya Rumit, Baginya kalau bertemu ya bertemu saja kalau tidak ya sudah, tidak perlu harus ada sebab dan akibat untuk bertemu dan tidak bertemu. Hira kadang menghabiskan waktu ke rumah yatim piatu bermain dengan bocah seusianya, Dantai pun berharap sang putri tumbuh layaknya gadis kecil seusianya.
Emir lebih suka melukis kadang ia melukis di kebun belakang vila,beberapa lukisan sudah menjadi pesanan-pesan pengusaha dengan harga fantastis, sedangkan Hira pun sudah beberapa kali di event-event pengusaha dan yang lainnya bahkan di Singapura show-show sudah menunggunya, memang anak yang berbakat akan menjadi sesuatu yang cemerlangnya ketika ada tangan-tangan lain yang membimbingnya serta mengarahkan dengan secara baik akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Hari ini tiba saatnya untuk melaksanakan operasi bagi anak pemilik rumah sakit, Dari Vila tempatnya menginap ia berangkat dengan pamit kepada istri,dan mertuanya, jam 08.00 pagi dia keluar dari rumahnya menuju ke mobilnya ia pun masuk kedalam dan mulai menjalankan mobilnya ke rumah sakit. beberapa menit kemudian dia sampai di area parkir rumah sakit, Dantai keluar dari mobil dan berjalan memasuki lobby lalu berjalan di lorong-lorong rumah sakit, hingga sampai di ruang operasi pemilik rumah sakit. "Bagaimana Anda sudah menyiapkan semua yang saya butuhkan? Karena tahu sendiri jika bawah saya tidak sedang bertugas jelas saya tidak membawa peralatan medis saya," kata Dantai pada pemilik rumah sakit.
"Sudah saya siapkan Dok, mari ini ruangan anda!" jawab pemilik rumah sakit. Dantai masuk keruangan khusus untuknya dan mulai memakai pakaian khusus lalu keluar serta masuk ke dalam ruang operasi pintu ruang operasi tertutup.
Setelah dua jam berlalu akhirnya pintu ruangan operasi terbuka, Dantai dan Dokter Prayit keluar menemui Dokter Darmawan. "Operasi berjalan dengan baik, seminggu sekali operasi perkiraan pasien akan bisa melihat samar, selama dalam penyembuhan gunakan kacamata kusus dan hindari sinar matahari menyorot langsung, penggunaan kacamata kusus itu digunakan sampai pasien benar-benar pengelihatannya pulih tak terbatas waktu Dok bisa dua atau tiga bulan paling lama proses bisa sampai 6 bulan.
Dokter Prayit, tolong semua perkembangan pasien laporakan pada saya secara berkala, itu saja Dok," jelas Dantai langsung pergi keruangannya
dan mengguyur tubuhnya di kamar mandi, lalu berganti pakaian yang dibawanya, kemudian dia keluar dari ruangannya, Dokter Darmawan sudah menunggunya di depan pintu ruangannya, ketika ia keluar ia pun terkejut. "Maaf, Dok. Mengejutkanmu," kata Dokter Darmawan.
"Tidak apa-apa, Dok. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dantai pada Dokter Darmawan.
"Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Anda, Dok. Andai belum menikah saya ingin Anda menjadi menantu saya dan Andai ingin menikah lagi saya bersedia menjadi mertua Anda dan rumah sakit ini bisa menjadi milik Anda," kata Dokter Darmawan terseyum.
Dantai tertawa. "Mohon maaf Dok, istri saya adalah wanita yang pertama kali singgah di hati saya dan saya tidak ingin menikah lagi," katanya sambil mengatupkan tangannya dan pamit meninggalkan rumah sakit.
Dantai berjalan cepat menuju mobilnya lalu masuk dan menjalankan dengan kecepatan sedang keluar dari area rumah sakit.
__ADS_1
Dokter Darmawan terseyum menyeringai. 'Kau belum tahu saja bagaimana hebatnya putriku itu, kau pasti akan bertekuk lutut pada cinta putriku, istrimu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan putriku,' katanya dalam hati.
Mobil Dantai berjalan dengan kecepatan sedang menuju Vila, setengah jam kemudian ia pun sampai lalu ia keluar dari mobilnya berjalan memasuki Vila wanita yang begitu cantik dengan balutan gamis dan hijab yang senada menyambutnya dengan senyum manisnya. "Bun, sudah siap semua nih tinggal nunggu Ayah nih," katanya sambil mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan.
"Iya, kalau Ayah masih butuh ganti baju kami masih siap menunggu," kekeh Anta.
"Eeh? Ayah juga sudah siap dong. Sudah mandi dan ganti baju juga," katanya sambil meletakan tasnya di meja.
"Nenek Nirma gak ikut?" tanya Dantai pada Istrinya itu.
"Tidak ia tinggal di rumah dengan bik Ija,
kurang nyaman untuk bepergian, Yah," jawab Anta.
"Sebentar deh, aku mau tanya dulu pada Papi dan mommy," katanya sambil menghampiri Andi yang sibuk dengan ke dua cucunya.
"Pi, bukankah setelah ini kita akan pulang ke Singapure?" tanyanya pada Andi.
"Kalau Papi dan Mommy belum bisa balik sana nenek ingin di sini untuk waktu agak lama, jadi kalian duluan saja," jawab Andi.
"Apa Nenek kurang enak badan?" tanya Anta pada papinya.
__ADS_1
"Tidak, tadi sore kan sudah di cek sama Dantai tuh, dia ingin hawa yang sejuk saja, lalu lahan Vila ini kan sudah di perluasan juga oleh suami itu, di belakang itu banyak sekali berbagai macam buah dan sayuran ia senang tinggal di sini, Mommy sama Papi ingin menemaninya di sini," jawab Andi pada putrinya.
"Ya sudah kalau begitu, Pi. Nanti saya akan sampaikan pada Dantai," jawab Anta sambil tersenyum.
"Ada yang mau ikut mobilnya Bunda, nggak?" tanya Anta pada anak-anaknya.
"Kita sama Kakek dan Nenek, silakan Bunda berdua saja sama Ayah," jawab Emir sambil terkekeh.
"Eee? Siapa yang ajarin begitu, yaa?" tanyanya pada Emir yang jari telunjuknya mengarah ke Hira. Anta terkekeh. "Awas yaa kalian!" ancam Anta sambil bergurau.
Mereka akhirnya berangkat ke Surabaya, Andi beserta istri dan cucunya di satu mobil yang sama yang dikendarai oleh Pak Man. Sementara itu, satu mobil lagi hanya berisi Dantai dan Anta saja.
Mereka berjalan dengan kecepatan sedang, Anta menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang sedang focus menyetir. "Bun, kita hotel dulu yuk, tapi sebelumnya kita ke butik, mumpung kita sendirian nih," katanya pada istrinya.
"Ke butik memangnya kita mau beli apa?" tanya Anta pada suaminya.
"Beli baju dinasmu dululah, Bun. Aku ingin lihat expresi malu-malumu itu," kata Dantai terkekeh. semburat bias merah di wajah Anta tertangkap oleh Dantai.
"Nanti pilih yang yahut yaa Bun," kata Dantai lagi sambil tertawa.
"Kamu sekarang makin mesum saja," kata Anta pada Dantai.
__ADS_1
"Dari dulu pun aku sudah mesum sama kamu Bun, cuma waktu itu kamu kan gak tahu aku kasih model baju kayak apa, jadi ekspresimu itu, datar-datar saja dan aku yang suka," kata Dantai tertawa.