
Pagi hari seperti biasanya Dantai melakukan aktivitas rutin, setelah sholat subuh ia selalu memeriksa anaknya memastikan popoknya. Anta terbangun dari tidurnya.
"Masih tidurkah?" tanya Anta pada pada Dantai
"Ayah, sudah mandi?" tanya Anta pada Dantai.
"Sudah, mandilah dulu aku akan jaga mereka," kata Dantai pada Anta.
Tiba-tiba Hira menangis, Dantai melihat popok, ternyata Hira pup, dengan telaten Dantai membersihkannya. Lalu mengantikannya popok baru dan bersih.
Setelah membersihkan tubuhnya, Anta mendekati suaminya dan memanggilnya, "Yah."
Dantai menoleh, "Ya Bun, kenapa?"
"Gak berangkat kuliah?"
"Nanti, makan dulu sana, Bun. Biar Hira dan Emir Ayah yang jaga." kata Dantai sambil menimang putrinya.
Anta keluar dari kamarnya pergi keruang makan dan duduk di kursi makan.
"Mau makan apa, Papi ambilkan ya." kata Andi pada anaknya.
"Boleh, Papi ngak kerja?"
"Papi sudah serahkan pada Asisten Papi, ingin istirahat sebentar."kata Andi sambil meletakan makanan di meja.
Anta makan dengan tenang di temani sang ayah.
"Anak-anak belum bangun," kata Andi pada Anta.
"Hira sudah bangun sama Ayahnya, Pi," jawab Anta.
"Ya sudah kalau begitu Papi, menemui Dantai, biar dia segera berangkat." kata Andi meninggalkan tempat duduknya dan pergi menemui cucunya.
Dengan senangnya Andi menemui Dantai di kamar bayi setelah sampai di sana dia memanggil menantunya.
"Dan."
Dantai menoleh, "Papi, loh belum berangkat?"
"Papi di rumah pingin sama cucu, sini Hira biar sama Papi kamu berangkat, kamu berangkat saja kuliah.
"Ok! Dantai berangkat, Pi."
Dantai pun berangkat dengan mobil, berjalan meninggalkan halaman rumahnya menuju kampusnya.
...****...
__ADS_1
Sari begitu hebohnya karena ingin bertemu si kembar hatinya sangat senang
"Mas kita berangkat jam berapa to? kok sampean tenang-tenang wae."
"Jam 10.00 Dek, sekarang loh masih jam berapa?"
"Aduh, sampean iku piye to, Mas kok jam 10.00 berangkatnya, terus sampai sana jam berapa coba?"
"Yo paling jam 12.00, Dek, Dantai kan kuliah, bisa jemput kita kalau istirahat toh, Dek."
"Oh, iyo seh Mas, Itu bawaan kita apa cukup segitu toh mas?"
"Sampean ini loh, Dek mau bawa apa sih?
Itu sudah cukup, nanti selebihnya beli di sana.'
"Sampean ki opo gak ngerti to, Mas. Mas Dan karo mbak Anta iku seneng jajan pasar, neng kono gak onok, Mas."
"Halah wis sakarepmu, Dek, pokoknya jangan banyak-banyak."
"Lah kalau gitu yo kita ke pasar to Mas."kata Sari sambil menggelayut manja.
Rizal hanya bisa garuk- garuk kepala yang gak terasa gatal.
"Sampean iku kok gak mesisan to Dek, iki bolak-bolik neng pasar opo ora kesel."
"Gak kepikiran piye to Dek, wong ya tadi banyak yang di lihat loh, Wis dek gak usah, iki iku perjalanan adoh, Dek. Ketimbang onok opo-opo mendeng ora!"jawab Risal sambil duduk di sofa, tangan dan mulutnya tak berhenti, mengambil dan memakan singkong goreng.
Dari terlihat sebal mulutnya komat-kamit menirukan kalimat Rizal.
"Dek sini loh Mas bilangin." panggil Sari mengajak untuk duduk di sampingnya.
Sari pun berjalan dengan ke arah Rizal dengan rasa jengkel.
"Duduk sini, kalau bundanya terlalu capek, kasihan adik bayi yang di sini. Dek sari itukan perawat, pasti ngerti kan kalau ibu hamil itu ya gak boleh capek-capek, apa lagi kita mau naik pesawat lo dek, yang nurut gitu loh, Dek."
"Iyo wis mas aku nurut, lek ngunu wis ayo dang budal mas selat ketinggalan pesawat mengko.
"Iyo, dang dandan kono."kata Rizal dengan logat jawanya.
Beberapa menit kemudian mobil yang di sewa sudah datang, Maera gandis kecil lucu itu ikut serta bersama. Dari mulai pagi sudah ribut sekali kalau akan ikut Singapure.
Mereka pun masuk dan mobil berjalan dengan kecepatan sedang dengan perjalanan lintas tol akan lebih cepat sampai ke bandara Juanda.
Di sepanjang perjalanan Maera bernyanyi sangat Riang.
"Bang Rizal dedek Emir cakep apa enggak?" tanya Maera pada Rizal,
__ADS_1
"Ya jelas aja ayahnya cakep dan ibunya juga cakep ya tentu cakep, Ra. Sama dengan anaknya Abang nanti, Abang ksn cakep nin, Mbakmu yo cakep jadi anaknya abang nanti juga gak kalah cakepnya sama mas Dan mu itu loh."
Maera tertawa lepas.
"Bang aku pengen segera sampai dan bertemu dengan Emir." kata Maera sambil mengoyang-nggoyangkan kepala, tangan dan kakinya mengikuti irama musik anak-anak yang di putar di mobil.
"Lo kok Emir aja, gak mau ketemu Hira, Hira juga cantik loh?" tanya Rizal pada Mar ah
"Iya tapi kan lebih seru cowok om Dari pada cewek," kata Maerah dengan logat cadelnya
"Sama lucunya Ra, gak boleh begitu kasihan nanti mas Dantai dan mbak Anta.
karena kamu pilih-pilih nanti ngak di perbolehkan untuk datang rumahnya nanti karena kamu hanya sayang sama Emir aja bukan sama Hira juga." kata Sari menjelaskan pada Aira.
"Ok! deh aku akan sayang dua-duanya."
"Nah, gitu dong itu baru cakep namanya. Ya seperti inilah adek Abang dan Mbak Sari.
"Iya, Bang Maera tobat deh gak gitu lagi harus sayang semuanya biar disayang Allah."
"Nah itu baru Maera cakep, kembangnya Rumah kasih ibu."
"Loh kok gak kembang desa sih bang."
"Kalau kembang Desa nunggu nanti kamu besar."
Maira manggut-manggut tanda mengerti.
Mobil itu berhenti di tempat parkir Bandara Juanda, semua rombongan pun keluar, lalu mereka berjalan ke terminal keberangkatan, Maera tak pernah sekalipun berhenti bersenandung karena begitu sangat senangnya bisa naik pesawat.
"Hore, naik pesawat terbang, seperti burung, aku jadi burung yang besar sekali, oh senang hatiku, tralala, trilili,"
Rizal dan Sari hanya tertawa dengan kecerian gadis itu, tumbuh di rumah yatim piatu tetap membuatnya menjadi pribadi yang selalu ceria.
Beberapa pasang mata yang melihat keceriaan Maera, ikut tersenyum.
Sampai akhirnya mereka masuk ke pesawat, Sari dan Maera duduk di bangku yang sama di belakang Rizal.
ini adalah pertama kalinya mereka naik pesawat.
Sari sedikit takut, tapi rasa takutnya menjadi sedikit hilang karena mendengar celotehan Maera.
Dalam hatinya berkata," Ni anak gak ada takut-takutnya, aku aja takut,"
Maera menoleh pada Sari lalu tersenyum, "Mbak Sari pejamkan mata saja ya, sambil dengarkan suara yang merdu ini." katanya sambil terkekeh.
Pesawat pun lepas landas, sedikit goncangan terasa di awal, namun karena genggaman tangan si kecil Maera membuat dirinya tenang.
__ADS_1
Trimakasih telah berkunjung dan membaca karya saya, dukungan anda sangat berarti buat saya, selalu dukung saya dengan memberi Like dan koment agar lebih semangat lagi untuk update dan sehat selalu serta di berikan kelancar rizki bagi anda semua.