
Dantai pulang dari mengantarkan orang tua dan mertuanya ke Bandara.
langsung ke kamarnya. nampak Anta tertidur pulas di kecup kening istrinya lalu la pun berbaring di sebelahnya lalu memeluknya dari belakang aroma wangi tubuh istrinya membuat ia ikut terlelap.
ketika Adzan duhur berkumandang Dantai pun terbangun. Dia membangunkan istrinya, "Honey bangun kita sholat duhur dulu."
Anta mengerjapkan matanya mengusir rasa kantuknya yang masih menderanya.
"Hai ayo bangun dulu kita sholat dulu." Kata Dantai kembali sambil menepuk pelan pipi istrinya ketika mata itu akan terpejam kembali karena rasa kantuk dan pegal seluruh tubuhnya.
Anta belum juga membuka matanya kembali. Dantai tak putus asah tangannya menyusup kedalam baju Anta bermain di area yang ia sukai, membuat mata yang seolah enggan terbuka terbelalak lebar dan rasa kantuk Anta tiba-tiba menguap entah kemana.
Dipukulnya tangan nakal itu berkali-kali. membuat yang punya tertawa terbahak-bahak lalu melepas mainan yang ia sukai," Sudah bangun sayang?"
"Hem, sudah," jawab anta dengan suara seraknya.
"Kita sholat dulu sayang," kata Dantai dengan bibir yang tak lepas dari pipi Anta sambil mengecupnya berulang kali.
"Gimana mau bangun kalau mas menindih tubuhku seperti ini," kata Anta masih dengan suara seraknya.
"Oh iya lupa," katanya sambil terkekeh. Dia bangkit dari tubuh Anta turun dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu kembali menyiapkan sajadahnya, sajadah serta mukena istrinya.
"Sayang ayo ambil wudhu sana mas tunggu."
"Hem," jawab Anta malas ia bangun, duduk lalu beranjak dari ranjang berjalan dengan malas menuju kamar mandi mengambil air wudhu lalu kembali. Dengan sabar Dantai memandu Anta menemukan letak shaf dan mukenanya. Segera Anta memakai mukenanya dan berdiri. Dantai mulai memimpin shalat jamaahnya bersama istri tercinta.
Selesai sholat ia memimpin doa dan dzikir kemudian berbalik kearah Anta, ia menangkupkan kedua tangannya di kepala Anta memberikan doa kebaikan. Anta mengambil tangan Datai mencium punggung tangannya.
Dantai membantu melepaskan mukena istrinya lalu melipatnya. Dia berbaring di letakan kepalanya di pangkuan istrinya.
kedua tangannya memeluk pinggang istrinya menyusupkan wajahnya di perut ramping Anta, rasa damai, tentram dan senang meyeruak di hatinya. Mengecup berkali-kali perut ramping itu," Honey jadi pulang sekarang apa besok?" tanya Dantai tanpa merubah posisi tidurnya.
"Terserah kamu aja mas, kalau sekarang pulang, ayok besok pun ayok," katanya sambil tangannya memainkan rambut Dantai.
__ADS_1
"Kalau main lagi seperti tadi bagaimana, mau?" tanyanya dengan masih menciumi perut istrinya.
"Aku masih lemas mas, juga masih sakit, sudah deh pulang sekarang aja, biar mas gak mintak terus," katanya sambil sedikit menarik rambut Dantai.
"Aduh, sakit sayang," kata sambil tangannya semakin nakal mulai merayap ke atas gundukan menjadi favoritnya.
"Mas, jangan nakal, ayo cepat kita bersiap untuk berangkat."
"Tapi sampai sana kita main ya?"
"Enggak masih sakit."
"Kalau sakit itu tandanya harus di ulang sayang biar gak sakit," katanya tanpa menghentikan aktivitas tangannya.
"I..tu sih mau mu mas, mas ....! teriak Anta sambil memikul punggung Dantai.
"Jawab mau dulu baru mas lepas."
"Sekarang?" tanya Dantai dengan tangannya semakin menyusup bermain di titik area yang membuat istrinya menggelinjang tanpa sadar Anta menjawab," Iya!"
"Tanpa membuang waktu Dantai mengangkat tubuh Anta dan membaringkan ke ranjang. Di sana mereka pun kembali mereguk manisnya cinta berbagi peluh di siang hari.
Satu jam berlalu dua insan saling berpelukan setelah mencapai kenikmatan dengan nafas masih memburu Dantai mengecup dahi istrinya," Trimakasih sayang." Ia jatuhkan tubuh di sebelah sang istri.
"Kamu ya mas paling suka pasang jebakan ke aku," kata Anta pelan. Dantai terkekeh sambil memeluk tubuh istrinya dan tangannya belum melepaskan mainan kesukaan.
"Mas?" Anta mencubit perut Dantai. Dantai terkekeh melepas pelukannya lalu bangun beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian ia selesai dan menyiapkan air hangat dan aroma terapi lalu keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya berjalan menuju ranjang dan menggendong tubuh Anta ke kamar mandi. menaruhya ke dalam bathup, " Mandi dulu sayang." katanya sambil berlalu pergi dari kamar mandi.
30 menit kemudian Anta keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe.
Dantai menghampiri istrinya menarik tangan Anta membawanya ke kursi depan meja rias.Tangan kanannya memegang alat pengering rambut tangan kiri memegang rambut hitam Anta sebahu.
__ADS_1
Dengan cekatan Dantai mengeringkan rambut istrinya, Setelah itu dia menyisir rambut rambut Anta lalu mengikat rambut dengan rapi.
"Sayang maukah kau memakai hijab, aku tak rela kecantikan mu di lihat pria lain."
Anta tersenyum mengangguk.
"Aku sudah menyiapkan baju mu di ranjang sayang, aku bawakan makan siang dulu ke sini ya. Kita makan di sini saja." kata Dantai sambil melangkah keluar kamar menuju ruang makan.
Ruang makan tampak lengang. Dantai mencari bik Ijah dan pak Man di dapur, " Bik Ijah dan pak Man apa kalian sudah makan?"
"Belum den, nunggu den Dantai dan non Anta makan dulu,"
"Dari sekarang jangan menunggu ya bik, ambil untuk kalian dan siapkan untuk kami. Saya dan Anta makan di kamar. Setelah itu kami akan kembali ke Singapura nanti sore. Tolong di atar ke Bandara."
"Siap den," jawab pak Man
"Biar saya antarkan ke kamar Den," tawar bik Ijah.
"Gak usah bik biar saya sendiri setelah itu kalian makan ya," katanya sambil melangkah pergi kemeja makan. Dantai mengambil nasi dengan porsi banyak dan lauk di piring berbeda mengisi dua gelas dengan air mineral di taruh dalam baki lalu membawanya ke kamar.
Dia membuka pintu kamar Dia masuk kedalam lalu menutup pintu dengan kakinya. Di simpannya baki di meja depan sofa.
Dantai melihat istrinya sudah berganti pakaian dengan baju yang Dia siapkan.
Dantai makan bersama sang istri di piring yang sama. Dia menyuapi Anta dengan tangannya lalu berganti menyuapkan untuk dirinya sendiri hingga nasi dan lauk habis. Dantai mengambilkan satu gelas air di berikan pada Anta. Anta menerimanya dan meminum air dalam gelas tersebut lalu memberikan gelas yang sudah kosong kepada Dantai.
Dantai menyimpan piring,sendok,garpu dan gelas kotor ke dalam baki lalu membawanya ke tempat pencuci piring lalu kembali kedalam kamar.
Dantai menyiapkan apa yang harus di bawah untuk ke Singapura dan menyisakan satu barang yang masih terbungkus rapi. Satu hijab instan yang sudah di beli sebelumnya.
Dantai menghampiri istri yang masih duduk di sofa, dipakaikan hijab instan senada dengan pakaian yang di pilihnya tadi, celana panjang warna hitam dan tunik berwana pink gelap dengan hijab warna pink cerah, membuat penampilan Anta terlihat semakin Anggun.
Dantai pun mengajak sang istri untuk keluar kamar, ruang makan, ruang tamu berakhir di halaman rumah dengan mobil yang menunggu mereka untuk di antar ke Bandara. Mereka masuk kedalam mobil. Mobil itu pun pergi meninggalkan halaman rumah menuju Bandara.
__ADS_1