
Hira begitu menyukai sesuatu yang ekstrim, kadang membuat Rio ngeri sendiri melihat gadis itu beratraksi di kolam renang, setelah puas Hira pun pergi ke kamar mandi untuk membilas diri lalu berganti pakaian.
Gadis itu keluar dari kamar mandi menghampiri Rio yang berdiri bersandar. "Om, cari makan yuk, Hira lapar."
"Mau makan di mana?" sahut Rio sembari tersenyum.
"Teserah mau cari makan di sini, atau di tempat lain, aku gak pilih-pilih makanan Om," katanya sambil tersenyum
"Masih mau main di sini apa di tempat lain?" tanya Rio pada Hira.
"Di tempat lain saja deh, Om," katanya sambil berjalan mendahului Rio menuju mobil dan langsung masuk kedalam. Rio masuk dan duduk di belakang kemudi lalu melajukan dengan kecepatan sedang keluar dari area wisata.
Mobil terus berjalan melintasi beberapa gedung perkantoran lalu berhenti di sebuah depot sederhana yang menjual menu makanan lokal seperti tongseng, rawon, soto dan lain-lain.
"Kamu pesan apa? Kalau Om ingin makan tongseng kambing pedas," kata Roi sambil duduk di kursi kayu lalu menyomot bakwan goreng yang ada di atas meja.
"Aku soto sajalah, Om lagi ingin makan soto," kata Hira sambil ikut duduk di sebelah Rio, mata menatap seluruh makanan yang ada di atas meja.
"Ini apa Om?" tanya Hira pada Rio.
"Oh, itu tahu isi, yang ini lumpia, ini medoan, dan yang ini adalah Bakwan seperti yang Om makan," katanya sambil mengambil lumpiah dan memakannya.
__ADS_1
Hira mengambil tahu isi dan memakannya. "Pakai ini Princees lebih enak," katanya sambil menaruh sambal petis tepat di depannya. Ketika Hira mau memasukan makanan di dalam sambal tersebut, Rio menahan tangan Hira sambil tertawa. "Bukan begitu caranya, Ra. Akan tetapi seperti ini," kata Rio mengambil tahu dari tangan Hira lalu mengambil satu sendok sambal dan dimasukan kedalam tahu yang sudah di gigit tadi setelah itu, memberikan kepada gadis itu.
Hira tertawa sambil memakan tahu yang diterimanya dari Rio, seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka lalu masuk kedalam untuk menyiapkan pesanan mereka, tak lama kemudian, pesanan datang, dua piring nasi putih, satu mangkok tongseng, satu mangkok soto, dua mangkok es teler dan satu gelas kopi tertata di meja mereka.
Mereka mulai menikmati makanan mereka, dari soto dan tongseng, lalu yang lain hingga dirasa cukup kenyang, Rio membayar makanan tersebut kemudian keluar bersama Hira dan masuk kedalam mobil yang kemudian berjalan meninggalkan depot itu.
Beberapa tempat dikunjungi, mall, pantai dan yang lainnya.
Di mall Hira mencoba beberapa macam permainan bersama Rio. Setelah puas mereka pun pergi ketempat lain, Rio benar-benar memberikan waktu yang panjang untuk bersama gadis kecil itu mobil berjalan menuju tempat yang di sukai Hira dan masjid saat memasuki waktu sholat.
Mereka juga pergi ke pasar malam, menikmati semua jajanan kaki lima yang ada di sana kemudian Hira menaiki kincir angin sendirian, dia melambaikan tangannya ke Rio dan pria itu menatap kecerian Hira dengan senyum yang seolah menertawakan dirinya sendiri, karena dia merasa saat ini dia seperti berkencan dengan seorang gadis kecil yang sudah masuk dalam hati sejak, entahlah ia sendiri.tidak tahu.
Terakhir Rio membawanya kesebuah restoran mewah dan makan malam di sana, sungguh ini adalah hari di mana dia dan Hira mengukir kenangan sebelum perpisahan esok hari, Rio sudah memutuskan untuk tak menemuinya lagi, melupakan perasaannya pada Hira yang sulit untuk diujudkan sedang dia sudah memiliki istri yang tidak mungkin dia ceraikan karena sebuah rasa yang salah.
"Dan, aku ingin bicara denganmu, tapi sebentar aku akan membawa ke kamarnya," katanya pada Dantai.
Tak lama kemudian terlihat Rio menuruni tangga berjalan ke arah Dantai lalu duduk di sofa menyadarkan punggungnya melepaskan kelelahan mengemudi sepanjang hari ini. Dia menatap sahabatnya itu. "Dan, mungkin setelah ini aku tak bisa menemuimu, bukan karena tidak bisa menjadi teman, tetapi karena perasaanku yang salah pada putrimu, aku yakin setelah dewasa ia akan melupakanku karena ada kumbang yang lebih muda dan gagah," katanya terkekeh. Lalu ia pun pamit akan meninggalkan Vila dini hari sebelum Hira bangun, setelah mengungkapkan isi hatinya pada sahabatnya itu, ia melangkah menuju kamar dimana yang biasa ia tempati ketika ia menginap di sini.
Dantai menatap nanar punggung temannya ia tak mengira ini terjadi pada teman dan juga putrinya, ia menganggap ini wajar-wajar saja karena ia tahu selama ini Rio menganggap putrinya adalah putrinya juga, ia tidak pernah menganggap apa yang terjadi pada sahabatnya ada hal yang menyimpang karena nyatanya pria itu selalu menjaga putri dengan sangat baik dan tidak ingin merusaknya, Dantai berjalan kembali masuk kedalam kamarnya.
...----------------...
__ADS_1
Di Surabaya tepatnya di kediaman Rio berlangsung acara pengajian tujuh bulanan, semua tetangga dan teman sepanti-asuan datang mengucapkan selamat atas kehamilannya.
Beberapa orang bertanya tentang keberadaan suaminya, dan memberikan jawaban yang singkat.
Namun, itu tidak membuat mereka terdiam justru kata halus yang di dengar dari tetangga, cukup melukai hatinya.
Kata seharusnya begini atau begitu membuatnya sedikit mual.
"Mbak Jasmine, suaminya mana?" tanya salah satu dari tetangganya.
Dengan senyum yang mengembang Jasmine pun menjawab," Masih di luar kota, mungkin malam baru sampai rumah," katanya Jasmine.
"Walau pun sibuk seharusnya, suami sempatkan diri, Mbak. Kan untuk putranya juga," kata tetangganya yang lain.
"Iya, tapi suami saya juga bertanggung jawab pada karyawan juga bu, kalau kerja sama gagal 'kan imbasnya ke karyawan juga, jadi saya sebagai harus ngerti posisi suami bu," katanya sambil tersenyum.
Perdebatan-perdebatan yang seharusnya tidak perlu terjadi di acara pengajian itu. Acara terus berlangsung tapi dia masih bisa mendengar kasak-kusuk dari teman, tetangga bahkan saudara dekatnya.
Jam sembilan tepat, acara sudah selesai, semua tamu sudah pulang dengan membawa bingkisan makanan, dan Rio pun belum terlihat datang, hati begitu kecewa belum lagi kedua mertuanya menatap Iba.
"Mama sama Papa, tidak menginap di sini?" tanya Jasmine ketika mertuanya itu berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Lain kali saja, Jas. Papa kelihatan kurang enak badan, maafkan kami membuatmu tidak bahagia karena menikah dengan putra kami, bersabarlah, mungkin suatu saat nanti dia akan berubah," kata Mutia pada menantunya itu.