
Setelah menghabiskan sarapannya Hira meminta untuk mengunjungi makam Jasmin. Datai mewujudkan keinginannya dan mengantarkan ke makam sebelum mereka kembali ke Singapura
Saat sampai di sana, dia melihat Rio berada di pemakaman itu Ira menghampiri pria itu. "Om!" panggil Hira.
Rio menoleh dan tersenyum, berjalan menghampiri Hira dan menggandengnya, untuk ke makam istrinya. "sayang Hira, datang," kata Rio di depan makam sang istri.
"Tante, maaf baru datang sekarang kemarin Hira sedih, sampai gak bisa makan, kita baru kenal tante, baru lihat Om dan tante bagia tapi Tante pergi. Semoga tante di sana juga bahagia, tante hari aku dan ayah akan pulang ke Singapura.
Lalu Hira menoleh pada pada Rio. "Om, Hira akan pulang, Om jangan sedih, nanti adik bayi nangis gak minum susu, gak bobok karena Om sedih. Tante gak kemana-mana di hati Om."
"Iya, Om, ngerti, trimakasih, Princees," kata Rio.
Dantai memeluk Rio."Jangan meratapinya ikhlaskan dia Yo, aku pulang dulu jaga dirimu juga putramu, jangan lupa kasih nama pada putramu itu."
"Iya, Dan, terimakasih," ucap Rio pada Dantai.
Mereka akhirnya pulang bersama, Dantai dan Hira ke rumah Salva sedangkan Rio menuju kantornya hari ini dia harus menandatangani beberapa berkas-berkas yang segera di proses oleh Yudi.
Dantai dan Hira sudah siap, mereka di antar oleh pak To sampai ke Bandara.
Setelah pria itu memastikan majikannya melewati pintu periksaan dia pun pulang ke rumah.
Di kantor, Rio sudah berkutat dengan berkas-berkasnya. Setelah selesai ia pun berpesan pada Yudi. "Selama satu Minggu saya berada di rumah tolong urus perusahaan yaa!" kata Rio.
"Baik tuan saya akan lakukan yang terbaik." kata Yudi.
Rio keluar dari kantor berjalan dengan tegap, benar kata Dantai bahwa aku tidak boleh meratap. Rio memasuki lift yang membawanya kelantai dasar Setelah sampai di sana pintu terbuka dia keluar berjalan ke area parkir dan masuk dalam mobil nya lalu berjalan dengan kecepatan sedang membela jalanan.
__ADS_1
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya dia sampai di rumah orang tuanya dia pun masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan salam lalu ia masuk ke dalam kamarnya untuk bersihkan tubuhnya terlebih dahulu kemudian dia masuk ke kamar saya putra di sana ada ibunya yang sedang memberikan susu dalam botol.
"Hello, anak Apa kabarmu?" sapa pada putra itu.
"Mi, kita mendapatkan nasi dari mana ya MI? Aku ingin putraku mendapatkan ASI.
Apa temanmu tidak ada yang mempunyai bayi mungkin jika produksi aslinya melimpah bisa untuk putra tapi kalau anaknya perempuan itu jelas jadi saudara persusuan. Sepertinya Ariel mempunyai bayi aku akan tanya padanya.
Rio pun menelphon Aril. "Assalamualaikum, Aril, Sebenarnya Aku mau tanya, tapi rasanya tidak enak juga," kata Rio
"Wa'alaikumsalam, tidak enak bagaimana? Apa yang ingin kau bicarakan padaku katakanlah!" kata Aril padanya.
Begini putraku itu membutuhkan ASI Apakah Salva bisa membagi nya dengan putraku?" tanyanya pada Ariel
Di seberang sana Aril tertawa. "Begitu saja sulit untuk berbicara, kemarin aku bilang sama Safa memang dan berencana untuk memberikan Asi pada putramu. Otomatis putriku dan putramu adalah saudara persusuan dan nanti dari kecil harus dikasih tahu."
"Iya aku paham tentang itu aku kasihan dia belum mendapatkan ASI sama sekali dari ibunya,"katanya pada Ariel.
Oke, terimakasih, Ariel, Assalamualaikum," ucap Rio
"Sama-sama, Wa'alaikumsalam," jawab Aril.
"Mi, kita sudah dapat Asinya nanti sore akan dikirim ke sini," kata Rio.
"Syukurlah kalau begitu, masih ada tugas lain yang harus kau selesaikan Rio. Kau belum memberi nama pada putramu putramu," kata bu Mutia pada Rio
"Ya, Mi aku tahu saat ini hatiku belum tenang nih mungkin besok aku akan memberi nama dia," kata Rio.
__ADS_1
Kalau bisa secepatnya ya, Yo kasihan putramu kalau belum dikasih nama kata," kata mami padaku.
"Baik Mi," kata Rio
"Apa dari tadi tidur terus Mam?aku ingin melihatnya dalam keadaan bangun kata Rio
Mami tertawa. "Tadi itu sudah bangun waktu kamu berangkat kerja sekarang dia tidur lagi.
"Kamu curang Dek, Daddy mau lihat kamu saja, kamu tidur. Daddy kerja kamu bangun besok jadi tungguin ya, kamu harus bangun," kata Rio
Mutia hanya tertawa.
"Mi boleh gendong, kata Rio pada Maminya
"Nanti Yayuk kalau anaknya sudah bangun kasihan nih dia sudah tidur pulas kalau kamu mau ambil dan kamu gendong dia bangun lagi," kata Mutia
"Mah nanti box adik ditaruh di kamarku ya biar biar aku bisa merawatnya sendiri dan bisa dekat dengan anakku," kata Rio pada maminya.
"Ya, tunggu dia bangun dulu ya yo kasihan nih dia baru bisa tidur kamu tahu sendiri kemarin malam tuh rewel sekali. kasihan kalau dia dipindah ini baru bisa tidur dengan pulas Yo," kata Mami.
"Iya nggak papa Mam Rio nunggu dia bangun baru nanti ditaruh di kamar
Rio," kata Rio.
"Mam Rio berharap Mami tidak memaksa Rio untuk menikah lagi setelah ini karena Rio ingin fokus membesarkan anak Rio, tolong Mami dan Papi tidak lagi memaksa Rio untuk menikah, Rio sudah memberikan Mami dan Papi cucu jadi tolong beri ruang padaku untuk sendiri lebih dulu, jangan karena putrakunyang kehilangan ibunya, Mami akan menyadorkan wanita lain kepada ku, aku tidak mau, ini yang ingin aku tegaskan ke mami dan tolong kasih tahu Papi," Kata Rio sambil melangkah dalam kamarnya.
'Terserah kamu nak Mami juga tidak lagi memaksamu, cukup sekali saja kau tersiksa batin, mulai saat ini kami akan menerima keputusan apapun yang kamu buat tak akan pernah memaksamu lagi,' gumam dalam hati.
__ADS_1
"Cucu nenek yang tampan buat ayahmu tersenyum setiap saat yaa. Warnailah hidupnya dengan kelucuanmu, hingga dia lupa dengan penderitaannya sendiri," kata Mutia pada cucunya yang masih bayi yang tidak pernah bisa mengerti apa yang dikatakannya tapi perasaannya begitu lega ketika dia mengungkapkan pada sang cucu yang tertidur lelap.
Rio bio di kamar kerjanya tengah memeriksa keuangan perusahaan, sambil menunggu sang anak untuk bangun, rasanya ia tidak sabar untuk bisa memeluk sang putra, dia fokus dengan pekerjaannya kembali, belum ada rencana Apa yang harus dilakukan setelah ini tetapi yang pasti, ia sudah tidak bisa menempati rumah yang ditempati bersama dengan Jasmine karena di sanalah terlalu banyak kenangan untuknya yang mungkin akan membuat luka hatinya.